
Kehidupan yang Terancam oleh Harimau Sumatra di Kampung Benteng Hulu
Pada malam 6 Februari 2026, suasana kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, tiba-tiba dihiasi suara jerit panik. Seorang ibu dengan tubuh gemetar berteriak, "Beliau datang lagi, beliau datang lagi…!" Di depan pintu belakang rumah, sebuah harimau Sumatra berdiri tegap dan diam menatap. Peristiwa ini bukanlah pertama kalinya terjadi. Bagi keluarga Masruri, malam itu menjadi bagian dari rangkaian kecemasan selama 22 hari terakhir.
"Ketika ibu saya teriak, saya langsung ambil senter," kata Yudi, anak Masruri. Dari balik jendela, ia mengintip cahaya senter yang memantul ke mata sang raja rimba. Mereka saling menatap dalam jarak dekat. "Ya Allah, besar sekali. Dia menatap ke arah cahaya senter kami. Mungkin terganggu, lalu pergi ke arah semak-semak," ujar Yudi.
Harimau itu datang untuk kedua kalinya ke kandang kambing milik ayahnya. Kedatangan pertama terjadi pada 23 Januari 2026, saat dua ekor kambing diseret dan dimangsa. Sejak kejadian itu, Masruri menutup kandang dengan seng bekas. Upaya sederhana yang berhasil menyelamatkan ternak, namun tidak mengusir ancaman.
"Dia tetap datang malam-malam, mutar-mutar di bawah kandang, tapi tak dapat celah," kata Yudi. Sejak saat itu, keluarga Masruri memilih berdiam di rumah. Keluar setelah matahari terbenam bukan lagi pilihan.
Menunggu Solusi yang Tak Kunjung Datang
Masruri berharap Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bertindak cepat. Dua kali kehadiran harimau di rumahnya telah mengubah hidup keluarga itu menjadi siaga tanpa henti. "Sudah 22 hari kami hidup dalam ketakutan. Sampai hari ini solusi dari BBKSDA belum tampak," kata Masruri.
Harapan itu sempat tumbuh saat dua kamera trap dipasang di depan dan samping kandang. Namun harapan itu pula yang runtuh. "Kamera dipasang setelah kejadian 23 Januari. Tapi tiga hari sebelum harimau datang lagi, petugas bilang kamera itu tidak bisa menyimpan gambar," ujarnya dengan nada kecewa.
Ia mengaku kesal. Bahkan sempat ingin membuang kamera tersebut. Namun niat itu diurungkan karena takut berurusan dengan hukum. "Mereka datang, bertanya-tanya, pasang kamera yang tak berfungsi, menyuruh kami waspada. Tapi kandang jebak belum juga dipasang," katanya.
Akibatnya, Masruri terpaksa berjaga setiap malam. Sementara siang hari ia harus mencari rumput untuk memberi makan 13 ekor kambingnya yang tersisa. "Secara fisik saya sudah tidak kuat. Pernah terpikir menjual semua kambing ini, supaya harimau tak datang lagi," ucapnya.
Di tengah kelelahan itu, Masruri sadar bahwa bertindak sendiri bukan pilihan. Padahal opsi itu telah dibicarakan warga. "Kalau kami menjerat atau menembak, kami yang akan berhadapan dengan hukum. Karena itu hewan dilindungi, namun jika tidak, nyawa kami menjadi ancaman, harusnya BBKSDA memahami ini," katanya.
Ketakutan di SPBU Mempura
Setelah gagal memangsa kambing Masruri, harimau itu bergerak ke belakang SPBU Mempura. Dari sana, ia kembali menampakkan diri di belakang rumah Dwi Rahayu, Jumat malam, 6 Februari 2026, sekitar pukul 22.14 WIB. Beberapa jam sebelumnya, harimau itu masih berada di kandang kambing Masruri.
"Waktu itu suami saya baru masuk rumah. Angsa di kandang terdengar ribut, satu sayapnya terangkat. Suami lihat CCTV dari kamar, ternyata ada harimau di belakang agak kesamping rumah," ujar Dwi Rahayu. Sementara ia sendiri mengintip dari lubang dinding. Yang dilihatnya membuat tubuhnya merinding. Seumur hidup, baru ini pertama kali ia menatap harimau dengan gagahnya.
"Besar sekali. Tingginya hampir sama tinggi dengan induk sapi," katanya. Harimau itu sempat minum air di samping rumah sebelum pergi ke arah jalan nasional.
Sejak malam itu, rasa takut menguasai rumah kecil mereka. Kondisinya semakin berat karena toilet keluarga terpisah dari bangunan rumah. "Tiga hari saya menahan BAB. Tidak berani ke WC," kata Rahayu dengan suara bergetar.
BPBD Siak Turun ke Lokasi, Berharap BBKSDA Riau Lebih Kongkret
BPBD Kabupaten Siak turun ke kampung Benteng Hulu menenangkan warga. Selain itu juga melakukan koordinasi lintas instansi. Kepala Pelaksana BPBD Siak, Novendra Kasmara, mengatakan pihaknya menerima laporan dari masyarakat serta pemerintah setempat. Mulai dari penghulu kampung hingga camat Mempura. BPBD, kata dia, siap bergerak sesuai tugas dan fungsi yang dimiliki, khususnya dalam aspek animal rescue.
"BPBD Siak telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Namun untuk penanganan Harimau Sumatra, kami tidak memiliki kewenangan langsung karena satwa tersebut merupakan hewan dilindungi dan menjadi kewenangan penuh BKSDA," kata Novendra.
Meski demikian, BPBD Siak tetap melakukan langkah-langkah awal untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Salah satunya dengan turun langsung ke lapangan bersama unsur pemerintah kampung, kecamatan, serta Babinsa.
Kamera Trap Belum Rekam Harimau, BBKSDA Riau Terus Pantau Benteng Hulu
BBKSDA Riau masih melakukan pemantauan intensif terkait dugaan kemunculan Harimau Sumatera di Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak. Hingga kini, kamera trap yang dipasang di lokasi belum berhasil merekam keberadaan satwa dilindungi tersebut meskipun kamera CCTV warga berhasil menangkap rekamannya.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan pihaknya menerima laporan masyarakat pada Sabtu, 7 Februari 2026, terkait dugaan kemunculan harimau di permukiman warga RT 14/RW 14. Menindaklanjuti laporan itu, tim Resort Siak langsung turun ke lapangan untuk melakukan mitigasi konflik.
"Dari hasil identifikasi di lapangan, ditemukan jejak kaki yang diduga Harimau Sumatera berukuran sekitar 12 sentimeter serta bulu ayam di sekitar rumah warga. Namun hingga saat ini kamera trap yang dipasang belum menangkap visual satwa," kata Supartono.
Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan warga, kejadian bermula pada malam hari ketika terdengar suara hewan ternak berisik dari arah hutan. Keesokan paginya, seorang warga bernama Nanang mendapati dua ekor ayam dan satu ekor anak kucingnya hilang.
Meski kamera trap belum membuahkan hasil, BBKSDA Riau telah menambah satu unit kamera trap di titik lain untuk memperluas jangkauan pemantauan. Tim juga melakukan pemantauan menggunakan drone dan mendapati lokasi berada di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL), dengan arah pergerakan satwa menuju kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang berjarak sekitar 1,3 kilometer dan menjadi koridor menuju Taman Nasional Zamrud.
Supartono menambahkan, pihaknya telah mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas sendirian pada malam hari, serta mengamankan ternak di kandang tertutup. "Saat ini kami masih terus memantau situasi di lapangan dan menunggu perkembangan lebih lanjut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya," pungkasnya.
0 Komentar