HUT ke-80 RI, Mal Ciputra Gelar Festival Kampoeng Legenda dengan 40 Makanan Tradisional Terkenal

HUT ke-80 RI, Mal Ciputra Gelar Festival Kampoeng Legenda dengan 40 Makanan Tradisional Terkenal

Festival Kampoeng Legenda di Mal Ciputra Jakarta Merayakan Kemerdekaan dengan Rasa Nusantara

Di tengah semarak perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, tidak hanya warga di pemukiman yang merayakannya dengan berbagai lomba dan tradisi, tetapi juga pusat-pusat perbelanjaan seperti mal turut serta memeriahkan momen penting ini. Salah satunya adalah Mal Ciputra Jakarta yang menghadirkan festival bertajuk Kampoeng Legenda untuk merayakan HUT ke-80 RI.

Festival ini menawarkan pengalaman unik yang membawa pengunjung kembali ke suasana kampung halaman. Dekorasi umbul-umbul merah yang dipasang di antara tenant-tenant yang terbuat dari kayu dan jerami menciptakan nuansa khas Indonesia. Selain itu, para pengunjung dapat menikmati berbagai makanan tradisional yang berasal langsung dari berbagai daerah di Indonesia.

Makanan Tradisional yang Menyatu dalam Satu Tempat

Kampoeng Legenda bukan hanya sekadar pameran kuliner, tetapi juga menjadi ajang bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk menampilkan produk mereka. Setiap tenant yang hadir merupakan pemilik kudapan khas dari daerah asalnya. Beberapa contohnya adalah klepon Gianyar Bali yang sudah ada sejak 1980, Nasi Krawu Bu Tiban dari Gresik sejak 1979, Gudeg Yu Djum dari Yogyakarta sejak 1950, dan Toko OEN dari Semarang sejak 1936.

Selain itu, ada juga makanan khas lainnya seperti Bebek Sinjay Asli Bangkalan Madura (2000), Nasi Pedas Bali Made (non halal), Nasgor Babat Semar Semarang, Nasi Ayam Semarang Bu Lani, dan masih banyak lagi. Setiap makanan memiliki cerita dan sejarah yang unik, menjadikannya lebih dari sekadar hidangan biasa.

Pengunjung Terkesan dengan Rasa yang Autentik

Afifah (27), salah satu pengunjung, mengaku datang ke festival ini karena rindu akan rasa Serabi Solo Notosuman. Ia menyebut bahwa festival ini menjadi jalan pintas bagi yang belum sempat berkunjung ke daerah asal makanan tersebut. “Ini ditunggu-tunggu sih, karena udah lama enggak traveling dan pas ada Serabi Notosuman, jadi gas aja,” katanya.

Selain itu, para pemilik kudapan juga hadir langsung untuk melayani pengunjung, memberikan pengalaman yang lebih personal dan autentik. Hal ini membuat pengunjung merasa seperti sedang berkunjung ke kampung halaman mereka sendiri.

Tujuan Jangka Panjang Mal Ciputra Jakarta

Menurut Rida Kusrida, Humas Mal Ciputra Jakarta, event ini diselenggarakan setiap bulan Agustus sebagai bentuk perayaan kemerdekaan. “Event kuliner ini yang kami hadirkan adalah kuliner yang legendaris dan autentik. Jadi si makanannya itu semua didatakan langsung dari kota asalnya,” ujarnya.

Mal Ciputra yang telah berusia 32 tahun ingin menjadi ajang edukasi bagi generasi muda tentang sejarah makanan Nusantara. Dengan adanya Kampoeng Legenda, diharapkan pengunjung dan pelaku UMKM dapat saling berkembang dan menunjukkan potensi mereka.

“Jadi kami berharap tuh dengan Kampoeng Legenda tuh orang tidak usah berkeliling ke nusantara, cukup ke Kampoeng Legenda, semua makanan, pilihan, semua makanan legendaris sudah ada di sini,” tambah Rida.

Daftar Tenant yang Hadir

Tidak hanya makanan tradisional, festival ini juga menampilkan berbagai macam hidangan non-halal seperti Babi Guling Karya Rebo dari Bali (1993), Sate Padang Ajo Ramon (1986), dan Tahu Petis Yudhistira (2006). Selain itu, ada juga makanan khas dari NTT, Bandung, Surabaya, dan daerah lainnya.

Beberapa contoh lainnya adalah Nasi Pindang Kudus Gajahmada dari Semarang (1987), Kwetiau Medan Alkap dari Jakarta (1970), Cuanki Bandung Mang Udin, serta banyak lagi. Setiap tenant memiliki latar belakang dan sejarah yang unik, menjadikannya bagian dari warisan budaya Indonesia.

Dengan adanya festival ini, Mal Ciputra Jakarta tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi ruang untuk melestarikan budaya melalui rasa dan aroma makanan tradisional.

0 Komentar