Mengapa Tidak Ikut Tren #MorningShed di TikTok?

Featured Image

Tren Ritual Malam Hari yang Viral di TikTok

Di tengah tren kecantikan yang semakin berkembang, banyak perempuan kini memiliki ritual malam hari yang cukup panjang untuk memastikan kulit tetap kenyal dan glowing saat bangun pagi. Video-video tentang ritual ini sering kali dibagikan di media sosial, terutama TikTok, dengan tagar #MorningShed. Dalam video tersebut, para kreator konten tampak sibuk mengoleskan berbagai lapisan skincare sebelum tidur.

Ritual yang Semakin Rumit

Dalam ritual tersebut, penggunaan masker lembaran menjadi hal utama. Mereka menempelkan dua masker di bawah mata, satu di seluruh wajah, dan kadang ada tambahan untuk leher. Rambut mereka ditutup dengan bonnet sutra, dagu dililit strap khusus, dan sebagai sentuhan akhir, stiker bibir warna pink ditempel di mulut untuk menyegelnya rapat. Dan percaya atau tidak, itu baru versi “sederhananya”.

Fenomena ini ingin menunjukkan bahwa kita bisa tidur dalam keadaan "jelek" dan bangun dalam keadaan mulus dan fresh. Namun, tren ini bukan lagi sekadar mengoleskan serum dan esens ala rutinitas 12 langkah Korea yang dulu hits. Sekarang, bahkan ada produk seperti strap untuk "mengencangkan" rahang, masker hidrogel dengan kolagen molekul super kecil yang diklaim cepat meresap ke lapisan kulit, hingga selotip yang ditempel di wajah untuk mencegah kerutan.

Pandangan Ahli Kecantikan

Menurut Dr. Anjali Mahto, konsultan dermatologis dan pendiri klinik Self London, tren #MorningShed sebenarnya tidak berdasar dalam ilmu perawatan kulit. Ia menjelaskan bahwa tekanan untuk mengkurasi setiap aspek kehidupan modern membuat orang ingin tampil prima dan prosesnya juga harus sempurna. Perawatan kulit pun tak luput dari perhatian, dan ritual malam hari yang semakin kompleks ini seringkali melampaui kebutuhan fisiologis kulit.

Ia menambahkan bahwa ritual ini mencerminkan tuntutan terhadap kesempurnaan bagi orang muda. Bagi para remaja, pasti agak merepotkan untuk memastikan posisi tidur mereka tetap terlentang agar semua masker dan selotip tetap ditempatnya semalaman, kemudian bangun dan melakukan proses "pergantian" di pagi hari. Semakin berat rutinitasnya, semakin banyak pula tayangan videonya.

Apakah Ritual Ini Efektif?

Ada beberapa praktik yang digunakan dalam tren ini, seperti face taping, yaitu menggunakan kinesiology tape (plester medis) untuk membatasi gerakan otot dan mencegah pembentukan garis-garis di area penting seperti antara alis, sudut luar mata, serta antara hidung dan mulut. Secara teori, hal ini terdengar masuk akal, tetapi Dr. Mahto menjelaskan bahwa mekanisme penuaan jauh lebih kompleks.

Kerutan bukan hanya tentang gerakan, tetapi juga melibatkan hilangnya kolagen dan perubahan distribusi lemak. Taping tidak dapat membalikkan atau mencegah proses-proses tersebut. Pemakaian plester di area wajah justru dapat mengiritasi kulit, terutama jika diaplikasikan berulang kali. Paling banter, ini memberikan rasa kontrol sementara. Paling buruk, ini merusak lapisan pelindung dan menyebabkan peradangan yang tidak perlu.

Kritik terhadap Produk Skincare

Dokter kulit juga tidak merekomendasikan masker gel kolagen sekali pakai, yang tampak putih buram saat diaplikasikan tetapi transparan di pagi hari, ketika bahan-bahannya dikatakan telah terserap ke dalam kulit. Dr. Cristina Psomadakis, konsultan dermatologis, menjelaskan bahwa tidak hanya ada dampak lingkungan, tetapi juga tidak ada bukti kuat bahwa penggunaan kolagen topikal dapat mengisi kembali cadangan kolagen tubuh.

Ia juga mengkritik pemakaian berbagai jenis serum, asam, dan bahan aktif kuat lainnya. Menurutnya, sebagian besar dermatologis sependapat bahwa masalah terbesar yang mereka lihat adalah orang-orang yang berlebihan mengikuti tren kulit atau menggunakan produk berlapis yang seharusnya tidak dicampur.

Pendekatan Sederhana yang Lebih Efektif

Dalam banyak hal, sudah menjadi sifat manusia untuk tertarik pada produk dan ritual yang diiklankan bisa memberi efek transformatif instan. Industri skincare memang sedang booming. Namun, pendekatan "less-is-more" dianggap membosankan walau pada akhirnya itulah yang benar-benar berhasil.

Psomadakis menyarankan bahwa hal terbaik yang bisa kita lakukan di malam hari adalah membersihkan sisa-sisa produk, termasuk tabir surya wajah atau makeup yang dapat menyumbat pori-pori Anda. Kebanyakan dokter kulit memiliki rutinitas perawatan kulit yang sangat sederhana, terdiri dari pembersih, pelembap, tabir surya, dan biasanya perawatan resep di malam hari.

Ironisnya, salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan untuk memiliki kulit sehat adalah berhenti menonton TikTok sampai larut malam dan tidur cukup.

0 Komentar