
Pameran DRT SHOW 2026: Tantangan dan Peluang Wisata Bahari Indonesia
Pameran olahraga selam terbesar di Asia Pasifik, Diving, Resort, and Travel (DRT) SHOW, yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, telah resmi berakhir pada Minggu (19/4). Acara ini menjadi momen penting bagi berbagai pihak yang terlibat dalam industri wisata bahari dan konservasi laut. Banyak harapan positif muncul dari peserta pameran, mulai dari organisasi nirlaba hingga perusahaan pengelola wisata selam.
SORCE: Konservasi Laut Berbasis Penelitian dan Partisipasi Masyarakat
Salah satu organisasi yang hadir dalam pameran adalah Sustainable Oceanic Research, Conservation, and Education (SORCE). SORCE merupakan sekolah lapangan yang fokus pada penelitian, konservasi, dan edukasi kelautan berkelanjutan. Raja Aditya Siagian, Marine Scientist SORCE, menjelaskan bahwa organisasi ini memulai langkahnya di Indonesia, khususnya di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).
Fokus utama SORCE adalah memastikan masa depan ekosistem laut melalui dua pilar utama: aksi ilmiah dan pelibatan publik. "Kami melakukan penelitian berbasis data untuk pelestarian lingkungan, serta mengajak masyarakat lokal untuk aktif berkontribusi dalam menjaga laut, seperti konservasi mangrove dan terumbu karang," ujar Raja.
Pertumbuhan Industri Selam di Indonesia
Di sisi lain, industri olahraga selam di Indonesia diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan dalam 6-7 tahun ke depan. Jukung Dive, operator selam yang berbasis di Bali, secara aktif memperkuat jejaring dan strategi pemasaran melalui DRT Show 2026. Jessica Sergeant, Marketing Manager Jukung Dive, menyatakan bahwa partisipasi dalam pameran ini bertujuan untuk menjangkau pasar domestik dan memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan di industri olahraga selam.
"Kami melihat pasar lokal Indonesia akan tumbuh masif dalam beberapa tahun ke depan. Kehadiran kami di sini adalah langkah awal untuk menanamkan pengaruh dan terus berkembang bersama pasar tersebut," ujar Jessica.
Jukung Dive juga memiliki kepedulian terhadap masalah lingkungan. "Kami belajar banyak dari berbagai NGO mengenai restorasi terumbu karang. Hal ini menjadi tren besar, terutama bagi wisatawan dari Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Kami berencana mengintegrasikan program konservasi ini ke dalam layanan Jukung Dive di Nusa Penida, Bali," tambahnya.
Tompotika: Destinasi Selam yang Menjadi Contoh Konservasi
Anais Jacob, Marketing Manager Dive Lodge Tompotika, juga menyampaikan pandangan serupa. Tompotika, yang terletak di Semenanjung Balantak, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dikenal sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati dan upaya konservasi laut yang kuat.
"Untuk urusan menyelam, Indonesia adalah situs kelas dunia. Keindahan terumbu karangnya, keberagaman biota makro, hingga topografi bawah lautnya sangat luar biasa. Dunia bawah laut Indonesia perlu dijaga secara berkelanjutan demi kepentingan lingkungan," ujar Anais.
Dukungan Pemerintah untuk Pengembangan Wisata Bahari
Sementara itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan wisata bahari, khususnya sektor selam (diving), melalui DRT SHOW Indonesia 2026. Dedi Ahmad Kurnia, Asisten Deputi Mancanegara 1 Deputi Pemasaran Kemenpar, menyatakan bahwa diving merupakan subsektor wisata bahari yang memiliki pertumbuhan paling cepat.
"Kegiatan seperti ini tentu saja kita dukung untuk membesarkan pasar dulu. Kami sering mengikuti kegiatan promosi di luar negeri, dan banyak sekali agen perjalanan atau operator selam internasional yang menjual destinasi Indonesia," ujar Dedi.
0 Komentar