
Renungan Harian: Yang Dipersatukan Allah Tak Boleh Diceraikan Manusia
Saudari/a terkasih dalam Kristus, salam sejahtera untuk kita semua. Hari ini, kita diajak untuk merenungkan tema penting yang mengingatkan kita akan kekudusan dan kesetiaan dalam hubungan manusia, khususnya dalam perjanjian perkawinan. Tema "Yang dipersatukan Allah tak boleh diceraikan manusia" mengajak kita untuk memahami makna sebenarnya dari komitmen, kesetiaan, serta penghargaan terhadap sakramen perkawinan sebagai bentuk perjanjian yang kudus.
Bacaan Liturgi
Dalam bacaan pertama dari kitab Yosua 24:1-13, kita melihat bagaimana Yosua mengumpulkan seluruh suku Israel di Sikhem dan mengingatkan mereka tentang sejarah keselamatan yang telah dilakukan oleh Tuhan. Ia mengingatkan mereka tentang bagaimana Tuhan memanggil Abraham, membebaskan umat-Nya dari Mesir, dan memberikan tanah perjanjian kepada mereka. Kisah ini menekankan pentingnya kesetiaan kepada Tuhan dan perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan umat-Nya.
Mazmur Tanggapan 136:1-3.16-18.21-22.24 mengingatkan kita akan kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan. Setiap ayatnya menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas segala tindakan-Nya dalam sejarah umat-Nya, termasuk pembebasan dari Mesir dan pemberian tanah perjanjian.
Bait Pengantar Injil dari 1 Tesalonika 2:13 mengajak kita untuk menerima pewartaan sebagai sabda Tuhan, bukan sekadar perkataan manusia. Ini menjadi pengingat bahwa firman Tuhan adalah sumber kehidupan dan arahan bagi umat-Nya.
Dalam bacaan Injil dari Matius 19:3-12, Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi tentang izin menceraikan isteri. Ia mengutip Kitab Kejadian, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Yesus menegaskan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Ia juga menjelaskan bahwa perceraian hanya diizinkan karena ketegaran hati manusia, dan bahwa ada panggilan khusus untuk hidup selibat demi Kerajaan Surga.
Refleksi dan Pertanyaan
Dari bacaan-bacaan tersebut, kita diajak untuk merenungkan beberapa hal penting:
- Kesetiaan: Apakah kita setia kepada Tuhan dan perjanjian yang telah kita buat dengan-Nya? Apakah kita mengutamakan Dia di atas segala sesuatu dalam hidup kita?
- Kekudusan Perkawinan: Apakah kita menghormati kekudusan perkawinan dan berkomitmen untuk setia kepada pasangan kita? Apakah kita berusaha membangun hubungan yang sehat dan penuh kasih yang mencerminkan kasih Kristus kepada Gereja?
- Panggilan Hidup: Apakah kita memahami panggilan unik kita dalam hidup ini? Apakah kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan bagi kita, baik dalam perkawinan maupun dalam kehidupan selibat?
Pesan untuk Kita
Pesan untuk kita hari ini adalah:
- Marilah kita merenungkan panggilan untuk hidup dalam kesetiaan, kasih, dan komitmen. Kehidupan kita harus mencerminkan kesetiaan kepada Tuhan dan sesama.
- Semoga kita diberi hikmat untuk memahami kehendak Tuhan dalam hidup kita dan kekuatan untuk melaksanakannya. Kita perlu terus berdoa agar bisa mengikuti jalan yang ditentukan oleh Tuhan.
- Mari kita berdoa agar selalu menghormati kekudusan perkawinan dan mengikuti Kristus dengan sepenuh hati, di mana pun Ia memimpin kita.
Dengan demikian, marilah kita menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab kita sebagai anak-anak Tuhan, dan terus berupaya untuk hidup dalam kesetiaan, kasih, dan kekudusan.
0 Komentar