Embarkasi Haji Tanpa Asrama di Yogyakarta Mulai Beroperasi Tahun Ini, Kediri Siap 2027

Inovasi Baru dalam Pelayanan Haji

Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, mengumumkan inovasi baru yang akan diterapkan dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Inovasi tersebut adalah penggunaan embarkasi berbasis hotel di sekitar kawasan bandar udara internasional tanpa perlu memiliki asrama haji. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan bagi jamaah haji.

Pilot project untuk inovasi ini akan dijalankan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut Gus Irfan, sapaan akrabnya, pilihan DIY didasarkan pada ketersediaan hotel yang dekat dengan bandara dan memenuhi standar kualifikasi Kementerian Haji dan Umrah.

"Kita coba tahun ini di Yogyakarta. Kebetulan, ada hotel yang berdekatan dan tidak jauh dari bandara. Kita uji coba untuk tahun ini. Kita membuka Embarkasi Yogyakarta tanpa memiliki asrama haji. Saya minta kepada tim di sana untuk benar-benar bekerja dengan serius," ujarnya usai pelantikan PPIH di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.

Sebelumnya, para jamaah haji asal Provinsi DI Yogyakarta biasanya diberangkatkan melalui Asrama Haji Embarkasi Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, kemudian terbang menuju Arab Saudi lewat Bandara Internasional Adi Soemarmo, Surakarta, Jawa Tengah.

Tahun ini, sebanyak 9.320 jamaah haji asal Provinsi DI Yogyakarta serta bekas wilayah Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, seperti Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, hingga Kabupaten Kebumen, akan bertolak ke Tanah Suci melalui Embarkasi Yogyakarta, yaitu lewat Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kabupaten Kulon Progo.

Gus Irfan menjelaskan bahwa pengembangan Embarkasi Yogyakarta bukan tanpa alasan. Menurutnya, Yogyakarta memiliki bandar udara bertaraf internasional serta penginapan di sekitar area bandara yang telah memenuhi kualifikasi Kemenhaj.

"Secara fisik, secara teknis, bandaranya harus bagus, yang layak. Bahkan untuk pesawat besar yang berukuran triple seven pun bisa. Kemarin kita sudah simulasi dua kali [di Yogyakarta], dan Alhamdulillah semuanya berjalan baik. Mudah-mudahan dengan dua kali simulasi, kita temukan beberapa kekurangan, nanti bisa berjalan dengan baik," paparnya.

Menurut Gus Irfan, kebijakan ini tidak hanya terbatas pada Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk menerapkan inovasi serupa di daerah lain jika hasil penyelenggaraan haji di Embarkasi Yogyakarta tahun ini menunjukkan hasil yang memuaskan.

"Jika Yogyakarta tahun ini berhasil, maka tahun depan InsyaAllah diteruskan, dan akan diikuti beberapa daerah lain yang ingin menjadi embarkasi, tapi tidak memiliki asrama haji," tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Irfan menyatakan bahwa daerah selanjutnya yang berpeluang menjadi embarkasi tanpa asrama haji adalah wilayah Kediri, Jawa Timur. Menurutnya, Bandar Udara Internasional Dhoho telah memenuhi kualifikasi sebagai lokasi embarkasi haji di masa mendatang.

Ia bahkan sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk merealisasikan rencana tersebut.

"Jawa Timur seperti saya sampaikan, izin ke Bu Khofifah, tahun depan kita tambah [Embarkasi] Dhoho. Ada [Embarkasi] Juanda, ada Dhoho, Kediri, tapi mungkin kita bicara asrama hajinya yang mungkin harus kita diskusikan lagi dengan pemerintah provinsi," pungkasnya.

0 Komentar