Indonesia Pimpin KTT D-8, Bahas Isu Palestina

Persiapan KTT D-8 Terus Dimatangkan

Pemerintah Indonesia terus mempersiapkan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing Eight (D-8) yang akan digelar pada 15 April mendatang. Wakil Menteri Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, menyatakan bahwa berbagai langkah koordinasi lintas kementerian dan lembaga telah dilakukan secara intensif, termasuk rapat terakhir yang digelar pekan lalu.

Persiapan KTT D-8 mencakup aspek substantif maupun teknis, mengingat acara ini merupakan agenda besar yang melibatkan seluruh instansi terkait. Selain KTT utama, Indonesia juga akan menggelar sejumlah pertemuan pendahuluan serta pertemuan khusus yang membahas isu Palestina dengan melibatkan negara-negara anggota D-8 dan sejumlah negara lain.

Arrmanatha menjelaskan bahwa koordinasi persiapan KTT D-8 telah dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh kementerian dan lembaga terkait. “Untuk D-8 persiapan kita terus lakukan. Minggu lalu telah kita adakan lagi koordinasi antara semua yang dipimpin oleh Wamenlu dan Wamen Sesneg, karena ini kan KTT dan seluruh instansi terkait,” ujarnya di kantornya, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Ia menambahkan bahwa rapat tersebut menjadi rapat koordinasi terakhir sebelum pelaksanaan rangkaian acara KTT. “Jadi itu rapat terakhir. Nah, ini kita akan laksanakan KTT D-8 pada 15 April,” katanya.

Sebelum KTT, Indonesia juga akan mengawali rangkaian kegiatan dengan pertemuan tingkat menteri. “Sebelumnya kami dahului dengan konferensi tingkat menteri (KTM), dengan pertemuan senior official meeting (SOM),” ujarnya.

Menurut Arrmanatha, persiapan substansi terus dilakukan secara rutin. “Setiap minggu itu ada persiapan substansi dan teknis,” kata dia.

Mendorong Kehadiran Kepala Negara dan Penguatan Peran Ekonomi D-8

Pemerintah Indonesia juga tengah mendorong kehadiran kepala negara dari negara-negara anggota D-8 dalam KTT tersebut. “Saat ini yang kita lakukan adalah untuk terus mendorong kehadiran kepala negara yang cukup besar, yang banyak, yang sebanyak mungkin. Ini terus yang kita lakukan,” ujar Arrmanatha.

Ia menegaskan bahwa Indonesia ingin memanfaatkan momentum KTT D-8 tahun ini untuk memperkuat peran negara-negara Muslim, khususnya di sektor ekonomi. “Untuk D-8 tahun ini tentunya kita ingin memperkuat peran negara-negara Muslim di sektor ekonomi,” katanya.

Menurutnya, penguatan kerja sama ekonomi antarnegara D-8 penting untuk menghadapi kondisi global yang sedang bergejolak. “Untuk bisa mengatasi situasi ekonomi global yang juga sedang tidak stabil,” ujar Arrmanatha.

Pertemuan Palestina Fokus Solusi Adil dan Bantuan Kemanusiaan

Selain agenda KTT D-8, Indonesia juga akan menggelar pertemuan khusus yang membahas isu Palestina pada hari yang sama. Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut akan melibatkan negara-negara anggota D-8 serta lima negara OKI lainnya. “Itu juga kita akan menghadirkan anggota D-8 juga lima negara OKI lainnya. Jadi itu juga akan diadakan pada tanggal 15 siang harinya,” ujarnya.

Terkait fokus pembahasan Palestina, Arrmanatha mengatakan bahwa pertemuan tersebut akan menyoroti perkembangan terkini dan langkah-langkah bersama yang bisa diambil. Ia menegaskan bahwa target utama tetap mengacu pada kesepakatan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). “Targetnya yang telah disepakati oleh OKI tentunya ujungnya adalah justice solution,” ujar Arrmanatha.

Selain itu, Indonesia juga mendorong agar bantuan kemanusiaan terus dapat masuk ke Palestina. “Kita ingin memastikan agar bantuan kemanusiaan terus dapat masuk, kita bisa mengatasi berbagai masalah kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat Palestina,” katanya.

Arrmanatha juga berharap gencatan senjata yang sedang berlangsung dapat terus dipertahankan. Terkait kehadiran kepala negara, Arrmanatha menyebut masih bersifat informal. “Kalau yang informal sudah ada indikasi positif dari beberapa kepala negara,” katanya.

0 Komentar