Bukan Alat Bisnis, Kadinkes Kaltim Ungkap Fakta Ilmiah Vaksin

Bukan Alat Bisnis, Kadinkes Kaltim Ungkap Fakta Ilmiah Vaksin

Penjelasan tentang Vaksin dan Bahan Kimia yang Perlu Dipahami

Ketakutan terhadap bahan kimia masih menjadi salah satu alasan utama masyarakat menolak vaksinasi. Banyak orang tua lebih mempercayai produk herbal karena dianggap lebih aman dan alami, tanpa menyadari bahwa semua zat di alam sejatinya terdiri dari senyawa kimia.

Salah satu vaksin yang sering disalahpahami adalah vaksin Hexavalent. Vaksin ini merupakan kombinasi yang mampu melindungi bayi dari enam penyakit sekaligus, yaitu difteria, tetanus, pertusis, hepatitis B, polio, dan Haemophilus influenzae tipe b (Hib). Namun, banyak orang masih meragukan manfaatnya karena kurangnya pemahaman tentang komponen-komponen dalam vaksin tersebut.

Pemahaman Tentang Bahan Kimia yang Salah

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, kesalahan pemahaman ini sering terjadi karena masyarakat menganggap semua bahan kimia berbahaya. Padahal, zat-zat yang kita temui sehari-hari seperti air juga termasuk dalam kategori senyawa kimia.

“Air itu kimia. H2O itu rumus kimianya. Tapi kalau kita bilang H2O, orang bingung. Padahal air itu ya bahan (senyawa) kimia,” jelas Jaya.

Selain itu, masyarakat juga sering menganggap bahwa bahan-bahan alami seperti tanaman herbal bebas dari unsur kimia. Padahal, segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik itu nasi, tanah, maupun tanaman, tersusun dari berbagai senyawa kimia.

Jaya menekankan bahwa “alami” bukan berarti “bebas kimia”. Unsur kimia adalah bagian dasar dari semua materi. Ia menjelaskan bahwa herbal juga terdiri dari senyawa kimia, meskipun tidak selalu diberi label sebagai bahan kimia.

Pentingnya Pemahaman Terhadap Vaksin

Masyarakat perlu memahami bahwa semua yang dikonsumsi sehari-hari, baik itu makanan, minuman, maupun obat-obatan modern, semuanya tersusun dari senyawa kimia yang sudah dipelajari manfaat serta keamanannya.

Bukan zatnya yang berbahaya, melainkan cara penggunaan dan takaran yang menentukan dampaknya bagi tubuh. “Semua yang kita konsumsi, dari air minum, minyak, sampai obat-obatan, adalah hasil dari senyawa kimia,” tuturnya.

Beberapa pihak masih memandang vaksin sebagai alat bisnis belaka. Menurut Jaya, pandangan ini tidak berdasar dan muncul karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya vaksinasi sebagai bagian dari strategi kesehatan publik yang telah terbukti menyelamatkan jutaan jiwa.

“Vaksin bukan alat bisnis. Vaksin adalah bagian penting dari perlindungan kesehatan,” tegasnya.

Cara Kerja Vaksin dan Proses Imunisasi

Jaya menjelaskan bahwa vaksin bekerja dengan cara memperkenalkan tubuh pada bentuk kuman yang telah dilemahkan. Tujuannya agar sistem kekebalan tubuh dapat mengenali dan menyiapkan antibodi sebelum terpapar penyakit secara nyata.

Ini menjadi langkah pencegahan yang sangat penting, terutama pada anak-anak yang sistem imunnya masih berkembang. “Jadi ketika penyakit datang, tubuh sudah siap karena sel-sel pertahanan kita sudah mengenal musuhnya,” jelas Jaya.

Untuk membantu masyarakat memahami konsep ini, Jaya memberikan analogi yang sederhana. Ia menyamakan proses vaksinasi dengan proses pertemuan berulang antara dua orang. Semakin sering bertemu, semakin mudah seseorang mengingat wajah dan mengenal siapa yang dihadapinya.

Hal yang sama terjadi pada sel-sel imun tubuh ketika sudah diperkenalkan pada kuman lewat vaksin. “Baru ketemu sekali, mungkin belum hafal. Tapi kalau sudah sering ketemu, dari jauh pun sudah tahu. Begitu juga dengan sel tubuh kita.”

0 Komentar