
Festival Tari Dug Dug Der Semarangan Pecahkan Rekor Dunia
Ribuan warga memadati Lapangan Pancasila Simpanglima, Kota Semarang, pada Minggu (9/8/2026) pagi, untuk mengikuti Tari Dug Dug Der. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat dari berbagai latar belakang, yang mengenakan busana bernuansa tradisional.
Para perempuan mengenakan atasan baju tradisional encim warna putih yang dipadukan dengan selendang merah dan bawahan batik semarangan, sedangkan para laki-laki mengenakan atasan putih, lilit kain batik semarangan membalut celana, serta iket semarangan di kepala. Mereka terlihat antusias dalam mengikuti tarian bersama yang berlangsung sekitar pukul 08.30.
Tari Dug Dug Der yang digelar oleh Pemkot Semarang berhasil memecahkan rekor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid), yakni Festival Tari Dug Dug Der Semarangan dengan 25.000 peserta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-81 RI yang diselenggarakan Pemkot Semarang.
Pengalaman Peserta
Amel, siswi kelas XI SMKN 6 Semarang, mengaku senang bisa ikut ambil bagian dalam Tari Dug Dug Der. Terlebih dia mendapat kesempatan untuk menari bersama-sama mewakili sekolah. "Perasaan setelah menari Dug Dug Der seru sih. Soalnya kan kita juga nari bareng-bareng, pertama kali juga mewakili sekolah," kata Amel.
Untuk mengikuti kegiatan tersebut, Amel mengaku bahkan harus mempersiapkan diri sejak pagi. Dia berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00. Persiapan untuk menampilkan Tari Dug Dug Der terbilang singkat. Amel hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk mempelajari gerakan tarian tersebut.
Dari SMKN 6 Semarang, terdapat sekitar 20 siswa yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. "Yang pertama itu dikirimin video terus disuruh belajar sendiri terus baru dicoba bareng-bareng di sekolah," katanya.
Meski hanya dipelajari dalam waktu singkat, gerakan Tari Dug Dug Der menurut mereka cukup mudah untuk diikuti. Tarian yang dilakukan bersama juga tidak berlangsung lama. Para peserta hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk menuntaskan rangkaian gerakan Tari Dug Dug Der.
Pandangan dari Sanggar Seni
Senada dengan Amel, Yusuf Al Fatih, dari Sanggar Sobokartti juga menilai, gerakan dan koreografi tari tersebut cukup mudah untuk diikuti. Menurut Yusuf, salah satu hal yang membuat Tari Dug Dug Der mudah dipelajari adalah pola gerakannya yang dilakukan secara berulang. Dengan demikian, para penari dapat lebih cepat menghafal dan mengikuti keseluruhan koreografi.
"Gerakannya, koreonya sebenarnya gampang, soalnya diulang-ulang," ujar Yusuf. Yusuf bersama anggota Sanggar Sobokartti juga mengikuti pembuatan video Tari Dug Dug Der untuk lomba sehingga mereka sudah lebih dulu latihan.
Untuk menguasai koreografi tari tersebut, Yusuf menyebut, proses latihan tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Para penari diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima hari untuk berlatih dan menghafalkan gerakan.
Antusiasme anggota Sanggar Sobokartti dalam mengikuti kegiatan tersebut juga dinilai sangat baik. Yusuf menyebut, para peserta bahkan telah datang sejak pukul 06.00 WIB. Dari Sanggar Sobokartti, sekitar 40 orang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Partisipasi Berbagai Kalangan
Berdasarkan data Pemerintah Kota Semarang, Tari Dug Dug Der diikuti 25.000 peserta. Peserta terdiri atas perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), BUMD, kecamatan, kelurahan, SMP negeri dan swasta, SMA/SMK negeri dan swasta, sanggar seni, komunitas, dan asosiasi di Kota Semarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, Festival Tari Dug Dug Der Semarangan merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-81 RI yang diselenggarakan Pemkot Semarang. Di sisi lain, kegiatan itu sekaligus menjadi ajang perkenalan Tari Dug Dug Der Semarangan sebagai identitas budaya baru Kota Semarang yang terinspirasi dari tradisi dugderan.
"Jadi budaya yang sudah hidup di Kota Semarang selama sekian ratus tahun itu ingin kita pertahankan dengan cara mengumpulkan menjadi satu," ucapnya.
0 Komentar