
Kabar Duka dari Keluarga Besar TNI
Letjen TNI (Purn) Marinir Suharto, mantan Komandan Korps Marinir ke-12, dikabarkan meninggal dunia. Pria yang lahir pada 2 Desember 1947 itu wafat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada hari Sabtu (18/4/2026), dengan usia 79 tahun.
Suharto dikenal sebagai tokoh militer yang berperan penting dalam pengamanan Jakarta saat kerusuhan 1998. Panglima Korps Marinir saat ini, Letjen TNI (Mar) Endi Supardi, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kematian sosok penting tersebut.
"Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un. Turut bersungkawa cita atas wafatnya Letjen TNI Mar (Purn) Suharto Komandan Korps Marinir ke-12. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan menerima seluruh kebaikan ibadahnya serta melapangkan tempatnya disisi-Nya. Aamiin Ya Robbal Alamin," kata Letjen TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, dikutip dari akun resmi Marinir TNI AL, Sabtu (18/4).
Rekam Jejak dan Peran Penting
Letnan Jenderal TNI Marinir (Purn) Suharto merupakan salah satu perwira tinggi Korps Marinir yang menempuh perjalanan panjang sejak era Orde Baru hingga masa reformasi. Lahir pada 2 Desember 1947, ia merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1969—angkatan yang banyak melahirkan perwira tempur di masa-masa krusial Indonesia.
Karier militernya dibangun dari bawah, dengan berbagai penugasan operasional di lingkungan Korps Marinir yang dikenal sebagai pasukan pendarat andalan TNI AL. Dalam perjalanan kariernya, Suharto dikenal sebagai prajurit lapangan yang matang. Ia terlibat dalam berbagai operasi militer dan latihan besar, yang menjadi ajang uji kesiapan tempur TNI AL.
Kemampuannya dalam kepemimpinan membuatnya dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Gubernur AAL pada 1995–1996, sebelum akhirnya mencapai puncak karier sebagai Komandan Korps Marinir (Dankormar) ke-12 pada periode 1996–1999.
Peran dalam Kerusuhan Mei 1998
Puncak peran historisnya terjadi pada 1998, saat Indonesia dilanda krisis multidimensi yang berujung pada runtuhnya rezim Presiden Suharto. Sebagai Dankormar, ia ikut memimpin pengamanan Jakarta yang saat itu dilanda kerusuhan besar, termasuk rangkaian peristiwa pasca penembakan mahasiswa Trisakti yang memicu kerusuhan massal dan instabilitas nasional.
Dalam situasi genting tersebut, Korps Marinir bersama unsur TNI lainnya, termasuk Kodam Jaya yang ketika itu dipimpin Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin (Saat ini Menteri Pertahanan) dikerahkan untuk menjaga objek vital dan mengendalikan keamanan ibu kota. Pada periode yang sama, dinamika internal militer juga sangat kompleks. Suharto menjalankan tugasnya berdampingan dengan Panglima Kostrad saat itu, Prabowo Subianto, dalam konteks operasi pengamanan nasional.
Pasca Reformasi dan Kehidupan Purnawirawan
Tahun 1998 menjadi titik balik besar, bukan hanya bagi negara, tetapi juga bagi institusi militer yang kemudian memasuki era reformasi dengan berbagai perubahan struktural dan doktrin. Pasca reformasi, karier Suharto berlanjut di ranah strategis. Ia dipercaya menjabat sebagai Inspektur Jenderal di Departemen Pertahanan dan Keamanan pada 1999, posisi yang menempatkannya dalam pengawasan internal serta pembenahan institusi di masa transisi.
Pengalaman panjangnya di lapangan menjadi bekal dalam menghadapi perubahan besar dalam tubuh TNI yang mulai meninggalkan peran sosial-politik dan fokus pada profesionalisme militer.
Memasuki masa purnawirawan, Suharto tetap aktif dalam wacana kebangsaan dan politik. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang dekat dengan lingkaran Prabowo Subianto dan tercatat sebagai bagian dari dewan pembina serta pendukung politiknya. Pandangan-pandangannya kerap keras, terutama terkait arah reformasi, konstitusi, hingga dinamika politik nasional, yang menunjukkan karakter militernya yang tegas dan ideologis.
Jejak Seorang Prajurit yang Berada di Simpul-Simpul Penting Perubahan Bangsa
Letjen Marinir Suharto dikenang sebagai figur perwira Marinir yang terlibat langsung dalam salah satu fase paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern. Dari masa Orde Baru, turbulensi 1998, hingga era reformasi dan politik kontemporer, jejaknya mencerminkan perjalanan panjang seorang prajurit yang berada di simpul-simpul penting perubahan bangsa. Kepergiannya menutup satu bab dari generasi militer yang mengalami langsung transisi besar Indonesia dari otoritarianisme menuju demokrasi.
Rekam Jejak Singkat
- Lulusan AAL 1969, berkarier di Korps Marinir dengan berbagai penugasan operasional.
- Menjabat Gubernur AAL (1995–1996) sebelum menjadi Dankormar ke-12 (1996–1999).
- Berperan dalam pengamanan Jakarta saat kerusuhan Mei 1998.
- Menutup karier militer sebagai Inspektur Jenderal Dephankam pada 1999.
- Aktif dalam politik dan menjadi bagian dari lingkaran pendukung Prabowo di masa purnawirawan.
0 Komentar