RUU Pajak AS Tunda Proyek Hidrogen dan Energi Rendah Karbon ExxonMobil

Featured Image

Perusahaan Energi Menghadapi Tantangan dalam Proyek Rendah Karbon

ExxonMobil Corp, salah satu perusahaan energi terbesar di dunia, mengungkapkan kekhawatiran terkait proyek pembangunan pabrik hidrogen rendah karbon terbesar di dunia yang berada di Texas. Proyek ini dikhawatirkan mengalami penundaan akibat pengurangan insentif pajak oleh Kongres AS sebagai bagian dari paket pajak dan belanja Presiden Donald Trump.

CEO ExxonMobil Corp, Darren Woods, menyatakan bahwa kemungkinan penundaan pasokan gas rendah karbon untuk pusat data AI dan litium menjadi ancaman nyata bagi perusahaan. Ia menegaskan bahwa jika tidak ada jalur bisnis yang jelas dan menguntungkan, perusahaan akan mempertimbangkan kembali proyek tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, Exxon telah merencanakan berbagai proyek rendah karbon sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk menjadi pelopor dalam mitigasi emisi industri. Namun, pencabutan subsidi era Biden oleh pemerintahan Trump kini mengancam profitabilitas proyek-proyek tersebut dan menghambat perkembangan mereka.

Proyek hidrogen di Baytown, Texas, dirancang untuk menghasilkan 1 miliar kaki kubik hidrogen per hari serta 1 juta ton amonia per tahun dari gas alam. Sebanyak 98% karbon dioksida yang dihasilkan akan ditangkap dan disimpan di bawah tanah. Abu Dhabi National Oil Co. setuju untuk memiliki 35% saham dalam proyek ini, sementara JERA Co., penyedia listrik terbesar di Jepang, menandatangani perjanjian tidak mengikat untuk membeli setengah dari amonia yang dihasilkan. Air Liquide SA juga menyatakan kesiapan untuk memanfaatkan jaringan pipa mereka dalam proyek ini.

Namun, RUU pajak Trump telah mempersempit masa waktu bagi perusahaan untuk mengklaim insentif pajak 45V, dari tahun 2033 menjadi 2028. Woods menegaskan bahwa partisipasi Exxon dalam proyek rendah karbon hanya akan terwujud jika ada peluang imbal hasil yang baik bagi investor.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran tentang perkembangan pasar yang lebih luas, yang sangat penting untuk transisi dari insentif pemerintah. Menurutnya, biaya hidrogen masih menjadi hambatan besar bagi calon pelanggan, yang membuat Exxon kesulitan dalam membuat keputusan investasi besar-besaran.

"Harga produk merupakan variabel besar bagi pembeli. Kami belum melakukan FID dan kami tidak akan melakukannya sampai kami mendapatkan pembeli yang aman sehingga kami memiliki keyakinan yang tinggi terhadap imbal hasil yang akan kami hasilkan," ujarnya.

Exxon juga menghadapi tantangan dalam memasok gas alam rendah emisi untuk pusat data listrik. Meskipun awalnya Big Tech lebih menyukai sumber listrik rendah karbon untuk AI, kini perusahaan-perusahaan tersebut lebih fokus pada pengamanan sumber daya besar, terlepas dari kandungan karbon dioksida (CO2). Rencana Exxon di bidang ini juga mungkin mengalami kegagalan.

Di bidang produksi litium, Exxon menghadapi tantangan serius. Perusahaan merencanakan untuk memproduksi material baterai tersebut pada 2027, tetapi masih berupaya menurunkan biaya. Harga litium telah turun hampir 90% sejak tahun 2022, membuat biaya menjadi semakin penting.

"Itu mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari yang kami perkirakan hanya untuk menurunkan biaya kami," ujarnya.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Exxon masih berencana untuk menginvestasikan US$30 miliar dalam investasi rendah emisi dari tahun 2025 hingga 2030. Investasi ini bertujuan untuk memperkuat posisi perusahaan jika dunia secara bertahap beralih dari minyak dan gas.

"Saya melihat proposisi nilai yang baik dalam rendah karbon tetapi memperingatkan hal-hal ini tidak semuanya bergerak dalam garis lurus," ujarnya.

0 Komentar