
Ringkasan Berita:
- Muhammad Yasin Bowo dari Kutai Timur menyerahkan replika gajah seberat 1,5 ton kepada Jokowi di Solo, Jawa Tengah.
- Replika berukuran tinggi 4,10 meter itu menempuh perjalanan 15 hari dari Kalimantan Timur dan sempat mengalami kecelakaan di tanjakan Sarangan.
- Jokowi mengapresiasi pemberian replika gajah yang bertuliskan "menuju Indonesia emas" dan memiliki logo PSI.
gubukinspirasi.id‐Seorang warga Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, Muhammad Yasin Bowo memberikan replika gajah raksasa seberat 1,5 ton untuk Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di rumahnya di Solo, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).
Replika tersebut bukan hanya berukuran besar, tetapi juga membutuhkan perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan Jokowi.
Gajah berwarna kuning emas itu dibawa dari Kutai Timur menuju Solo menggunakan mobil pikap dan menempuh perjalanan selama 15 hari.
Dalam perjalanannya, kendaraan pengangkut replika tersebut bahkan sempat mengalami kecelakaan di tanjakan Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Telan Biaya Rp80 Juta
Gajah raksasa itu memiliki tinggi 4,10 meter, panjang 7 meter, dan lebar 3 meter.
Replika dibuat menggunakan bahan kayu, bambu, serta kertas.
Pada bagian tubuh gajah terdapat tulisan "menuju Indonesia emas".
Replika tersebut juga dilengkapi logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Yasin mengatakan pembuatan replika gajah tersebut membutuhkan waktu sekitar dua bulan.
Total biaya yang dikeluarkan hingga replika tiba di Solo mencapai sekitar Rp80 juta.
"(Proses pembuatannya) sebelum Agustus (proses pembuatan). (Biayanya) kalau sampai sini (Solo) kurang lebih Rp 80 juta," kata Yasin setelah menyerahkan replika gajah raksasa kepada Jokowi di Solo, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).
Alasan Beri Replika Gajah ke Jokowi
Yasin yang menjabat sebagai Ketua Santri Bersatu mengatakan pemberian replika gajah itu merupakan bentuk rasa syukur kepada Jokowi.
Menurut dia, Jokowi telah memberikan ruang dan dukungan terhadap program keagamaan yang diusung para santri, terutama program pembacaan Al Quran secara nasional dalam rangka Hari Santri Nasional.
"Ini bentuk rasa syukur kami. Kami mengajukan program yang sudah berjalan dari 2016 setelah ditetapkan Pak Jokowi Hari Santri Nasional, kami santri bersatu mengajukan program kepada negara didampingi Pak Jokowi diadakannya pembacaan Al Quran secara nasional di Hari Santri Nasional," katanya.
Replika Gajah Dibawa dari Kutai Timur ke Solo
Yasin menjelaskan replika gajah tersebut diangkut menggunakan mobil pikap dari Kutai Timur.
Jarak dari Kutai Timur ke Kota Solo sekitar 1.300–1.400 km melalui jalur darat, sedangkan jarak garis lurus (aerial) lebih pendek, sekitar 1.100 km.
Pada awalnya, perjalanan direncanakan melalui jalur darat dengan memanfaatkan jalan tol.
Namun, rencana tersebut berubah karena kendaraan mengalami overload, yakni kondisi ketika muatan yang dibawa melebihi kapasitas yang seharusnya.
Replika kemudian dibawa melalui jalur laut.
Menurut Yasin, perjalanan dari Kalimantan menuju Solo membutuhkan waktu sekitar 15 hari dan melibatkan dua kali perjalanan menggunakan kapal.
"Bawanya pakai ini (mobil pikap). (Perjalanan) 15 hari sampai sini. Naik kapal dua kali," ujar Yasin.
Sempat Kecelakaan di Sarangan
Perjalanan menuju Solo tidak berjalan mulus. Yasin mengatakan kendaraan yang membawa replika gajah tersebut sempat mengalami kecelakaan ketika melintasi tanjakan Sarangan, Magetan, Jawa Timur.
Kecelakaan terjadi karena kendaraan tidak kuat menanjak.
Yasin juga mengaku tidak hafal seluruh rute perjalanan sehingga mengandalkan Google Maps sebagai panduan.
"Di tanjakan Sarangan goling (terbalik) karena tidak kuat menanjak. Mobil sama replika gajah rusak. Kita benerin di tempatnya Pak Sali Himawan," ucap dia.
Jokowi Senang
Jokowi menerima replika gajah raksasa tersebut dan memberikan apresiasi atas pembuatan serta pemberiannya.
Mantan Presiden RI tersebut bahkan memberikan respons bernada humor ketika melihat replika gajah berwarna kuning emas itu.
"Senang. Gajahnya juga senang, senyum terus," ucap ayah dari Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep ini sambil tertawa. (*)
Sebagian Artikel ini telah tayang di Kompas.com
0 Komentar