
Tantangan Industri Plastik dan Kemasan Akibat Konflik di Timur Tengah
Industri plastik dan kemasan di Indonesia menghadapi tantangan signifikan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, menjelaskan bahwa para pelaku industri mulai mewaspadai ketidakpastian rantai pasok dan kenaikan harga bahan baku. Hal ini terlebih karena sekitar 50% hingga 60% dari bahan baku plastik untuk kemasan masih bergantung pada impor.
"Kapasitas dalam negeri hanya mampu memenuhi maksimal 50% dari kebutuhan. Belum lagi jenis plastik yang beragam, tidak semuanya bisa dipenuhi dalam negeri," ujar Henky saat dihubungi gubukinspirasi.id.co.id, Jumat (13/3/2026). Ia menambahkan bahwa kondisi industri kemasan plastik dan bisnis terkait saat ini sangat tidak mudah.
Bahan baku utama untuk kemasan plastik adalah Polypropylene (PP) dan Polyethylene (PE), yang sebagian besar diimpor dari Singapura, Thailand, China, India, Korea Selatan, serta negara-negara di kawasan Timur Tengah. Namun, beberapa produsen dari kawasan tersebut telah menyatakan keadaan force majeure, sehingga membuat prediksi stok menjadi sulit.
"Kemungkinan stok tersedia bisa bertahan 2-3 bulan lagi, tapi juga bisa lebih singkat," jelas Henky. Dengan situasi ini, pelaku industri terpaksa mempertahankan stok yang ada sambil mencari alternatif pasokan dan inovasi produk.
Kenaikan Harga Bahan Baku yang Signifikan
Kenaikan harga bahan baku plastik mencapai 80% hingga 100%, bahkan bisa dua kali lipat dibandingkan harga normal sebelum perang Timur Tengah. Porsi biaya bahan baku dalam total biaya kemasan berkisar antara 50% hingga 70%. Meski begitu, kenaikan harga di pasar atau tingkat konsumen akan bergantung pada strategi pengusaha dalam menjaga margin.
"Bisa dibayangkan, bagi produsen kemasan harus menaikkan harga jual atau memotong margin keuntungan? Bagi produk jadi, harus menghitung dari elastisitas permintaan. Maka perlu kolaborasi dan inovasi bersama antara produsen kemasan dan pemilik merek," terang Henky.
Para pelaku industri pun memperkuat kolaborasi dan inovasi sebagai bentuk strategi mitigasi. Produsen kemasan berkolaborasi dengan pemilik merek atau produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) untuk mencari alternatif material yang tidak terdampak langsung oleh pengurangan bahan baku.
"Misalnya di kemasan flexible, yang tadinya memakai film polypropylene yang terdampak dapat digantikan dengan film polyester, yang saat ini belum terdampak. Bisa juga mencoba untuk dapat digantikan dengan kemasan kertas jika memungkinkan," tambah Henky.
Peran Sektor Makanan dan Minuman
Dari sisi pasar, sektor makanan dan minuman (mamin) masih menjadi pengguna plastik kemasan terbesar dengan porsi sekitar 60% hingga 70%. Diikuti oleh produk personal care atau kosmetik serta household care seperti sabun dan deterjen. Industri dalam negeri tetap menjadi pelanggan utama, dengan pemasaran di pasar domestik mencapai 85% hingga 90%.
Permintaan terhadap plastik dan kemasan meningkat saat musim Ramadan - Idulfitri. Namun, IPF mencatat bahwa pertumbuhan permintaan pada periode tersebut dalam 10 tahun terakhir tidak setinggi masa sebelumnya. Henky menjelaskan bahwa perubahan tren dan gaya hidup konsumen menjadi salah satu penyebabnya.
Meski demikian, IPF tetap optimistis tentang prospek industri kemasan di Indonesia. "Dengan potensi populasi dan ekonomi di Indonesia yang memadai, IPF tetap percaya prospek industri kemasan di Indonesia masih tetap tumbuh cukup baik, walaupun tidak seperti 10-15 tahun yang lalu," ujarnya.
Dampak pada Industri Agro
Secara terpisah, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengungkapkan bahwa dampak konflik di Timur Tengah terhadap industri agro, khususnya mamin, masih relatif terbatas. Ia hanya menyoroti dua kendala utama, yakni persoalan logistik dan kemasan.
"Sebenarnya yang banyak dampaknya di industri mamin itu kemasannya. Jadi kemasan itu biasanya dari petroleum-based plastics. Kalau di sana ada masalah, di kami akan jadi masalah. Kalau di sana ada kenaikan sedikit, di kami bisa berlipat. Kalau di sana berdampak seumpama 10%, di sini bisa 60%," kata Putu saat ditemui di Kantor Kemenperin, Kamis (12/3/2026).
Putu menjelaskan bahwa komponen kemasan pada struktur biaya produksi di industri mamin berbeda-beda tergantung dari kategori produk. Contohnya, pada industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), biaya kemasan memiliki porsi yang besar.
Ia memastikan bahwa industri dalam negeri sudah mengamankan persediaan untuk memenuhi kebutuhan pasar pada periode akhir Ramadan - Idulfitri. Namun, Putu menegaskan bahwa diperlukan langkah-langkah mitigasi untuk mengamankan kebutuhan bahan baku plastik dan kemasan pasca musim Lebaran.
"Kami ngobrol (dengan Direktorat Jenderal yang membawahi industri kimia), bagaimana memitigasi dan mecari solusi yang bagus. Kalau untuk Lebaran Idulfitri semua sudah terdistribusi, sudah aman, nggak perlu khawatir," tutup Putu.
0 Komentar