Kisah Mantan Rektor UMY tentang Perjalanan Bisnis Muhammadiyah dari Kotak Amal

Featured Image

Rektor Universitas Muhammadiyah Dukung Pendirian Bank Syariah untuk Pengembangan Bisnis

Rektor Universitas Muhammadiyah periode 2020-2024, Gunawan Budiyanto, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pendirian Bank Umum Syariah Muhammadiyah. Langkah ini dianggap sebagai upaya pengembangan berbagai lini bisnis yang dimiliki oleh organisasi Islam tertua di Indonesia tersebut.

Menurut Gunawan, bisnis Muhammadiyah kini berkembang pesat dari awalnya hanya berupa sumbangan umat untuk pengembangan Rumah Sakit Pembina Kesejahteraan Umat (RS PKU) Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Ia menilai bahwa aset Muhammadiyah di seluruh Indonesia mencapai Rp 450 triliun, sehingga memiliki potensi besar dalam mengembangkan modal usaha melalui pendirian bank syariah.

"Keputusan Tanwir di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Desember 2024 lalu menjadi dasar penting bagi langkah ini," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Peran OJK dalam Pengembangan Bank Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengimbau Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk melakukan merger terhadap sejumlah BPR Syariah (BPRS) yang berada di lingkungan Muhammadiyah. Tujuannya adalah agar Muhammadiyah memiliki sebuah BPRS yang besar dan kuat, yang kelak dapat menjadi cikal bakal berdirinya Bank Umum Syariah.

Gunawan menjelaskan bahwa bisnis Muhammadiyah bermula dari sumbangan umat untuk pengembangan RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Sumbangan itu semula dikumpulkan dalam bentuk kotak amal. Saat ini, dana tersebut terus berkembang dan lebih modern, tidak hanya dalam bentuk uang tunai, tetapi juga sertifikat tanah wakaf untuk pembelian sekolah dasar.

Pengembangan Bisnis yang Luas

Organisasi ini memiliki 168 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Yogyakarta, kampus-kampus milik Muhammadiyah yang berkembang pesat antara lain Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas ‘Aisyiyah. Nilai aset UMY saat ini mencapai Rp 2 triliun.

Selain kampus, Muhammadiyah juga mengelola 15 ribu sekolah jenjang SD hingga SMA. Total jumlah Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat Muhammadiyah di Indonesia sebanyak 197 dan 350 klinik kesehatan. Seluruh aset ini tercatat atas nama pimpinan Muhammadiyah, dan jika terjadi masalah, pimpinan sesuai struktur yang ada bertanggung jawab menyelesaikannya.

Model Pengumpulan Dana dan Aset

Muhammadiyah memiliki berbagai model dalam mengembangkan dana dan aset. Salah satunya adalah model taawun, yang dalam agama Islam berarti sikap saling tolong menolong. Contohnya, kampus yang memiliki kemampuan lebih membantu kampus Muhammadiyah lainnya yang belum berkembang dengan berbagai program.

Contoh nyata adalah UMY yang menginisiasi pendirian Universitas Muhammadiyah Maluku di Ambon. Begitu pula dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping yang menginisiasi pendirian RS PKU Sleman dan Kulon Progo.

Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki model pinjam meminjam antar-pimpinan amal usaha yang mapan atau punya kemampuan keuangan lebih. Misalnya, jika RS PKU Muhammadiyah memerlukan pinjaman dana untuk peningkatan kualitas rumah sakit, UMY membantu meminjami. Balas jasanya pengembalian pinjaman ditentukan secara sukarela.

Perkembangan BPR Syariah dan Peluang Masa Depan

Sejak 2008, aturan perbankan syariah mulai berkembang, dan Muhammadiyah memiliki BPR Syariah Bangun Drajat yang menyimpan uang sejumlah amal usaha. BPR Syariah ini kini telah membuka kantor cabang di Jalan Mataram. Bangun Drajat yang mempekerjakan 60 karyawan dimiliki pimpinan wilayah Muhammadiyah.

Sejak tahun 2000, BPR Syariah Bangun Drajat tidak hanya melayani nasabah dari Yogyakarta, melainkan dari seluruh Indonesia. Bank itu misalnya melayani peminjaman uang Sekolah Muhammadiyah Kalimantan.

Dalam perkembangannya, anak usaha semakin berkembang. Sebagian aktivis Muhammadiyah yang bekerja di Otoritas Jasa Keuangan melihat peluang pengembangan usaha itu melalui Bank Syariah Muhammadiyah supaya lebih terlembaga. Cikal bakalnya adalah menggabungkan BPR syariah di Yogyakarta dan Semarang.

Visi dan Misi untuk Masa Depan

Ide mengembangkan amal usaha itu, kata Gunawan, muncul sejak Muhammadiyah menggelar Tanwir di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Desember 2024. Kampus UMY sebagai salah satu amal usaha misalnya berkembang pesat, seperti membangun hotel, asrama mahasiswa, villa, usaha katering, persewaan gedung. Kampus ingin memperluas usahanya.

0 Komentar