
Kehidupan Pasangan Lansia di Tengah Hutan
Di tengah hutan yang rindang dan jauh dari kehidupan modern, tinggal sepasang lansia yang telah menjalani kehidupan selama lebih dari 50 tahun. Mereka adalah Sarjo (91) atau Mbah Jo dan Patmuani (59) atau Mbah Pat. Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana di Desa Kromong, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Kehidupan di Tengah Alam
Kehidupan mereka sangat sederhana, tetapi penuh makna. Di balik pepohonan yang rimbun, mereka menemukan ketenangan dan kenyamanan. Rumah kayu sederhana mereka berdiri sendiri di tengah lahan kebun, ditemani kandang kambing dan tanaman pangan. Suara angin, kicau burung, serta gemerlap daun menjadi teman setia mereka sehari-hari.
Mbah Jo dan Mbah Pat membangun kehidupan mereka dengan hasil alam sejak menetap di hutan pada tahun 1997. Mbah Jo mengurus ladang dengan menanam jagung, padi, ubi, dan pepaya. Sementara itu, Mbah Pat mencari makanan dari hutan seperti daun lamtoro untuk pakan kambing, serta sayuran liar seperti wangon, simbukan, dan lempuyang. Hasil panen kecilnya dijual di pasar yang berjarak belasan kilometer. Ia bahkan pernah berangkat ke pasar tengah malam dengan sepeda onthel atau berjalan kaki.
Perjalanan Cinta dan Keteguhan
Kisah cinta Mbah Pat dan Mbah Jo dimulai saat Mbah Pat masih berusia 13 tahun. Ia dijodohkan oleh keluarga setelah berkenalan dengan Mbah Jo. Sejak itu, ia belajar hidup mandiri dan memanfaatkan apa yang diberikan alam. Mbah Pat terbiasa bertahan hidup dengan segala kesederhanaan. Ia mengatakan bahwa setiap jam 12 malam ia berangkat ke pasar dan pulang sekitar jam 01.30. Meski tidak selalu membawa uang banyak, ia tetap berusaha agar bisa makan.
Sementara itu, Mbah Jo memiliki pengalaman hidup yang unik. Ia sudah hidup dari alam sejak 1975. Baginya, hutan adalah rumah sekaligus tempat bersembunyi. Ia lahir di Mojokerto dan pindah ke Jombang pada masa Orde Baru karena tekanan politik. Pengalamannya bahkan mencakup masa pergolakan kemerdekaan, ketika ia bersembunyi di hutan saat Jepang masuk menggantikan Belanda.
Rahasia Umur Panjang
Di usia 91 tahun, Mbah Jo masih bugar. Rahasianya sederhana: setiap pagi ia meminum rebusan brotowali yang pahit dicampur madu. Ia bahkan sanggup berjalan puluhan kilometer ke hutan untuk mencari madu liar. Kediaman mereka hanya bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Desa Kromong, melewati jalan berpasir dan berbatu.
Keberanian dan Keteguhan
Bagi Mbah Pat dan Mbah Jo, hutan bukan sekadar tempat tinggal—ia adalah saksi perjalanan cinta, keteguhan hati, dan kebebasan. Mbah Pat berkata, “Kalau sudah waktunya Allah memanggil, saya ingin dikubur di sini saja.” Setelah setengah abad, mereka tetap memilih bertahan di tempat di mana pepohonan menjadi pagar, tanah menjadi penopang, dan alam menjadi keluarga.
Kisah Lain di Tengah Hutan
Tidak hanya Mbah Jo dan Mbah Pat, ada juga keluarga lain yang tinggal di gubuk tengah hutan. Misalnya, Ridwan bersama istri dan anaknya tinggal di gubuk reot yang jauh dari pemukiman selama tiga tahun. Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan, dengan atap yang bocor dan bilik rumah yang nyaris roboh. Meskipun begitu, istri Ridwan tetap ikhlas dan sabar.
Selain itu, ada juga Sunandar, seorang artis ternama era 1980-an yang kini tinggal sebatang kara di gubuk bambu yang sudah reyot di tengah hutan. Ia mengaku merasa bersyukur meski hidup dalam keterbatasan. Sunandar mengatakan, “Enaklah, cocok di sini, adem.”
Kesimpulan
Keberanian, keteguhan, dan kebersyukuran menjadi ciri khas dari para penghuni gubuk di tengah hutan. Mereka menjalani kehidupan dengan cara sederhana, tetapi penuh makna. Dengan alam sebagai saksi, mereka menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada kemewahan, tetapi pada ketenangan dan kedamaian.
0 Komentar