
Tantangan Logistik dan Ketersediaan Akomodasi dalam Persiapan COP30 di Brasil
Konferensi iklim COP30 yang akan dihelat di Brasil pada November 2025 terancam menghadapi berbagai tantangan, termasuk krisis logistik dan masalah akomodasi. Dengan kurang dari 100 hari sebelum acara tersebut, banyak pihak mulai memperhatikan kesiapan tuan rumah, terutama terkait ketersediaan kamar hotel dan biaya penginapan yang meningkat drastis.
Belem, kota yang dipilih sebagai lokasi penyelenggara COP30, tidak dikenal karena infrastruktur pariwisatanya, melainkan karena dekatnya dengan hutan Amazon. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan kota tersebut untuk menampung ribuan peserta konferensi. Meski demikian, pihak penyelenggara mengklaim bahwa jumlah tempat tidur yang tersedia mencukupi, meskipun harga akomodasi melonjak signifikan.
Penundaan Pembahasan Masalah Akomodasi
Sekretariat PBB yang membantu penyelenggaraan COP30 menyatakan bahwa pertemuan yang dijadwalkan untuk membahas masalah akomodasi ditunda tanpa jadwal baru yang pasti. Surat yang dikeluarkan oleh pemerintah Brasil menolak wacana pemindahan lokasi penyelenggaraan. Menurut surat tersebut, COP30 akan tetap diadakan di Belem, dan ketersediaan tempat tidur di kota itu dinilai cukup.
Surat sepanjang 19 halaman ini menjawab 48 pertanyaan dari delegasi nasional, sebagian besar terkait kekhawatiran tentang harga akomodasi yang tinggi dan ketersediaan yang terbatas. Juru bicara COP30 belum memberikan konfirmasi resmi mengenai isi surat tersebut.
Rincian Ketersediaan Tempat Tidur
Sejauh ini, penyelenggara telah memetakan 53.000 tempat tidur di Belem dan sekitarnya. Rinciannya antara lain:
- 14.547 tempat tidur di hotel
- 6.000 tempat tidur di dua kapal pesiar
- 10.004 tempat tidur di hunian sewa melalui agen properti
- 22.452 tempat tidur melalui Airbnb
Pemerintah juga berencana menambah opsi akomodasi melalui platform pemesanan resmi BNetwork dan Qualitours.
Harga akomodasi di Belem meningkat tajam, bahkan melebihi tarif hotel mewah di Rio de Janeiro. Contohnya, biaya penyewaan apartemen satu kamar “Doce Lar” selama 11 hari penyelenggaraan KTT iklim mencapai 1,4 juta real atau sekitar US$267.380 di Booking.com. Sementara itu, kamar dengan tempat tidur ukuran king dan pemandangan laut di Copacabana Palace, Rio de Janeiro dibanderol di harga 96.223 real.
Pengaruh Harga Tinggi pada Partisipasi Negara Miskin
Kenaikan harga ini dikhawatirkan akan menghambat partisipasi negara-negara miskin. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Brasil menyiapkan paket khusus dengan tarif lebih rendah untuk delegasi negara kepulauan kecil dan negara termiskin. Paket ini mencakup lebih dari sepertiga anggota PBB.
Pemerintah menjanjikan 15 kamar tunggal per delegasi dengan harga US$100–US$200 per malam untuk kelompok tersebut. Negara lain dijamin 10 kamar tunggal per delegasi, dengan tarif US$200–US$600 per malam.
Penyelenggara Mengaku Terbatas dalam Intervensi
Penyelenggara COP30 menyatakan bahwa Brasil adalah negara demokrasi dengan ekonomi pasar, sehingga membatasi intervensi terhadap jaringan hotel, properti pribadi, dan situs perantara penyewaan. Menteri Pariwisata Brasil, Celso Sabino, menyarankan agar perbandingan harga dilakukan secara seimbang, misalnya dengan harga akomodasi di Rio saat perayaan tahun baru.
Namun, jawaban pemerintah sejauh ini belum banyak meyakinkan peserta. Masalah logistik semakin menghambat pembahasan agenda dan berisiko menggagalkan visi awal menjadikan Belem sebagai tuan rumah, yakni untuk menghadirkan lebih banyak suara beragam termasuk komunitas adat.
Tanggapan dari Tokoh dan Pejabat
Claudio Angelo, Koordinator Kebijakan Internasional Observatório do Clima, menyatakan bahwa krisis logistik seperti ini bertentangan dengan prinsip inklusivitas COP. Ia memperingatkan bahwa hambatan ini dapat menggerus legitimasi kesepakatan jika membatasi partisipasi pihak yang tidak mampu secara finansial.
Presiden COP30 André Corrêa do Lago mengakui isu ini telah menjadi masalah politik. "Kami mulai membahas akomodasi karena ini sudah menjadi isu politik. Dampaknya nyata terhadap negosiasi, dan ini tidak bisa dihindari," ujarnya awal Agustus.
Keputusan untuk menggelar COP30 di Belem datang langsung dari Presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Dia menolak opsi kota besar seperti São Paulo atau Rio. "Kami memutuskan menggelar COP di Belem agar orang bisa melihat sendiri seperti apa Amazon sebenarnya," ujar Lula pekan lalu di BrasÃlia.
Strategi untuk Mengurangi Beban Akomodasi
Menghadapi tantangan infrastruktur, Brasil memutuskan membagi jadwal COP30. KTT pemimpin dunia akan digelar dua hari sebelum pembicaraan utama pada 5 November, sementara negosiasi resmi dimulai 11 November, guna mengurangi beban akomodasi bagi kepala negara dan tim mereka.
Asosiasi Industri Perhotelan Brasil di Pará menyatakan akan memprioritaskan delegasi COP. Mereka juga mengecam adanya kampanye penolakan Belem. Organisasi itu menawarkan 535 kamar di hotel bintang lima dengan tarif US$100–US$300 per malam, serta mendorong delegasi untuk berbagi kamar.
Ketua asosiasi Tony Santiago mengakui tarif hotel naik rata-rata tiga hingga empat kali lipat, meski Corrêa do Lago menyebut kenaikannya 10–15 kali lipat. Tony menambahkan, harga ekstrem kini mulai turun karena banyak kamar belum terjual.
Ada prasangka terhadap Belem, terhadap Amazon. Orang berpikir COP harus di hotel mewah penuh kenyamanan. Itu munafik. Kalau bicara iklim, Anda harus datang ke Amazon, melihat hutan, merasakan udaranya,” kata Santiago.
0 Komentar