
Penurunan Saham Bank BUMN yang Masih Berlanjut
Pergerakan saham bank BUMN masih menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Hal ini terjadi sejak awal pekan ini, di mana beberapa bank pelat merah kembali mengalami koreksi. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu yang paling dalam dengan penurunan sebesar 5,63% menjadi Rp 4.690 per saham. Selain itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga turun masing-masing sebesar 3,35% dan 2,58%.
Tren penurunan ini sudah berlangsung sejak Presiden Prabowo Subianto resmi menjabat. Dibandingkan dengan saham bank swasta, penurunan pada bank BUMN lebih besar. Misalnya, BBNI dan BMRI telah turun masing-masing sebesar 39,23% dan 34,86% sejak 21 Oktober 2025. Harga saham keduanya belum pernah kembali ke level tertinggi saat Presiden Prabowo menjabat.
Selain itu, BBRI juga mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan bank swasta. Sejak 21 Oktober 2025, harga sahamnya turun sebesar 24,24%. Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang memiliki kapitalisasi pasar besar, hanya terkoreksi sebesar 20,14%. Bahkan, bank swasta lain seperti PT Bank Permata Tbk (BNLI) justru mengalami kenaikan hingga 156,74% dalam periode yang sama.
Faktor Penyebab Kekhawatiran Investor
Menurut Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, tekanan pada saham bank BUMN tidak bisa dipungkiri berasal dari program-program pemerintah yang memberikan beban tambahan. Hal ini membuat investor, terutama asing, cenderung menunggu dan melihat kondisi pasar lebih dulu.
Ia menjelaskan bahwa meskipun valuasi saat ini relatif murah, pemulihan sektor perbankan akan membutuhkan waktu. Pemulihan tersebut kemungkinan baru akan terlihat ketika outlook makroekonomi Indonesia membaik dan permintaan kredit mulai meningkat.
Ekky menilai BBRI sebagai salah satu saham yang menarik untuk diamati. Namun, ia menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap karena proses pemulihan sektor ini tidak instan.
Pandangan Analis Lain
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa sentimen terkait beban penugasan pemerintah memang memberikan tekanan pada harga saham bank BUMN. Meski begitu, ia menilai bahwa hal tersebut sudah termasuk dalam harga saham saat ini.
Ia menilai bahwa penugasan pemerintah harus diimbangi dengan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Contohnya, penurunan suku bunga dapat membantu kinerja bank dari sisi pendapatan dan laba.
Menurut Nafan, BBCA lebih berpeluang mencapai level tertinggi baru dibandingkan bank lain. Ia merekomendasikan untuk melakukan akumulasi beli pada BBNI, BMRI, dan BBRI dalam jangka panjang karena ada potensi kenaikan.
Perspektif Jangka Menengah dan Panjang
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, memiliki pandangan sedikit berbeda. Ia menilai bahwa program andalan dari bank milik pemerintah bisa memberikan ruang tumbuh yang lebih besar. Meski saat ini menghadapi tekanan, secara jangka menengah dan panjang, prospek bank BUMN tetap menarik.
Ia menjelaskan bahwa tekanan pada saham perbankan saat ini disebabkan oleh investor yang lebih melirik sektor lain yang lebih menguntungkan. Oleh karena itu, saham perbankan sedikit ditinggalkan.
Potensi Pemulihan dan Kepercayaan Investor
VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, berpandangan bahwa potensi saham bank BUMN kembali ke level tertinggi sebelumnya masih terbuka. Hal ini sejalan dengan kemungkinan penurunan suku bunga yang lebih cepat. Penurunan suku bunga ini dapat menekan biaya kredit dan mendorong aliran modal asing masuk ke IHSG.
Selain itu, ada potensi kinerja yang kembali solid dengan perbaikan permintaan kredit dan kualitas kredit yang terjaga. Hal ini dapat memberikan keyakinan bagi investor untuk kembali masuk ke bank besar.
0 Komentar