Ingin Kuliah di Tiongkok atau Taiwan? Ratusan Beasiswa Tersedia untuk Warga Indonesia

Featured Image

Peluang Pendidikan Tinggi di Luar Negeri untuk Generasi Muda Indonesia

Di tengah tantangan ekonomi dan persaingan global, akses terhadap pendidikan berkualitas menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesempatan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri kini semakin terbuka lebar, dengan tren studi ke luar negeri yang mengalami peningkatan, terutama ke negara-negara Asia seperti Tiongkok dan Taiwan.

Peningkatan ini tidak terlepas dari faktor biaya kuliah yang kompetitif, kemajuan riset dan teknologi, serta kemitraan strategis antara negara-negara Asia dengan Indonesia. Banyak institusi di Tiongkok dan Taiwan menawarkan kurikulum internasional dan berbagai beasiswa bagi pelajar asing. Kondisi ini membuka ruang baru bagi generasi muda Indonesia untuk meraih gelar akademik sekaligus memperluas wawasan budaya dan profesional mereka.

Namun, tantangan seperti biaya hidup, kemampuan bahasa, dan akses informasi masih menjadi kendala utama bagi sebagian besar pelajar Indonesia. Tak sedikit yang akhirnya gagal berangkat karena minimnya dukungan finansial atau persiapan yang belum matang. Di sinilah pentingnya peran program-program pendukung yang terstruktur, transparan, dan dapat menjangkau kalangan yang lebih luas.

Salah satu inisiatif yang mencoba menjawab kebutuhan tersebut adalah ABCDE, sebuah program yang digagas oleh Aristia Chen, Founder ABCDE sekaligus CMO Mazuta Group. Program ini menargetkan 1.000 warga Indonesia untuk kuliah ke Tiongkok dan Taiwan. "Program ini dapat memberikan kualitas hidup bagi generasi muda yang lebih baik melalui pendidikan, terutama bagi mereka yang berminat kuliah di China dan Taiwan," ujar Aristia dalam keterangannya.

Inspirasi program ini berasal dari pengalaman pribadi Aristia yang sempat menempuh pendidikan di Taiwan, namun harus berhenti di tengah jalan. Meskipun tidak dapat menuntaskan pendidikan formal, ia menyadari bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk membuka banyak pintu kesempatan.

Dengan berakar pada nilai Society 5.0., Aristia ingin membangun ekosistem yang memungkinkan siapa pun untuk terlibat dalam menciptakan akses pendidikan. Pada batch pertama, 150 peserta bootcamp akan disaring menjadi 20 penerima sertifikasi nasional dan 5–10 orang yang dibiayai studi ke luar negeri.

"Berbeda dari program sejenis, ABCDE tidak hanya memberikan wawasan, tapi juga menyediakan proses seleksi yang menjadi ajang pengembangan diri, mulai dari bootcamp intensif, sertifikasi nasional resmi, hingga kursus Bahasa Mandarin secara komprehensif dan gratis," jelas Aristia.

Pemilihan Tiongkok dan Taiwan sebagai destinasi awal program ini didasarkan pada kemajuan pendidikan dan riset di kedua negara tersebut. Selain itu, ada peningkatan investasi China terhadap research and development (R&D) dari 2020 hingga 2024. Institusi pendidikan tinggi menggunakan 8,3 persen anggaran untuk R&D sebesar CNY 275,33 miliar.

Seleksi dimulai dari pendaftaran lewat Google Form dengan commitment fee Rp 500 ribu. Peserta mengikuti bootcamp daring dua bulan dan berpeluang lanjut ke pelatihan bahasa dan persiapan keberangkatan. Fee dikembalikan jika kehadiran di atas 80 persen.

Program ini menyasar lulusan SMA/SMK yang belum bergelar sarjana, punya pengalaman kerja minimal dua tahun, dan tidak sedang menerima beasiswa lain. Target penerima beasiswa degree atau non degree antara lain lulusan SMA/SMK/Sederajat, Warga Negara Indonesia, belum bergelar Sarjana (S1)/Sarjana Terapan (D4), memiliki pengalaman bekerja minimal dua tahun setelah lulus SMA, serta tidak sedang menerima beasiswa lain pada saat mendaftar dan selama periode menerima beasiswa ini.

0 Komentar