
gubukinspirasi.id - Dugaan keracunan makanan usai santap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi lagi pada Jumat 11 Spetember 2025.
Kali ini, ratusan murid dari tiga sekolah dasar (SD) di Lombok Tengah dilarikan ke sejumlah puskesmas karena mengalami gejala khas keracunan makanan, di antaranya pusing, mual, muntah, nyeri pada mulut atau perut, lemas, sesak napas, hingga diare.
Total ada 352 murid yang dibawa ke berbagai puskesmas.
Dikutip dari Tribunlombok.com, MBG disajikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu di bawah naungan Yayasan Budi Sain Mangkling.
Menu MBG mulai diantarkan ke sejumlah sekolah pada pukul 08.15 WITA, kemudian mulai dibagikan kepada penerima manfaat pada pukul 09.00 WITA.
Tidak lama berselang, keluhan atau gejala mulai dirasakan oleh para penerima manfaat dalam rentang waktu antara pukul 09.10 hingga 12.15 WITA atau sekitar satu jam setelah makanan mulai dikonsumsi.
Adapun menu MBG yang disalurkan pada hari kejadian terdiri dari nasi, ayam goreng tepung, sayur, menu cacah, serta roti canai atau sejenisnya sebagai pelengkap.
Ratusan murid tersebut kemudian dilarikan ke empat fasilitas kesehatan berbeda.
Puskesmas Pringgarata mencatat jumlah korban terbanyak dengan 144 orang, disusul Puskesmas Aik Darek dengan 124 korban, Puskesmas Mantang dengan 67 korban, dan Puskesmas Bagu dengan 17 korban.
“Dari data awal ada 3 sekolah dan siswanya ini sudah dibawa ke 4 puskesmas yang berbeda,” ucap Kapolresta Lombok Tengah, Kombes Pol Heriyanto saat ditemui di lokasi kejadian.
Saat ini tim Satreskrim Polresta Lombok Tengah sedang melakukan penyelidikan terkait dugaan awal penyebab keracunan ratusan siswa ini.
Heriyanto menghimbau SPPG di Lombok Tengah untuk memperketat pengawasan dan jalur pendistribusian MBG agar hal serupa tidak terulang kembali.
“Dengan kejadian ini kita juga imbau yang jelas para SPPG ini menjalan SOP dan segala aturan yang ada,” tandasnya.
Dinas Kesehatan Investigasi
Tim Surveilans Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah saat ini masih melakukan investigasi epidemiologi untuk mendalami menu yang menjadi sumber kontaminasi.
Dalam kesimpulan sementaranya, tim menegaskan bahwa kejadian ini masih dalam proses investigasi dan pengumpulan data lebih lanjut guna mengetahui hubungan antara konsumsi makanan MBG dengan keluhan atau gejala yang dialami penerima manfaat.
Tim Surveilans Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah menyatakan bahwa laporan ini masih bersifat sementara dan perkembangannya akan disampaikan sesuai hasil pemantauan serta investigasi di lapangan.
Tak Ada Stiker Batas Waktu Laik Makan
Ketua Satgas Program MBG Nusa Tenggara Barat (NTB) Fathul Gani mengungkap temuan terkait kasus keracunan yang menimpa siswa tiga sekolah di Pringgarata, Lombok Tengah.
Gani mengungkap petugas SPPG di Lombok Tengah tidak mencantumkan batas waktu laik makan.
"Tadi tidak dicantumkan stiker batas konsumsi itu tadi saya tegur langsung, saya periksa ompreng tidak dicantumkan di situ, Korcam, Kepala Dapur langsung saya tegur," kata Gani, Jumat (11/9/2026).
Gani mengatakan, hal ini merupakan kelalaian dari pengelola dapur. Apalagi menu yang disajikan rawan basi apabila tidak dikonsumsi dalam rentang waktu ideal.
"Tadi saya lihat menu yang potensi cepat basi," kata Gani.
Gani berharap seluruh pengurus dapur menjadikan insiden tersebut sebagai pelajaran agar tidak terulang lagi.
Untuk sementara waktu izin operasional SPPG Mekar Bersatu dihentikan sampai batas yang tidak ditentukan sembari menunggu kebijakan lebih lanjut dari Badan Gizi Nasional (BGN). (*/tribunmedan.com)
Artikel ini telah tayang di TribunLombok.com
0 Komentar