
Opini - Bekerja dengan Hati, Menggerakan dengan Bukti
(235 Menit Bersama Kepala Sekolah SMAN 1 Pacar-Manggarai Barat)
Oleh: Gusty Rikarno, S.Fil.,M.I.Kom
Pejalan Sunyi Literasi NTT
gubukinspirasi.id Bumi Nusantara sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Duka akibat gempa flores belum sepenuhnya pulih.
Jeritan warga, puing-puing bangunan yang hancur, serta proses pendataan masyarakat terdampak masih terus berjalan di tengah keterbatasan.
Pendistribusian bantuan merayap lambat namun pasti, mencoba menyapa jemari mereka yang kehilangan tempat bernaung. Pada saat yang sama, raungan alam seolah bersahut-sahut tanpa henti.
Gunung Anak Krakatau, Gunung Lewotolok, Gunung Lewotobi, hingga Gunung Semeru ikut bergetar dahsyat, memuntahkan material vulkanik ke angkasa.
Langit Indonesia mencekam, beberapa bandara udara penerbangan domestik maupun internasional terpaksa ditutup total. Indonesia seakan-akan dipaksa berlutut dalam sebuah cengkeraman kolektif bernama “darurat gempa dan krisis ekologis”.
Namun, dalam kacamata filsafat eksistensial, krisis tidak pernah hadir sekadar sebagai peristiwa alam yang netral. Bencana adalah cermin telanjang yang menembus batas-batas ilusi kehidupan manusia. Ia memaksa kita mengevaluasi apa yang sungguh-sungguh berharga dan apa yang sekadar hiasan periferal.
Di tengah situasi yang penuh dengan instabilitas dan kecemasan ini, sebuah kebenaran fundamental mengemuka. Tidak boleh ada yang disia-siakan.
Waktu yang terus bergulir, peluang yang terbentang tipis, dan pengalaman bermakna yang hadir di depan mata harus ditangkap dengan kesadaran penuh. Semuanya harus dinikmati, diolah, dan dimaknai sejauh dan semaksimal mungkin.
Sebagai seorang pejalan sunyi di lorong literasi, jalan yang kerapkali sepi dari liputan kamera dan kehebohan selebrasi, ikhtiar saya tetap tunggal.
Di tengah kecenderungan manusia modern yang makin apatis dan terasing (alienated), saya memilih untuk menyemaikan benih-benih rasa sensitif, optimisme, dan kepedulian sosial.
Literasi, dalam pengertiannya yang paling autentik, bukanlah sekadar kemampuan teknis mengeja huruf, membubuhi tanda baca, atau merangkai susunan kata. Literasi adalah tindakan kebudayaan. Ia adalah sarana untuk membaca realitas sosial, merawat empati, dan menyuarakan kemanusiaan.
Dalam konteks itulah, narasi harus diletakkan pada posisi yang tepat dan jernih. Sebuah gagasan harus disampaikan secara utuh agar tidak melahirkan ruang-ruang interpretasi liar yang menyedot energi batin.
Kita tidak boleh membiarkan masyarakat terjebak dalam prasangka, berpikir bias, apalagi mengambil tindakan yang salah arah akibat kesalahpahaman narasi.
Kesadaran inilah yang membawa langkah kaki saya menembus keheningan daratan Flores, menuju sebuah wilayah yang jauh dari pusat keramaian birokrasi pendidikan: SMAN 1 Pacar di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Saya memutuskan untuk tidak berbalik arah. Jalan sunyi literasi Nusa Tenggara Timur adalah medan juang yang walau penuh dengan keterbatasan fasilitas dan tantangan geografis, harus terus dilalui.
Keputusan ini menemukan ruang perjumpaannya ketika saya bertatap muka dengan Pak Yufentus Panok, S.Pd.,Gr, Kepala Sekolah SMAN 1 Pacar.
Dua orang pejalan dengan gelombang frekuensi yang sama bertemu di satu titik kesadaran bahwa pendidikan tidak boleh berhenti bernapas hanya karena dunia di luarnya sedang mengalami krisis.
Bersama beberapa orang guru, kami duduk dan berdiskusi. Bukan untuk sekadar bertukar basa-basi diplomatis, melainkan untuk berpikir mendalam, merancang strategi kebudayaan, dan mengeksekusi sebuah gerakan nyata.
Workshop Literasi Berbasis Asesmen Bakat dan Minat Menulis. Kami sadar betul bahwa di tengah situasi bangsa yang tidak baik-baik saja, menghadirkan sebuah gerakan literasi yang substantif adalah bentuk perlawanan terbaik terhadap keputusasaan. Kami tidak ingin bercanda dengan waktu.
Selama tiga hari kegiatan yang intensif, puluhan perwakilan peserta didik dan para guru didampingi secara metodologis. Pendekatan yang kami gunakan berakar kuat pada kaji realitas empiris.
Para guru diajak untuk menulis berbasis pengalaman mengajar (pedagogical lived experience). Guru tidak diminta mendikte teori-teori pendidikan yang mengawang-awang, melainkan merefleksikan kembali pergumulan, dinamika, tantangan, dan keajaiban-keajaiban kecil yang mereka alami di dalam ruang kelas setiap hari.
Praktik baik (best practice) yang selama ini hanya menguap menjadi memori kolektif kini diikat dalam bentuk teks. Sementara itu, peserta didik diarahkan menulis berdasarkan asesmen bakat dan minat. Kami percaya bahwa setiap anak membawa keunikannya masing-masing.
Menulis tidak boleh dipaksakan sebagai beban akademis yang menyeragamkan pikiran, melainkan dialirkan sebagai sarana ekspresi jiwa yang berakar pada minat dasar dan bakat alami mereka.
Dari proses dialektis selama tiga hari tersebut, lahir sebuah komitmen kolektif yang kokoh: melahirkan sebuah produk literasi nyata berupa dua buah “buku antologi” untuk guru dan peserta didik.
Ini adalah bukti konkret bahwa di tengah kepungan krisis ekologis dan isolasi geografis, daya cipta manusia tidak pernah bisa dipenjara.
Kami membuktikan bahwa ketika niat dihadirkan dari kedalaman jiwa, waktu yang singkat mampu melahirkan warisan intelektual yang abadi.
Di ruang kerja Pak Yuvens, di tengah tumpukan berkas dan kesederhanaan fasilitas sekolah pedalaman, mata saya tertambat pada sekumpulan kata yang tertulis dengan bersahaja namun memancarkan daya magis yang kuat: “Bekerja dengan Hati, Menggerakkan dengan Bukti.”
Secara sosiologis dan filosofis, frasa ini bukan sekadar pajangan dinding yang klise atau jargon birokrasi yang kosong. Kalimat ini adalah sebuah manifesto. Ia tidak hanya antik secara estetika, tetapi juga “bergizi” secara intelektual.
Frasa ini sangat menarik untuk "dikunyah" dan dibedah lebih lanjut. Bagaimana mungkin seorang kepala sekolah di daerah terpencil mampu menggerakkan seluruh potensi tersembunyi yang ada di dalam hati dan pikiran warga sekolahnya?
Jawabannya terletak pada dialektika antara dua kata kunci tersebut. Hati dan Bukti. Dalam konsep kepemimpinan konvensional, rasionalitas teknokratis sering kali mendominasi.
Pemimpin hanya fokus pada capaian angka, target kurikulum, dan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) administratif. Akibatnya, hubungan kerja menjadi sangat mekanis, dingin, dan alienation (mengasingkan).
Namun, Pak Yufens mengambil jalan yang berbeda. Ia menjadikan "hati" sebagai fondasi awal. Pikiran rasional tidak berjalan sendirian; ia menggandeng hati untuk bekerja melampaui standar-standar biasa (beyond the standard).
Selama 235 menit saya duduk di ruang kerjanya, suasana mengalir begitu alami. Tidak ada sekat formalitas yang kaku. Ia berbagi cerita apa adanya, mengalir tanpa jeda, dan berbicara jujur dari kedalaman batin.
Dalam durasi 235 menit yang sangat bernilai itu, terhampar jejak perjalanan empat tahun kepemimpinannya di SMAN 1 Pacar. Prinsip filosofis paling utama yang ia tekankan adalah kebersamaan.
Sebagai pemimpin, langkah pertamanya bukan memaksakan kehendak (top-down authority), melainkan menyerap energi positif yang dimiliki oleh seluruh elemen sekolah baik para guru, pegawai tata usaha, hingga para peserta didik.
Ia memosisikan dirinya bukan sebagai penguasa lembaga, melainkan sebagai penampung aspirasi dan pengolanya menjadi energi kebaikan.
Setelah energi internal terkonsolidasi, Pak Yufens bergerak ke luar. Ia tidak mengurung sekolah dalam tembok-tembok eksklusivisme. Ia membuka jendela dan pintu SMAN 1 Pacar selebar-lebarnya untuk mengundang "energi semesta" hadir.
Energi semesta ini berwujud dalam bentuk kemitraan strategis yang hidup dan berkelanjutan dengan pelbagai pemangku kepentingan (stakeholders).
Orang tua murid dan alumni membangun rasa memiliki kolektif terhadap masa depan anak-anak, lembaga keagamaan (gereja) merawat fondasi moral dan spiritual warga sekolah, petugas kesehatan dan kepolisian menjamin kesejahteraan fisik, kesadaran hukum, dan keamanan lingkungan belajar.
Sementara itu, pegiat literasi dan persn membuka akses jaringan pengetahuan dan publikasi karya serta pemerintah yang dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, memastikan arah kebijakan sekolah selaras dengan koridor pembangunan daerah.
Beliau menyapa mereka semua bukan dengan bahasa birokrasi yang dingin, melainkan dari hati ke hati. Ia menawarkan sebuah ajakan kolaborasi yang tulus: bekerja dalam satu nafas perjuangan yang sama, yaitu bekerja sama dan sama-sama bekerja.
Hasil dari filosofi kepemimpinan berbasis hati dan bukti ini tidak tanggung-tanggung. Transformasi yang terjadi di SMAN 1 Pacar mewujud secara kasat mata, baik dalam ranah pembangunan fisik, capaian akademik, maupun dalam bentuk lahirnya produk-produk karya ilmiah dan literasi.
Dalam ruang sosiologi organisasi, keberhasilan ini bisa terjadi karena adanya pembagian peran yang berbasis pada kepercayaan (trust-based management).
Selain menjalankan tugas pokok mengajar dan mendidik, para guru diajak untuk duduk bersama, membedah realitas, dan mendesain program-program kerja yang terukur, terarah, serta berdampak nyata bagi siswa.
Setiap warga sekolah diberi "ruang kepercayaan" yang aman untuk mengeksplorasi potensi terbaik mereka. Dalam ekosistem yang sehat ini, lahir sebuah etika kerja baru.
Dilarang menghabiskan energi untuk mengintervensi program kerja rekan sejawat. Energi organisasi tidak boleh terkuras habis untuk intrik-intrik internal, sikap pesimistis, iri hati, apalagi tindakan yang menghalangi kemajuan orang lain. Yang ada hanyalah budaya saling mengapresiasi, mendukung, dan melengkapi.
Efeknya sangat dahsyat. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, SMAN 1 Pacar yang dulunya mungkin dipandang sebelah mata di peta pendidikan Nusa Tenggara Timur, perlahan-lahan bertumbuh menjadi sekolah kebanggaan masyarakat. Transformasi ini menghadirkan perubahan psikologis-sosial yang mendalam.
Semua orang mulai dari penjaga sekolah, siswa, guru, hingga masyarakat sekitar, merasa memiliki (sense of belonging) dan merasa bangga menjadi bagian dari proses pertumbuhan sekolah ini.
Waktu berjalan, dan SMAN 1 Pacar kini berada di ambang perayaan usianya yang ke-13. Angka 13 bukan sekadar penanda kronologis, melainkan sebuah simpul kedewasaan organisasi.
Dalam momen reflektif itu, Pak Yufens berdiam sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam. Sebuah gestur tubuh yang memancarkan rasa syukur mendalam atas penyelenggaraan Ilahi dan kelimpahan energi semesta yang mendampingi perjuangannya.
Pada saat yang sama, hembusan nafasnya mengisyaratkan sebuah komitmen utuh untuk terus melangkah lebih jauh, memberikan dampak yang lebih luas, dan menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering.
Untuk memastikan transformasi ini terus berlanjut dan tidak berhenti sebagai fenomena sesaat (transient phenomenon), dirumuskan Empat Pilar Strategis yang menjadi pemandu arah perjalanan SMAN 1 Pacar ke depan:
Pertama, konsolidasi internal dan keteladanan nyata. Kebersamaan dengan seluruh warga sekolah adalah jantung perjuangan. Guru, pegawai, dan siswa bukan sekadar objek kebijakan, melainkan "nafas perjuangan" itu sendiri.
Oleh karena itu, pilar pertama ini ditegakkan melalui: 1), keteladanan nyata. Pemimpin dan tenaga pendidik memberi contoh konkret dalam tindakan, bukan sekadar kata-kata. 2), transparansi anggaran. Pengelolaan keuangan sekolah dilakukan secara terbuka, akuntabel, dan berorientasi penuh pada kepentingan siswa.
3), pendekatan hati. Penyelesaian konflik internal dilakukan dengan dialog empati, sanubari, dan keikhlasan. 4), evaluasi professional. Setiap kegiatan dinilai secara objektif untuk perbaikan yang terus-menerus.
5), apresiasi potensi. Semua potensi dan bakat unik yang dimiliki warga sekolah diangkat ke permukaan, didukung secara maksimal, dan diberi penghargaan yang layak.
Kedua, kemitraan profesional yang inklusif dan terukur. SMAN 1 Pacar menolak menjadi menara gading yang terasing dari masyarakatnya.
Pintu gerbang sekolah dibuka selebar-lebarnya untuk membiarkan energi positif dari luar masuk dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan pikiran, iman, karakter, serta bakat-minat peserta didik.
Namun, Pak Yuvens memberikan catatan kritis yang sangat penting: kemitraan yang dibangun harus bersifat profesional, memiliki indikator keberhasilan yang jelas, serta terarah. Ia bukan sekadar relasi patron-klien atau atas dasar kedekatan emosional subjektif semata.
Ketiga, komunikasi sektoral dan integrasi kebijakan. Sekolah berkomitmen membangun jaringan komunikasi yang hidup dan dinamis dengan pihak pemerintah serta lembaga pendidikan lainnya lintas jenjang seperti sinergi kebijakan pemerintah seperti Genta Belis, OSOP, dan berbagai program inovasi pendidikan lainnya diserap dan didukung penuh melalui kerja-kerja kreatif yang berdampak nyata.
Selain itu, keseimbangan lintas jenjang dengan komunikasi intensif terus dipupuk dengan sekolah tingkat dasar (SD), menengah pertama (SMP), hingga Perguruan Tinggi.
Hal ini bertujuan untuk menciptakan kesinambungan kurikulum dan pendampingan potensi generasi muda secara holistik sejak dini hingga memasuki dunia perguruan tinggi atau kerja.
Keempat, kepemimpinan adaptif dan kreativitas tanpa henti. Seorang pemimpin pendidikan sejati tidak boleh terjebak dalam zona nyaman atau cepat puas dengan hasil yang telah dicapai.
Kepemimpinan adalah sebuah proses menjadi (process of becoming) yang tidak pernah selesai. Pak Yuvens menegaskan komitmennya untuk menghadirkan figur pimpinan yang utuh: 1), pemimpin di depan (ing ngarsa sung tuladha), memberikan arah, visi, dan keteladanan moral.
2), pemimpin di samping (ing madya mangun karsa), menjadi rekan berjalan, merawat semangat, dan membangun kerja sama setara. 3), pemimpin di belakang (tut wuri handayani), memberikan dorongan, kepercayaan, dan ruang bertumbuh bagi anak buah serta siswa-siswanya.
Refleksi selama 235 menit di ruang kerja Kepala Sekolah SMAN 1 Pacar akhirnya sampai pada muaranya. Di tengah gemuruh Gunung Lewotobi yang bergetar di kejauhan, dan di tengah kepungan krisis bangsa yang serba tidak pasti, dari sebuah titik kecil bernama Puing-Noa di Manggarai Barat, kita diajak untuk melihat secercah cahaya harapan.
Pendidikan sejatinya bukanlah tentang megahnya gedung-gedung beton atau canggihnya fasilitas teknologi semata, melainkan tentang kehadiran jiwa.
Ketika seorang pemimpin memilih untuk bekerja dengan hati, ia sedang menanam benih-benih kemanusiaan yang paling dalam. Dan ketika ia membuktikannya melalui karya-karya nyata, ia sedang membangun monumen peradaban yang tak akan runtuh oleh guncangan zaman.
Sebagai pejalan sunyi literasi, saya menilai kisah ini menegaskan kembali keyakinan batin saya bahwa perubahan sejati tidak selalu lahir dari ruang-ruang rapat birokrasi yang megah di ibu kota.
Perubahan autentik sering kali bertunas secara sunyi dari ruang-ruang kelas yang bersahaja, di mana para guru dan muridnya memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
SMAN 1 Pacar telah membuktikan bahwa di tengah keterbatasan dan situasi darurat sekalipun, pikiran yang digandeng oleh hati mampu menggerakkan gunung-gunung kesadaran.
Menjelang usianya yang ke-13, SMAN 1 Pacar bukan lagi sekadar tempat belajar mengajar, melainkan telah menjelma menjadi rumah persemaian budi pekerti, laboratorium literasi hidup, dan benteng harapan bagi masa depan Nusa Tenggara Timur dan Indonesia.
Semoga langkah sunyi ini terus bergema, menembus batas-batas wilayah, dan menginspirasi siapa saja yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk memanusiakan manusia. Profisiat dan selamat ULTAH ke-13 SMAN 1 Pacar. (*)
Ikuti opini gubukinspirasi.idlain di GOOGLE NEWS
0 Komentar