Kondisi Geopolitik yang Mempengaruhi Ekspor Indonesia
Kondisi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dengan AS dan Israel, telah menciptakan ketidakpastian bagi sektor ekspor Indonesia. Para pelaku usaha ekspor merasakan dampak dari situasi ini, baik dalam hal ketersediaan bahan baku maupun biaya logistik.
Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahadi, menjelaskan bahwa ada dua tantangan utama yang dihadapi para eksportir akibat kondisi geopolitik saat ini. Pertama adalah ketidakpastian atau uncertainty yang menghambat perencanaan bisnis. Kedua adalah keterbatasan bahan baku, termasuk bahan kemasan seperti plastik, yang memengaruhi rantai pasok.
Mega Global Food Industry, yang bergerak di bidang makanan olahan, mengekspor produknya ke 55 negara. Namun, saat ini perusahaan mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan kemasan karena gangguan pasokan bahan baku yang diperparah oleh konflik di kawasan tersebut.
"Kita juga dihadapkan pada kelangkaan bahan kemas. Rantai pasok terdisrupsi," ujarnya dalam media briefing pada Jumat (17/4/2026).
Meski begitu, perusahaan tetap berusaha mengambil peluang dari situasi ini. Richard mengatakan bahwa ketika negara lain terganggu, biasanya akan ada ruang kosong yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku bisnis Indonesia.
"Kami selalu lihat peluang, pada saat negara lain terdisrupsi, pasti ada supply yang berkurang dari negara lain. Di sana peluang kita masuk," katanya.
Tantangan Biaya Logistik
Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, juga menyampaikan bahwa kondisi geopolitik yang panas memberikan tantangan terhadap biaya logistik. Perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, khususnya memproduksi sarung tangan untuk pasar ekspor, menghadapi peningkatan biaya pengiriman.
Pasar utama perusahaan saat ini masih berkisar pada Jepang dan AS. Namun, untuk mengurangi risiko, perusahaan melakukan strategi diversifikasi dengan menargetkan pasar negara lain.
"Tim marketing kami jadinya lebih agresif sasar pasar yang lebih menyeluruh, terakhir kita dapat dari South Africa," ujarnya.
Tantangan Pembiayaan Ekspor

Ilustrasi ekspor/rpx
Direktur Pelaksana Bisnis II Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, Sulaeman, menjelaskan bahwa kondisi geopolitik yang sedang memanas berdampak terhadap aktivitas bisnis dari debitur LPEI atau eksportir.
"Kami berhati-hati, kami juga melakukan stress testing. Kami mau masuk di sektor mana yang saat ini kami nilai relatif aman dengan situasi geopolitik seperti sekarang," kata Sulaeman.
Dia menilai bahwa kondisi geopolitik secara tidak langsung memengaruhi sektor manufaktur, terutama karena ketersediaan bahan baku yang terganggu. Misalnya, bahan baku plastik untuk kemasan sudah pasti terpengaruh karena kenaikan harga.
"Ya misalnya untuk kemasan, saya juga sampaikan bahan baku plastik itu sudah pasti terpengaruh karena naik gitu kan. Terus bahan baku yang lain juga pasti akan melibatkan. Nah ini harus dilihat dari sisi impact-nya terhadap margin," jelasnya.
Untuk menghadapi skenario terburuk, LPEI melakukan berbagai langkah antisipasi. Salah satunya adalah membuka negara tujuan ekspor baru sebagai alternatif dari pasar tradisional seperti AS, Jepang, dan Eropa.
"Justru kita mengembangkan dengan program PKE [penugasan khusus ekspor] itu tujuan ekspor baru, agar ada diversifikasi negara tujuan ekspor. Yang namanya Afrika, Asia Selatan itu termasuk kawasan yang menjadi tujuan ekspor baru," katanya.
Proyeksi Ekspor Lesu

Bongkar muat barang di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (30/12/2024)/JIBI/Bisnis/Paulus Tandi Bone
LPEI memproyeksikan pertumbuhan ekspor Indonesia pada 2026 sebesar 4%–5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan capaian kinerja ekspor Indonesia pada 2025 yang tumbuh sebesar 6,15% YoY menjadi US$282,91 miliar.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, meyakini bahwa dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia relatif terbatas, karena eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil. Data menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional, sedangkan impor dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional.
Namun, risiko utama datang dari efek tidak langsung, seperti kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama.
"Tentu kalau ini [eskalasi konflik AS–Israel dan Iran] nggak selesai, misalnya, nggak selesai terus-menerus ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu," kata Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Namun, Budi optimistis bahwa kinerja ekspor nasional dapat tumbuh positif dan mengantongi surplus dengan memanfaatkan perubahan peta perdagangan global. Salah satu strateginya adalah diversifikasi pasar ekspor ke kawasan yang relatif tidak terdampak konflik, seperti negara-negara mitra dalam kerja sama Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Amerika Latin, hingga Afrika.
0 Komentar