Kehidupan Ana Maria Van Vallen: Dari Anak Adopsi ke Pemimpin Komunitas

Ana Maria Van Vallen, yang dikenal dengan nama panggilannya, mengenalkan dirinya kepada para pembaca. Di layar ponselnya, ia menceritakan kisah hidupnya, termasuk kemampuannya berbahasa Indonesia yang cukup baik meskipun masih terdengar sedikit aksen Belanda. Sebagai anak adopsi asal Indonesia, Ana berhasil bertemu kembali dengan orang tua kandungnya di Bogor pada tahun 1994. Selama ini, dia dikenal sebagai sosok yang membantu sesama anak adopsi Indonesia di Belanda dalam menelusuri keluarga biologis mereka.
Ana tumbuh dan berkembang di Belanda sejak usia dua setengah tahun. Saat itu, ia dibawa dari panti asuhan di Jakarta ke negara tersebut. Di sana, ia tinggal bersama tiga saudara laki-laki. Ibunya di Belanda ingin memiliki anak perempuan, sehingga mengadopsi Ana dari Jakarta. Namun, ketika usianya menginjak 12 tahun, keinginan untuk mengetahui asal-usulnya mulai tumbuh dalam dirinya. Ia ingin mengenal siapa orang tua kandungnya. Di masa itu, tangis sering menjadi cara untuk mengekspresikan perasaan yang sulit dijelaskan.
Pada usia 18 tahun, orang tua angkatnya memberi izin baginya untuk kembali ke Indonesia mencari jejak keluarganya. Janji itu disimpan oleh Ana hingga akhirnya ia kembali ke tanah air. Dia datang dengan membawa selembar akta kelahiran yang hanya berisi satu nama dan satu desa. Petunjuk yang sangat terbatas membawanya ke sebuah tempat yang jauh dari jalan besar, tersembunyi di kawasan pegunungan. Di lereng Gunung Salak, Bogor, ia mulai menelusuri kembali potongan awal dari hidupnya. Akhirnya, ia berhasil menemukan ibunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Ana memilih untuk tinggal sementara di Indonesia. Kini, ia sudah berada di Indonesia selama sepuluh tahun. Perjalanan pencarian jati dirinya kini berubah menjadi misi kemanusiaan. Dari pengalamannya sendiri, Ana menyadari bahwa banyak orang mengalami kisah serupa. Ia kemudian membentuk sebuah komunitas yang membantu individu mencari orang tua kandung mereka. Melalui wadah ini, ia berbagi pengalaman, menghubungkan cerita, dan membuka jalan bagi mereka yang ingin menemukan kembali akar serta identitas dirinya.
Ana menjelaskan bahwa upayanya membantu sesama dilakukan dengan pendekatan langsung dan digital. "Saya pergi ke RT, RW, ke tempat desa, di kota admin… tapi sedikit sulit," ujarnya. Ia lalu membangun jaringan melalui media sosial untuk menyebarkan cerita dan pencarian. Kini, Ana sudah punya tim yang bekerja sama menghubungkan kisah hidup tiap individu yang berupaya mencari orang tua kandung mereka.
Selama sepuluh tahun menjalankan komunitas ini, total sudah ada delapan puluh keluarga yang kembali bertemu, merasakan peluk hangat dan mengenal akar serta identitas mereka. Namun, nyatanya, lima puluh persen dari kasus yang ditangani berkaitan dengan dokumen palsu. "Alasan ibu tidak mampu berpisah luar nikah tapi waktu ketemu ada juga ayah. So ada alasan palsu juga. Tapi ada delapan puluh ketemu tapi masih ada seratus lebih masih cari," kata Ana.
Banyak Anak Indonesia Diadopsi ke Luar Negeri

Ana mencatat bahwa kasus serupa tidak hanya terjadi di Belanda, tetapi juga melibatkan negara lain seperti Prancis, Swedia, Norwegia, Amerika, dan Australia. "Tahun 70–80 banyak anak keluar negeri," ujarnya. Dia menyebut sekitar lima ribu anak diadopsi pada periode tersebut, dengan tiga ribu ke Belanda dan sisanya ke negara lain. Meski Indonesia menghentikan adopsi internasional pada tahun 1983, data sebelumnya dinilai belum sepenuhnya terungkap.
"Itu yang ada hitam di atas putih, belum lagi yang kita tidak tahu," katanya. Dia juga menyinggung adanya praktik "baby farm" sebagai bagian dari pasar ilegal adopsi saat itu.
Tantangan dalam Mencari Orang Tua Kandung

Tantangan mencari orang tua kandung bukan hanya dari dokumen saja. Masih ada masalah jika sanak keluarga sudah meninggal atau merasa proses ini hal yang tabu. Tidak hanya itu, perubahan wilayah seperti alamat yang hilang karena sudah berganti menjadi gedung jika alamat ada di kota besar.
Ana meyakini bahwa setiap anak berhak mengetahui asal-usulnya. Meski banyak yang tumbuh dalam keluarga adopsi yang baik, dia menilai perpisahan sejak bayi meninggalkan trauma, termasuk kehilangan budaya, bahasa, dan identitas. "Tidak kompli, selalu ada rasa sedih," kata dia. Ia juga menyinggung perbedaan sistem dan kultur, serta temuan adopsi ilegal pada 1970–1980an. Dalam pendampingannya, Ana menemukan kasus bayi dinyatakan meninggal padahal tidak, hingga dokumen palsu. "Ini juga hak ibu," katanya.
Keberlanjutan Komunitas dan Harapan Masa Depan

Dengan komunitas yang telah dibangun, Ana berharap dapat membantu lebih banyak anak adopsi untuk menemukan kembali akar dan identitas mereka. Ia percaya bahwa setiap orang berhak mengetahui asal-usulnya, terlepas dari latar belakang dan kondisi yang mereka alami. Dengan bantuan teknologi dan kerja sama antar komunitas, Ana optimis bahwa banyak hal bisa diubah untuk masa depan yang lebih baik.
0 Komentar