
Mengenal Tradisi Tea Pai dalam Pernikahan Tionghoa
Pernikahan Tionghoa dikenal memiliki berbagai ritual yang kaya akan makna dan nilai budaya. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Tea Pai, sebuah upacara minum teh yang menjadi simbol penghormatan kepada keluarga yang lebih tua. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga mencerminkan keharmonisan antara pasangan pengantin dengan keluarga besar mereka.
Asal Usul dan Makna Tea Pai
Istilah Tea Pai berasal dari kombinasi kata "tea" (teh) dan "bai" atau "pai" yang dalam bahasa Mandarin berarti memberi hormat. Upacara ini dilakukan oleh pasangan pengantin baru dengan menyuguhkan teh kepada orang tua dan kerabat senior sebagai bentuk rasa terima kasih serta penghormatan. Tea Pai bukan sekadar ritual minum teh, melainkan momen penting dalam memperkenalkan mempelai wanita kepada keluarga besar mempelai pria.
Tradisi ini sudah ada sejak masa Dinasti Tang, sekitar 1.200 tahun lalu. Awalnya dikenal dengan nama Cha Dao, ritual ini kemudian dibawa ke Jepang oleh para biksu Jepang yang datang ke Tiongkok. Meski mengalami sedikit penyesuaian dengan budaya Jepang, esensi dari upacara ini tetap terjaga.
Prosesi dan Aturan dalam Tea Pai
Upacara Tea Pai biasanya dilaksanakan pada pagi hari setelah pemberkatan pernikahan dan sebelum acara resepsi. Prosesi ini dihadiri oleh anggota keluarga yang sudah menikah, seperti orang tua, kakek-nenek, paman, bibi, serta saudara kandung. Ada beberapa aturan yang mengatur siapa saja yang boleh hadir dalam upacara ini.
Misalnya, adik pengantin yang sudah menikah tidak diperbolehkan ikut serta, sementara kakak pengantin tidak boleh hadir jika belum menikah atau jika telah “dilangkahi” oleh adiknya. Namun, apabila orang tua pengantin telah meninggal dunia, maka kakak kandung diperbolehkan hadir dan bertindak sebagai wali yang sah dalam prosesi tersebut.
Aturan-aturan ini mencerminkan nilai-nilai tradisional yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Tionghoa. Proses pelaksanaannya cukup sederhana namun sarat makna. Setelah mengucap sumpah pernikahan, pengantin pria terlebih dahulu menerima teh dari pengantin wanita, kemudian dilanjutkan dengan pengantin wanita yang menyuguhkan teh kepada keluarganya sendiri.
Makna dan Simbol dalam Tea Pai
Dalam prosesi Tea Pai, teh disajikan secara berurutan mulai dari anggota keluarga tertua hingga yang termuda. Setelah menerima teh, keluarga biasanya memberikan angpau (amplop merah) atau perhiasan. Hal ini sebagai tanda restu dan simbol harapan akan masa depan yang sejahtera bagi pengantin. Hadiah yang diberikan dalam prosesi ini juga menjadi simbol doa bagi keberuntungan dan kemakmuran dalam kehidupan rumah tangga yang baru dimulai.
Lebih dari sekadar tradisi, Tea Pai mengandung nilai-nilai penting seperti kerja sama antara pasangan, saling membantu, serta penghormatan kepada keluarga besar. Awalnya, upacara ini biasa diadakan di rumah mempelai wanita, namun kini sering digelar di lokasi pernikahan seperti hotel atau restoran.
Pelestarian Tradisi oleh Publik Figur
Beberapa publik figur Indonesia keturunan Tionghoa juga turut melestarikan tradisi Tea Pai dalam momen pernikahan mereka. Salah satunya adalah Clarissa Tanoesoedibjo dan Anthony Tjipto. Selain itu, Valencia Tanoesoedibjo dan atlet bulu tangkis Kevin Sanjaya juga menjalankan tradisi ini pada tahun 2023. Roger Danuarta dan Cut Meyriska turut memperingati upacara ini pada tahun 2019.
Pada tahun 2016, Junior Liem dan Putri Titian juga merayakan upacara tersebut dengan pakaian bermotif burung merak, simbol yang kerap hadir dalam pernikahan Tionghoa. Lalu di tahun 2017, Dion Wiyoko dan Fiona Anthony menghidupkan kembali tradisi Tea Pai dalam pernikahan mereka. Dengan demikian, tradisi ini tetap hidup dan dijaga oleh banyak kalangan, baik dari masyarakat umum maupun kalangan selebritas.
0 Komentar