Air Mata dan Pelukan Haru Orangtua di Pintu Sekolah Rakyat

Featured Image

Hari Pertama MPLS di Sekolah Rakyat Sentra Handayani

Hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Sentra Handayani, Jakarta Timur, berlangsung dengan penuh haru. Para murid datang bersama orang tua mereka sambil membawa koper dan tas besar yang berisi perlengkapan harian untuk tinggal di asrama. Sebelum pukul 07.00 WIB, para siswa dan orang tua sudah mulai berdatangan. Tampak para siswa angkatan pertama sekolah rakyat tingkat SMP tersebut mengenakan seragam putih merah.

Setibanya di Sentra Handayani, para murid disambut oleh kepala sekolah dan para guru di depan gerbang sekolah rakyat. Sebelum masuk, orangtua dan anak diberikan pengarahan oleh kepala sekolah mengenai kegiatan MPLS. Namun, orangtua tidak diperkenankan mendampingi anak hingga ke dalam gedung sekolah. Mereka hanya diizinkan mengantar sampai gerbang.

Beberapa orangtua tampak tak kuasa menahan tangis saat melepas anak mereka masuk ke asrama. Para orangtua memeluk anak mereka sambil menangis. Salah satu dari mereka adalah Dewi (40), warga Jakarta Timur, yang mengaku sedih melepas anak perempuannya yang bernama Chelsea (13) menempuh pendidikan di sekolah rakyat. Chelsea merupakan buah hati Dewi yang ketiga dari empat bersaudara. Dewi merasa paling dekat dengan putrinya itu.

"Saya sedih, karena kakak-kakaknya (Chelsea) sudah pada kerja, jadi jarang di rumah," kata Dewi sambil menangis. Meski sedih berpisah dengan putrinya, Dewi juga senang anaknya itu bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Apalagi, pendidikan di sekolah rakyat tidak dipungut biaya alias gratis.

Dewi berharap Chelsea dapat melanjutkan pendidikan hingga ke bangku kuliah. Ia tidak ingin Chelsea bernasib sama seperti kakak-kakaknya yang hanya menempuh pendidikan sampai tingkat SMP karena keterbatasan biaya. "Enggak mau kayak kakaknya sampai SMP doang, yang nomor dua perempuan, makanya (Chelsea) pengin sampai kuliah," tutur Dewi.

Dewi yakin, dengan menempuh pendidikan di sekolah rakyat, putrinya semakin dekat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi polisi wanita (polwan). "Melihat fasilitas, saya senang banget, bagus banget. Iya harus ikhlas meski berat, apalagi dia punya cita-cita mau sampai kuliah, terus bilang lagi mau jadi Polwan," ucap Dewi.

Fasilitas yang Memadai

Juwita (40), warga Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur, juga senang anaknya menjadi peserta didik Sekolah Rakyat Sentra Handayani. Ia menilai, fasilitas pendidikan dan asrama di sekolah ini sangat memadai, bahkan lebih nyaman dari rumahnya. "Bagus banget alhamdulilah. Pas lihat fasilitas di asrama pakai kasur, sangat luar biasa. Kalau biasanya di rumah kan pakai tiker doang," ungkap Juwita.

Juwita mengaku sangat terbantu dengan Sekolah Rakyat karena ekonominya pas-pasan. Sehari-hari, Juwita bekerja sebagai pengupas bawang, sedangkan suaminya buruh serabutan. Untuk makan sehari-hari, Juwita, suami, dan anaknya kerap kesusahan. Oleh karenanya, sekolah rakyat dianggap sangat meringankan biaya pendidikan. "Saya kuli kupas bawang pendapatan enggak menentu, sedangkan suami jaga cucian motor di Ceger," ungkapnya.

Kebahagiaan Murid

Sementara, Lukmanul Hakim (13), salah satu murid mengaku senang bisa bersekolah dan tinggal di asrama Sekolah Rakyat Sentra Handayani. Ia bahagia karena kini dapat bermain dan belajar bersama teman-teman baru. Sementara, sebelumnya, di rumah, Hakim sering diminta membantu menjaga warung milik keluarganya. "Pertama enggak mau (masuk Sekolah Rakyat). Pas mama bilang 'Di sana (Sekolah Rakyat) saja, di sana kan banyak teman dan bisa main, kalau di rumah susah' itu karena jaga warung jarang main," ucap Hakim.

Hakim merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ibunya berdagang di warung kelontong, sedangkan ayahnya menjadi pengemudi ojek online. Menurut Hakim, fasilitas di sekolah rakyat jauh lebih lengkap dibandingkan di rumah, sehingga ia lebih semangat untuk belajar. "Di rumah enggak kayak gini, pakai kasur sih, tapi ramai-ramai sama ayah, ibu, abang, kakak, sama adek, sama saya jadi enam. Kalau di sini (asrama Sekolah Rakyat) kan satu-satu," ungkapnya.

Kurikulum Merdeka

Sekolah Rakyat Sentra Handayani sendiri menerapkan kurikulum merdeka dalam sistem pendidikan, sama dengan sekolah umum. "Kalau dari kurikulumnya sama (dengan sekolah umum), karena kita ada kurikulum merdeka, kurikulum nasional yang kita pakai," kata Kepala Sekolah Rakyat Sentra Handayani Regut Sutrasto.

Regut menjelaskan, perbedaan utama antara sekolah rakyat dan sekolah umum terletak pada teknologi yang diterapkan pada pembelajaran. Sekolah rakyat menggunakan metode Learning Management System (LMS), sebuah platform perangkat lunak yang biasanya berbasis web. Sistem ini digunakan untuk merencanakan, mengelola, mendistribusikan, dan melacak kegiatan pembelajaran siswa. "Kalau cara pembelajar teknologi tentunya berbeda, karena kita kan menggunakan Learning Management System (LMS), kalau di sekolah reguler kan enggak," tuturnya.

Regut menambahkan, pada pekan pertama sekolah yang dimulai Senin (14/7/2025), belum ada kegiatan belajar mengajar formal. Siswa masih dalam tahap pengenalan. "Pembelajarannya itu mulai normal minggu depan dengan ada semacam awal pembelajaran dulu nanti. Semacam apa ya, persiapan-persiapan," kata dia.

0 Komentar