KH Moh Zuhri Zaini Tegaskan Ukhuwah Jadi Kunci Menjaga Stabilitas Sosial di Era Digital

PROBOLINGGO – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menegaskan bahwa ukhuwah atau persaudaraan merupakan bekal utama dalam menjaga stabilitas sosial di tengah tantangan era digital yang kian kompleks. Pesan tersebut disampaikan saat memberikan tausyiah dalam kegiatan Upgrading Kaderisasi Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDS RA) GP Ansor Jawa Timur yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (31/1/2026).

Di hadapan para kader GP Ansor dari berbagai daerah di Jawa Timur, KH Zuhri Zaini menjelaskan bahwa ukhuwah bukan sekadar konsep normatif dalam ajaran Islam, melainkan fondasi nyata yang harus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Menurutnya, persaudaraan menjadi kunci untuk mencegah konflik sosial yang mudah tersulut, terutama di ruang digital.

Ia menguraikan tiga pilar ukhuwah yang menjadi ajaran penting dalam Islam, yakni ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama muslim dan warga nahdliyin, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan, serta ukhuwah insaniyah atau persaudaraan kemanusiaan. Ketiga pilar tersebut, kata dia, harus berjalan beriringan dan tidak boleh dipertentangkan.

“Islam tidak pernah menjadikan perbedaan sebagai penghalang untuk bersaudara. Perbedaan latar belakang, pandangan, maupun kelompok adalah keniscayaan. Semua tetap saudara kita,” ujar KH Zuhri Zaini. Ia berharap nilai persaudaraan tersebut tidak hanya terjaga di dunia, tetapi juga berlanjut hingga akhirat bersama para nabi dan para masyayikh.

Lebih jauh, KH Zuhri menekankan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia atau hablum minan nas sebagai modal sosial yang sangat berharga. Ia mengingatkan bahwa banyak konflik dan kegaduhan di tengah masyarakat berawal dari rusaknya empati dan komunikasi, terutama di media sosial.

Menurutnya, era digital sering kali melahirkan apa yang ia sebut sebagai “musibah sosial”, yakni kondisi ketika seseorang lebih mudah menghakimi, menyalahkan, dan menyebarkan opini tanpa memahami konteks persoalan secara utuh. Hal ini, jika dibiarkan, berpotensi merusak persaudaraan dan keharmonisan sosial.

Sebagai refleksi, KH Zuhri menyinggung peristiwa robohnya Pondok Al-Azimi yang sempat menjadi sorotan publik. Ia menyesalkan sikap sebagian masyarakat yang justru melontarkan kritik dan tudingan di tengah suasana duka, tanpa mengetahui fakta dan sebab musabab kejadian tersebut.

“Di saat orang lain tertimpa musibah dan membutuhkan empati, justru ada yang sibuk menyalahkan. Ini tanda bahwa ukhuwah kita sedang diuji,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa cita-cita besar organisasi, termasuk GP Ansor, tidak akan tercapai tanpa adanya kebersamaan dan persaudaraan yang kuat.

Dalam tausyiah tersebut, KH Zuhri juga berpesan agar setiap persoalan diselesaikan dengan cara yang bijak dan tidak menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Ia menekankan pentingnya menahan diri, bersikap arif, dan mengedepankan solusi yang menyejukkan.

Untuk memperkuat pesannya, ia mengutip kisah Rasulullah SAW ketika menghadapi seorang badui (A’raby) yang kencing di dalam masjid. Dalam peristiwa itu, Nabi Muhammad SAW tidak membentak atau menghukum dengan keras, melainkan melarang para sahabat untuk bertindak kasar dan memilih memberikan edukasi dengan cara yang santun dan penuh hikmah.

“Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa menyelesaikan masalah tidak harus dengan kemarahan. Justru dengan kelembutan dan kebijaksanaan, masalah bisa selesai tanpa menimbulkan luka baru,” jelasnya.

Menutup tausyiahnya, KH Zuhri Zaini mengajak seluruh kader Ansor untuk memulai merawat ukhuwah dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Menurutnya, persaudaraan di ruang publik akan sulit terwujud jika keharmonisan di dalam keluarga belum terjaga dengan baik.

“Merawat ukhuwah itu dimulai dari rumah, dari keluarga, dari istri dan anak-anak kita. Jika itu kuat, insyaallah ukhuwah di masyarakat juga akan kokoh,” pungkasnya.

Kegiatan upgrading kaderisasi ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar GP Ansor Jawa Timur untuk memperkuat kapasitas dan kualitas kader. Selain sebagai ajang penguatan spiritual, kegiatan tersebut juga menjadi sarana refleksi dan pembekalan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid, sebagai bagian dari upaya menyiapkan kader Ansor yang matang secara spiritual, sosial, dan kebangsaan di masa depan. (*)

0 Komentar