
Masa Lalu yang Penuh Kenangan dengan Majalah Gitar
Di masa lalu, ketika ponsel Nokia 6600 dianggap sebagai barang mahal dan N-Gage menjadi simbol kemewahan bagi para penggemar game, majalah-majalah musik seperti KORT, Music Box Selection, Gitarplus, Acoustic, dan lainnya menjadi sumber utama literasi bagi anak muda yang ingin belajar bermain gitar. Di dalam majalah-majalah ini, tidak hanya terdapat informasi mengenai alat musik, tetapi juga tentang musisi band, spesifikasi gitar, hingga berita-berita unik seperti ramalan zodiak yang sering dibaca meski tidak selalu benar.
Saya ingat betul bagaimana dulu setiap bulan saya menyisihkan uang jajan untuk membeli majalah tersebut. Itu adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk belajar bermain gitar karena orang tua saya tidak mampu menanggung biaya les musik. Dengan bantuan majalah-majalah ini, saya bisa mengasah kemampuan bermain gitar secara mandiri.
Untuk mendapatkan majalah gitar, saya harus merogoh uang sebesar Rp3.000 hingga Rp15.000, tergantung jumlah uang yang ada. Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah adanya lirik lagu lengkap dengan chord gitar serta gambar chord dalam bentuk balok kecil. Gambar-gambar tersebut membantu saya memahami cara membentuk chord, sehingga tangan saya mulai terbiasa menggerakkan jari kiri untuk menciptakan nada yang indah.
Pada masa itu, setiap kali MTV menayangkan lagu baru atau band baru, saya rela mengurangi uang jajan dan pulang sekolah jalan kaki sejauh 2,5 km agar bisa menyisihkan uang transportasi untuk membeli majalah gitar. Di fase belajar gitar, tiga hal penting yang selalu ada di depan saya adalah komputer dengan Winamp, gitar akustik, dan tentu saja majalah gitar. Latihan yang saya lakukan adalah bermain gitar sambil mendengarkan lagu dari Winamp, sementara mata terus menatap chord yang ada di majalah. Saat itu, saya merasa seperti anggota tambahan dari band favorit saya, padahal pada kenyataannya saya hanya menghafal lirik dan chord dari majalah tersebut.
Salah satu hal yang membuat saya kesal adalah ketika teman-teman meminjam majalah gitar dan tidak kunjung dikembalikan. Ketika akhirnya majalah tersebut kembali, kondisinya sudah rusak, seperti cover hilang atau beberapa halaman tercoret. Saya merasa sangat kecewa.
Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada para jurnalis musik terdahulu yang telah memberikan wawasan bermusik bagi remaja yang memiliki minat besar namun terkendala biaya. Saat YouTube belum tersedia seperti sekarang, majalah gitar menjadi sumber literasi yang sangat berharga. Tanpa majalah ini, banyak remaja mungkin akan kehabisan bahan latihan saat berkumpul di tempat tongkrongan.
Sayangnya, seiring perkembangan teknologi, keberadaan majalah gitar semakin langka. Agen penyalur koran kini lebih fokus menjual koran yang semakin tipis dengan harga langganan yang meningkat. Minat remaja terhadap majalah atau tabloid juga menurun drastis.
Kini, akses internet memungkinkan siapa pun untuk mengakses konten-konten edukatif yang bisa digunakan untuk mempelajari lagu-lagu hits. Majalah gitar masa lalu kini bisa diibaratkan sebagai prasasti yang menyimpan kenangan masa muda. Meskipun sudah tidak lagi menjadi sumber utama, majalah gitar tetap memiliki nilai historis yang tak ternilai.
Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih kepada para jurnalis, redaksi, dan semua pihak yang terlibat dalam khazanah majalah gitar. Terima kasih karena telah meninggalkan kenangan indah dan membuat saya merasa percaya diri ketika berada di tengah-tengah teman-teman di tongkrongan.
0 Komentar