Tokoh Kuningan Cigugur Beri Pernyataan Soal Kematian 700 Ikan Dewa

Tokoh Kuningan Cigugur Beri Pernyataan Soal Kematian 700 Ikan Dewa

Kematian Massal Ikan Dewa di Kolam Keramat Cigugur

Kolam keramat di Kelurahan Cigugur, Kuningan, kembali menjadi perhatian masyarakat setelah terjadi kematian massal ikan dewa. Jumlah ikan yang mati mencapai lebih dari 700 ekor, dengan data terbaru menunjukkan sebanyak 762 ekor ikan dewa yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Penyebab Kematian Ikan Dewa

Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kuningan, Deni Irianto, penyebab kematian ikan dewa diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan kolam. Pihaknya mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan penataan lingkungan kolam untuk menstabilkan sirkulasi air.

"Kini sedang dilakukan pembongkaran saluran outlet atau air keluar dari kolam," ujar Deni. Hal ini dilakukan sebagai langkah pencegahan agar kondisi air tetap stabil dan layak untuk kehidupan ikan.

Selain itu, hasil autopsi terhadap beberapa bangkai ikan menunjukkan adanya parasit dalam tubuh ikan. Parasit tersebut terlihat seperti cacing tubuh dalam insang dan saluran pencernaan yang kurang nutrisi.

Masalah Ekosistem dan Bisnis Air

Tokoh masyarakat setempat, Aang Taufik, Ketua LPM Kelurahan Cigugur, menyampaikan bahwa kondisi kolam sudah berubah sejak beberapa tahun terakhir. Ia menduga ada perusakan ekosistem akibat pemanfaatan air secara komersial oleh BUMD (Badan Usaha Milik Daerah).

"Sumber mata air di Kolam Keramat Cigugur ini terdapat lebih dari satu. Total debit air yang keluar itu lebih dari 100 liter per detik," kata Aang. Ia juga menjelaskan bahwa kontrak bisnis antara pemerintah daerah dan BUMD terus berlangsung hingga saat ini.

Ia menambahkan bahwa selama masa kepemimpinan Dirut PAM Tirta Kamuning (alm) Deni Erlanda, kompensasi yang diberikan sebesar Rp 128 juta per tahun. Namun, setelah pergantian direksi, jumlah kompensasi berkurang drastis hingga hanya Rp 80 juta per tahun.

Upaya Pemerintah dan Masyarakat

Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, turut mengunjungi lokasi Kolam Keramat untuk melihat langsung kondisi ikan dewa yang mati. Ia menyampaikan rasa prihatin atas kondisi yang terjadi.

"Iya laporan tadi, jumlah ikan dewa mati sebanyak 762 ekor, ini sangat prihatin tentunya," ujar Tuti. Ia menegaskan bahwa semua upaya telah dilakukan, termasuk penataan infrastruktur saluran air kolam.

Tuti juga mengungkapkan bahwa kolam ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. "Dulu saya juga pernah latihan dan bisa renang, ya di kolam ini," katanya.

Pihak pemerintah juga telah melakukan pemugaran bangunan saluran air kecil sebagai bagian dari upaya pelestarian kolam. Selain itu, Aang meminta agar sumur atau kubangan yang ditutup permanen dibongkar agar ikan tidak menghilang ketika kolam dikuras.

Keberlanjutan Wisata Alami

Kolam Cigugur yang dikelola oleh BUMD PDAU Kuningan merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terletak di wilayah TNGC (Taman Nasional Gunung Ciremai). Kolam ini juga dikelola bersama dengan pemerintah daerah melalui BUMD.

Deni Irianto menjelaskan bahwa pihaknya terus bekerja keras untuk memperbaiki tata kelola air agar dapat memberikan oksigen yang cukup bagi kehidupan ikan. Selain itu, mereka juga menyediakan kolam pemulihan atau karantina bagi ikan-ikan yang mengalami gangguan penyakit.

"Ikan dewa yang pada mabok atau seperti sekarat, itu dilakukan pengambilan untuk dimasukkan ke kolam pemulihan. Namun, secara teknis dibantu warga dan ikan hasil tangkapan itu akan masuk wadah berisi air obat. Kemudian setelah beberapa menit selanjutnya ikan masuk kolam karantina," jelas Deni.

Langkah Teknis dan Evaluasi

Sekitar 30 tahun terakhir, kolam tidak pernah dikuras, sehingga kondisi air berbeda dengan dulu. Menurut Kepala Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, Putu Bagiasna, hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem aliran air mengalami gangguan yang memengaruhi kualitas air dan sirkulasinya.



0 Komentar