Kisah Hamidun Diko, Tukang Sepatu Berusia 29 Tahun di Boalemo Gorontalo

Kehidupan Seorang Penjahit Sepatu di Pasar Minggu Tilamuta

Hamidun Diko, yang akrab dipanggil Midun, adalah seorang penjahit sepatu yang tinggal di Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Usia 53 tahun tidak menghalangi dirinya untuk terus menjalani pekerjaannya selama 29 tahun terakhir. Midun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat dengan kemampuan jahitnya yang sudah diakui oleh banyak orang.

Midun memulai usahanya sebagai penjahit sepatu dan sandal di Pasar Lama yang berada di dekat Mesjid Agung Baiturahman. Namun, saat pembangunan mesjid tersebut dimulai, pasar pun dipindahkan ke lokasi baru. Midun juga ikut memindahkan tempat usahanya ke lokasi pasar yang sekarang.

"Saya menjahit sudah 29 tahun, dari tahun 1997, sebelumnya saya menjahit di Pasar lama yang saat ini sudah dibangun Mesjid Agung Baiturahman," ujarnya saat berbicara dengan wartawan gubukinspirasi.id pada Minggu (19/04/2026).

Dengan hanya bermodalkan tempat duduk dan meja kayu, Midun menciptakan tempat kerja yang sederhana namun sangat bermanfaat bagi keluarganya. Ia menyiapkan alat-alat seperti jarum jahit sepatu, benang, nilon, pisau, serta potongan ban bekas untuk memperbaiki sepatu pelanggan.

Harga perbaikan sepatu yang dulu hanya Rp 2.500 per pasang kini naik menjadi Rp 20 ribu per pasang. "Dulu harganya tahun 1997 masih Rp 2.500 per pasang sepatu, kini harganya sudah Rp 20 ribu per pasang," jelasnya.

Namun, beberapa tahun terakhir, penghasilannya sebagai tukang jahit mulai menurun karena semakin banyaknya produksi sendal niles. Sendal-sandal tersebut terbuat dari karet yang nyaris tidak membutuhkan jasa jahit lagi.

"Semenjak banyak sendal karet, penghasilan saya sudah menurun drastis," ungkapnya.

Saat ini, Midun hanya menerima 5 pasang sepatu per hari, dengan hasil yang hanya Rp 75 ribu. Padahal, sebelumnya ia bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 150 hingga 200 ribu per hari.

“Saya biasa buka dari pukul 9 pagi sampai jam 12 siang. Kalau sudah siang biasanya sudah mulai sepi, jadi saya tutup,” tuturnya.

Meski tampak sederhana, keahlian Midun masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Kalau di sini biasanya orang datang untuk jahit sepatu, jahit sendal, ganti tapak, sama perbaiki sandal juga ada. Semua tergantung kondisi barangnya,” jelasnya.

Midun mematok tarif sesuai dengan tingkat kesulitan dan kemampuan pelanggan. “Kalau sendal biasanya mulai dari Rp 15 ribu. Kalau sepatu seperti pantofel itu sekitar Rp 20 ribu, tapi tetap tergantung tingkat kesulitannya juga,” katanya.

Midun menghadapi tantangan tersendiri dalam menjalani usahanya. Ia belum memanfaatkan media sosial untuk promosi, sehingga pelanggan datang hanya melalui informasi dari mulut ke mulut. “Saya tidak pernah pakai media sosial. Selama ini orang tahu dari mulut ke mulut saja, jadi kalau mau jahit ya langsung datang ke sini atau bisa antar ke rumah,” ujarnya.

Di balik kesederhanaannya, Midun memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga. Ia harus menghidupi satu anak dan satu cucu yang masih duduk di bangku SD. “Saya kerja seperti ini salah satunya memang untuk keluarga, untuk kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolah anak dan cucu saya,” tuturnya.

Penghasilan dari menjahit sepatu itulah yang dipakainya untuk menyambung hidup. Meski bekerja dengan segala keterbatasan, Midun tetap menyimpan asa. Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah bagi para pelaku usaha kecil seperti dirinya. “Harapan saya ke depan semoga ada bantuan, terutama untuk usaha kecil seperti kami ini. Kalau bisa dibantu tempat yang lebih layak atau peralatan kerja, pasti sangat membantu,” pungkasnya penuh harap.

Di Pasar Minggu Tilamuta, Midun terus berjuang tanpa keluhan. Berbekal jarum dan benang, ia memastikan roda kehidupan keluarganya terus berputar.

0 Komentar