Strategi Indonesia dalam Meningkatkan Ekspor di Tengah Ketidakpastian Global
Dalam situasi geopolitik yang semakin memanas, Indonesia melihat peluang besar untuk memperkuat posisi ekspornya, terutama di pasar-pasar non-tradisional. Dinamika ini menciptakan turbulensi pada rantai pasok global, namun juga memberikan celah strategis bagi negara-negara seperti Indonesia untuk mengisi kekosongan pasar.
Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Tony Prianto, menjelaskan bahwa skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) dirancang untuk memberikan daya dorong bagi eksportir yang membidik negara-negara non-tradisional. Di tengah disrupsi yang dialami pemain besar seperti China akibat ketegangan dengan Amerika Serikat (AS), produk Indonesia justru memiliki kesempatan untuk mengisi kekosongan pasar.
Menurut Tony, PKE hadir sebagai solusi bagi hambatan struktural yang sering dihadapi pengusaha, seperti keterbatasan modal kerja atau ketiadaan rekam jejak (goodwill) yang cukup untuk mengakses perbankan komersial. Jika sekarang sudah terjadi perang, kemudian geopolitik juga genting, kata Tony, itu justru memberikan peluang bagi pengusaha. Pasar yang biasanya dikuasai China terdisrupsi, dan di sinilah PKE memberikan tambahan dukungan, baik dari sisi penjaminan maupun modal kerja.
"PKE sekarang sudah cukup mumpuni mendukung pengusaha baru maupun yang sudah ada. Harusnya gejolak ini bisa jadi sisi positif untuk meningkatkan jumlah ekspor," ujar Tony Prianto saat berbicara dalam acara Kunjungan Kerja Pers 2026 bertema “Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dukung Pertumbuhan Ekonomi”, di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).
Kejelasan Transaksi dan Antisipasi Risiko
Hal senada juga disampaikan Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman. Ia menjelaskan dalam situasi yang tidak menentu, pemilihan produk dan kejelasan transaksi (underlying) menjadi variabel kunci. LPEI memastikan setiap pembiayaan, mulai dari pengadaan bahan baku (trade finance) hingga pascapenjualan (post-financing), memiliki dasar yang akuntabel guna menjaga kesehatan finansial perusahaan di tengah dampak sistemik geopolitik.
Sulaeman mengatakan LPEI melakukan stress testing terhadap seluruh portofolio untuk melihat siapa saja yang terdampak gangguan rantai pasok. Langkah ini diambil untuk memetakan dampak gangguan rantai pasok terhadap portofolio eksportir, khususnya mereka yang memiliki basis pembeli di wilayah konflik seperti Timur Tengah.
"Namun, kami sudah melakukan antisipasi. Sangat penting bagi kami untuk memastikan underlying dari produk perdagangan tersebut jelas, baik untuk bahan baku maupun penjualan. Meski ada dampak ke finansial masing-masing perusahaan, antisipasi ini menjaga agar portofolio tetap terkendali," jelas Sulaeman.
Solusi Cash Flow di Tengah Kelangkaan Bahan Baku
Sementara itu, dampak nyata dari ketegangan global dirasakan langsung oleh sektor manufaktur, khususnya industri makanan olahan. Kelangkaan bahan baku kemasan yang berbasis minyak bumi (plastik) menyebabkan disrupsi produksi dan perubahan skema transaksi di tingkat supplier global yang kini kerap menuntut pembayaran di muka (cash in advance).
Direktur PT Mega Global Food Industry (MGFI), Richard Cahadi, mengungkapkan dukungan finansial dari LPEI menjadi instrumen krusial dalam menjaga kelancaran arus kas perusahaan di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat. Tanpa dukungan tersebut, perusahaan akan kesulitan mengamankan pasokan bahan baku di tengah persaingan global yang agresif.
“Tugas utama kita adalah mengamankan suplai. Bayangkan biskuit yang sudah keluar dari oven harus segera dikemas, namun bahan kemasan langka dan supplier minta bayar di depan. Jika kita tidak didukung LPEI, kita pasti akan kesulitan cash flow untuk membeli bahan baku lebih dulu. Fasilitas ini memungkinkan kita mengamankan kemasan lebih awal,” ungkap Richard.
Produk Indonesia Jadi Alternatif Utama

Biskuit di bawah merek dagang Kokola produksi PT Mega Global Food Industry (MGFI), di Gresik, Jawa Timur. - (PT Mega Global Food Industry (MGFI))
Lebih lanjut, Richard melihat adanya pergeseran peta konsumsi di Amerika Serikat sebagai dampak perang dagang dengan China. Produk biskuit dan cookies asal Indonesia kini menjadi alternatif utama bagi pembeli di Amerika yang menghindari tarif tinggi dari China. Situasi ini diperkuat dengan posisi daya saing harga produk Indonesia yang tetap kompetitif meskipun nilai tukar mata uang global sedang berfluktuasi.
Dalam siklus ekonomi saat ini, Indonesia diuntungkan oleh biaya produksi yang relatif lebih terkendali dibandingkan negara-negara pesaing yang juga mengalami pelemahan mata uang, namun dibebani biaya energi dan produksi yang lebih tinggi.
“Ketika tarif antara China dan AS sedang tinggi-tinggian, mereka mencari suplai dari negara lain, dan kita punya kesempatan besar di situ. Dari sisi kurs, selisih mata uang ini jelas menguntungkan daya saing kita. Walaupun bahan baku impor jadi mahal saat rupiah melemah, secara keseluruhan kita memiliki keuntungan yang bagus karena biaya produksi di negara lain justru melonjak lebih tinggi,” ujar Richard.
0 Komentar