Perjuangan Superman Is Dead demi bisa manggung, rela gonta-ganti naik kendaraan umum antar pulau

Ringkasan Berita:
  • SID tetap mengejar konser di Lembongan meski Bandara Soekarno-Hatta ditutup akibat erupsi Krakatau.
  • Tempuh perjalanan darurat 24 jam dengan berpindah dari mobil → kereta Gambir-Jogja → pesawat Solo-Bali → boat menuju Lembongan.
  • Rombongan SID harus bongkar-muat bagasi berulang kali dan menghadapi perjalanan yang menegangkan demi memenuhi jadwal konser.

gubukinspirasi.id - Penutupan Bandara Soekarno-Hatta akibat erupsi Krakatau sempat membuat perjalanan Superman Is Dead (SID) menuju panggung berikutnya menjadi serba mendadak.

Namun, kondisi tersebut ternyata tidak membuat band asal Bali itu membatalkan jadwal penampilan mereka di Pulau Lembongan.

Bukannya menyerah karena akses penerbangan terganggu, Superman Is Dead justru memilih mencari jalur alternatif.

Mereka rela menjalani perjalanan panjang dengan kombinasi darat, udara, hingga laut demi memastikan konser di Lembongan tetap berjalan.

Cerita perjalanan darurat tersebut dibagikan melalui akun Instagram @sid_official.

Dalam unggahan itu diceritakan, perjalanan SID bermula setelah mereka tampil dalam konser di Sukabumi.

Usai menyelesaikan pertunjukan, mereka langsung harus mengejar jadwal konser berikutnya di Pulau Lembongan.

Masalah muncul setelah Bandara Soekarno-Hatta ditutup akibat erupsi Krakatau.

Kondisi tersebut membuat rencana perjalanan mereka harus berubah total.

SID pun langsung berburu tiket baru. Mereka mencari tiket kereta dari Gambir menuju Yogyakarta, kemudian mendapatkan tiket pesawat dari Solo menuju Bali.

Perjalanan itu disebut cukup menegangkan karena harus dilakukan dengan waktu yang ketat.

Bukan sekadar berpindah kendaraan, rombongan SID juga harus melakukan proses bongkar muat barang berkali-kali.

Bagasi yang sebelumnya berada di mobil harus dipindahkan ke kereta api.

Setelah perjalanan menggunakan kereta selesai, barang kembali dipindahkan untuk melanjutkan perjalanan dengan pesawat.

Setibanya di Bali, perjalanan ternyata belum berakhir.

Rombongan masih harus menggunakan boat menuju Lembongan.

Dengan demikian, perjalanan SID untuk mengejar konser kali ini benar-benar menjadi perjalanan lintas moda transportasi.

Semua dilakukan dalam kondisi darurat demi mengejar satu tujuan, memastikan pertunjukan di Lembongan tetap berlangsung.

Dalam unggahannya, perjalanan tersebut bahkan digambarkan sebagai perjalanan yang tidak nyaman selama sekitar 24 jam, melintasi jalur darat, udara, dan laut.

Bagi sebuah band yang harus berpindah kota dari satu panggung ke panggung lain, perjalanan seperti ini tentu bukan hal sederhana.

Apalagi mereka tidak hanya membawa personel, tetapi juga harus mengatur perpindahan barang dan bagasi di setiap titik perjalanan.

Namun, Superman Is Dead memilih untuk tetap berusaha mencari solusi.

Ketimbang menyerah karena penerbangan dari Jakarta terganggu, mereka memutar otak dan menyusun kembali rute perjalanan dari awal.

Dari Sukabumi, mereka mengejar kereta dari Gambir menuju Yogyakarta. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat dari Solo ke Bali.

Sesampainya di Bali, masih ada perjalanan laut sebelum akhirnya tiba di Lembongan.

Kisah tersebut menunjukkan bagaimana jadwal manggung bagi sebuah band tidak selalu berjalan mulus.

Gangguan penerbangan bisa saja membuat seluruh rencana berantakan. Namun dalam kasus Superman Is Dead, pilihan yang diambil adalah mencari alternatif sebanyak mungkin.

Perjalanan darurat tersebut pun menjadi bagian tersendiri dari cerita di balik panggung mereka.

Bukan perjalanan nyaman dengan satu kali penerbangan, melainkan perjalanan panjang yang mengharuskan mereka berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya.

Semua dilakukan karena mereka tetap ingin memenuhi jadwal konser di Pulau Lembongan.

Aksi Superman Is Dead ini pun menjadi sorotan karena menunjukkan perjuangan mereka untuk tetap menuju lokasi pertunjukan meski situasi penerbangan sedang terganggu akibat erupsi Krakatau.

Sementara itu, nama Juicy Luicy juga sempat ikut dibandingkan dalam pembicaraan soal perjalanan para musisi di tengah kendala transportasi.

Namun, dalam cerita perjalanan SID yang dibagikan kali ini, yang paling terlihat jelas adalah keputusan mereka untuk tetap berangkat dengan mencari jalur alternatif.

Dari mobil, pindah ke kereta, berganti pesawat, lalu menyeberang menggunakan boat.

Perjalanan panjang itu akhirnya menjadi bukti bahwa di balik sebuah pertunjukan musik, ada perjuangan panjang yang kadang tidak terlihat oleh penonton.

(gubukinspirasi.id)

0 Komentar