
Ringkasan Berita:
- Speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga kru di perairan Selat Sunda hilang pada Senin (7/9/2026).
- Lima jurnalis hendak menuju Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan.
- Pemilik Speedboat, Sandi Wiyasa memastikan kondisi mesin kapal yang membawa lima jurnalis menuju Gunung Anak Krakatau dalam keadaan baik.
gubukinspirasi.idKabar hilangnya kontak kapal Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga kru di perairan Selat Sunda, diceritakan oleh pemilik armada.
Sandi Wiyasa memastikan, kondisi mesin kapal yang akan membawa lima jurnalis menuju Gunung Anak Krakatau dalam keadaan baik sebelum bertolak pada Senin (7/9/2026).
Rombongan diketahui bertolak menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) pukul 14.00 WIB untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Memasuki hari keempat operasi pencarian pada Jumat (11/9/2026), penyisiran masih difokuskan di sekitar Pulau Sertung dan Pulau Rakata. Kemudian, diperluas hingga ke wilayah perairan Pulau Sebesi.
Pulau Sertung merupakan sebuah pulau yang terletak di Selat Sunda yang memisahkan antara Pulau Sumatra dengan Pulau Jawa.
Dalam Program Saksi Kata yang tayang di kanal YouTube Tribun Cirebon, Sandi Wiyasa menceritakan momen pertama kali mengetahui kapal miliknya hilang kontak.
Menurut Sandi, dirinya mengetahui informasi tersebut setelah dikirim sebuah foto kapten kepadanya untuk memastikan identitas.
Di sisi lain, pihak keluarga disebut tengah mencari keluarganya dan masih menunggu kepulangannya.
"Dari orang lain itu (taunya), jadi orang lain itu dari Kapolsek kirim foto ke saya bahwa kenal enggak sama orang ini. Dia kirim foto kapten saya. Oh iya ini Warta, kapten saya. Kenapa, Pak? Saya telepon."
"Oh katanya ini ada apa namanya? Dia bawa tamu ke Krakatau dari kemarin. Ini belum pulang. ini keluarganya nyariin nungguin seperti itu," ucapnya, dikutip pada Jumat (11/9/2026).
Sandi Wiyasa mengaku, sempat menduga kapal belum kembali karena menginap, rombongan belum mendapatkan waktu yang tepat untuk mengambil gambar.
"Saya pun berpikir oh mungkin karena tidak dapat apa tidak dapat gambar yang bagus mungkin menginap gitu kan."
"Karena awalnya saya tanya ke istrinya guide itu bahwa dia cuman one day tour ya kan. Nah, setelah belum pulang itu saya bilang mungkin kemungkinan dia itu apa namanya tidak dapat timing yang bagus untuk motret mungkin inap," ceritanya.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya ada kapal yang kembali dari arah Krakatau.
Namun, mereka tidak bertemu dengan kapal Arupadhatu 1.
"Nah, kita tunggu tunggu sampai jam 2. Akhirnya ada kapal juga yang pulang dari Krakatau. Saya tanya 'apakah di sana ketemu dengan kapal Arupadhatu satu?' Dia dia menjawab tidak," ucapnya.
Dari situ, koordinasi dilakukan dengan Basarnas.
"Nah, di situ barulah kita ke Basarnas. Basarnas memang ada waktu itu ada di sebelah ada di Marina. Akhirnya masyarakat langsung menurunkan kapal langsung mencari," terang Sandi.
Dalam kesempatan berbeda, Sandi Wiyasa juga telah memastikan kapal pembawa lima jurnalis menuju Gunung Anak Krakatau dalam kondisi layak jalan sebelum berangkat pada Senin (7/9/2026).
Sandi menjelaskan, speedboat berukuran panjang sekitar 7 meter dan lebar 2,2 meter itu, menggunakan dua mesin atau double engine.
Kapal itu juga dilengkapi dengan jaket pelampung bagi para penumpang sebelum berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau
"Layak, masih layak jalan. Kita setiap tahun ada izinnya juga untuk kontrol dari syahbandar," kata Sandi saat ditemui di Posko SAR Terpadu di Marina Carita, Rabu (9/9/2026), dilansir TribunBanten.com.
Sandi lantas menyebut, Arupadhatu 1 memang biasa digunakan untuk perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau maupun Ujung Kulon.
Bahkan, sebelum membawa rombongan jurnalis, kapal tersebut baru saja kembali dari perjalanan menuju Ujung Kulon.
Ia menjelaskan, penggunaan dua mesin membuat kapal masih dapat bergerak apabila salah satu mesin mengalami gangguan.
"Kalaupun misalnya kerusakan mungkin hanya ada satu, satu pasti hidup. Pengalaman kita enggak semuanya mati," ujarnya.
Namun, Sandi mengakui speedboat tersebut tidak dilengkapi perangkat radio komunikasi.
Selama perjalanan, komunikasi hanya mengandalkan telepon seluler.
"Enggak ada. Kita hanya dari handphone saja," katanya.
Sandi mengaku, baru mengetahui kapal tersebut hilang kontak setelah mendapat informasi dari Kapolsek pada Selasa (8/9/2026) siang.
Saat itu, polisi menanyakan kepada Sandi apakah dirinya mengenal kapten kapal yang membawa rombongan jurnalis dan belum kembali ke daratan.
"Saya langsung dengan Kapolsek ke sini, ke Marina, ke Basarnas," ujarnya.
Setelah mendapat informasi tersebut, Sandi bersama sejumlah pihak sempat melakukan pencarian secara mandiri.
Mereka menghubungi sejumlah warga dan penjaga di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk mencari informasi mengenai keberadaan kapal.
Komunikasi juga dilakukan dengan warga Pulau Sebesi hingga wilayah Lampung.
Namun, hingga Rabu (9/9/2026), belum ada informasi mengenai keberadaan speedboat Arupadhatu 1 maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
"Kalau sementara belum ada," kata Sandi ketika ditanya mengenai laporan nelayan yang melihat kapal tersebut.
Sandi juga memperkirakan, speedboat tersebut seharusnya sudah kembali ke daratan pada Senin sore apabila perjalanan hanya dilakukan untuk keperluan peliputan.
Menurutnya, perjalanan wisata dari Carita menuju kawasan Krakatau dan kembali ke daratan biasanya membutuhkan waktu lebih lama karena terdapat sejumlah aktivitas, seperti trekking, snorkeling, hingga makan siang.
Sementara rombongan jurnalis hanya melakukan pengambilan gambar sehingga diperkirakan dapat kembali lebih cepat.
"Harusnya sudah datang ke sini sekitar jam 5 atau jam 6," ujarnya.
Hingga kini, tim SAR gabungan terus melakukan pencarian speedboat yang membawa delapan orang di dalamnya itu.
Berdasarkan data resmi yang dihimpun, terdapat lima jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional yang berada di dalam kapal tersebut:
- M Bagus Khoirunnas (Jurnalis Antara)
- Ari Basuki (Jurnalis Merdeka.com)
- Yudhis (Jurnalis iNews)
- Daus (Jurnalis Anadolu Agency)
- Donal (Jurnalis Freelance)
Selanjutnya, tiga awak kapal dan pemandu, yaitu Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, serta Heriyanto (49) sebagai guide.
(gubukinspirasi.id/Suci Bangun DS, gubukinspirasi.id/ Wahyu Aji, TribunBanten.com/Misbahudin)
0 Komentar