Kultum Subuh 25 Ramadan 1447 H/15 Maret 2026: Puasa dan Persatuan Umat

Kultum Subuh 25 Ramadan 1447 H/15 Maret 2026: Puasa dan Persatuan Umat

Ramadan dan Kekuatan Persatuan Uakan Umat Islam

Ramadan, bulan suci yang penuh berkah, tinggal menyisakan enam hari lagi. Momen ini menjadi waktu yang sangat penting bagi umat Islam untuk memperkuat ikatan persatuan dan kebersamaan. Dalam perayaan puasa, banyak orang memilih melakukan I'tikaf di masjid, sebuah bentuk ibadah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh teladan.

Salah satu keistimewaan dari 10 hari terakhir Ramadan adalah malam Lailatul Qadar. Malam ini merupakan momen yang sangat dinantikan oleh seluruh umat Islam, termasuk oleh non-muslim. Di bulan ini, rasa kebersamaan dan persatuan umat terasa begitu kuat. Semua umat berpuasa di siang hari, berbuka ketika azan magrib tiba, dan melaksanakan shalat tarawih di malam hari.

Seharusnya, suasana seperti ini mendorong umat Islam untuk lebih mengedepankan nilai persatuan. Jika kita mencari antara faktor kesamaan dan perbedaan, maka jelas bahwa faktor kesamaan jauh lebih besar daripada perbedaan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menjaga persatuan dalam segala situasi.

Bagi yang sedang mencari naskah ceramah dengan tema persatuan, berikut ini adalah naskah singkat yang bisa menjadi panduan:

"Puasa dan Persatuan Umat"

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kewajiban mewujudkan persatuan umat sejalan dengan kewajiban menjalankan puasa Ramadhan. Dalam surah al-Baqarah ayat 183, Allah menyebutkan kewajiban berpuasa. Sementara itu, dalam surah Ali Imran ayat 103, Allah memberikan perintah untuk bersatu dan melarang perpecahan. "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Perhatikan bahwa sebelum memerintahkan umat untuk bersatu, Allah lebih dulu memanggil orang-orang beriman untuk bertakwa (Ali Imran: 102). Ini sama halnya dengan saat Allah memerintahkan umat berpuasa, Allah juga mengawalinya dengan memanggil orang beriman untuk berpuasa, tujuannya adalah mencapai ketakwaan.

Dengan terwujudnya nilai ketakwaan yang diperoleh dalam puasa setiap tahun, diharapkan dapat memberikan hasil riil, salah satunya adalah terwujudnya persatuan di tengah umat. Dengan kata lain, orang yang berhasil meraih ketakwaan di bulan Ramadhan harus mampu menjadi unsur pemersatu umat. Jika hal ini belum tercapai, maka ketakwaan seseorang masih dipertanyakan.

Nilai puasa semacam ini yang seharusnya dipahami oleh umat Islam. Bukan hanya sekedar bersama dalam suasana puasa dan buka, yang lebih cenderung mengarah kepada persatuan simbolis, bukan esensi.

Ini terbukti ketika menjelang dan berakhirnya bulan Ramadhan. Sebuah ibadah yang seharusnya menjadi alat pemersatu umat, malah menjadi pemicu perseteruan. Perbedaan pandangan dalam penentuan kapan memulai puasa dan kapan mengakhirinya dengan perayaan Idul Fitri sering kali menimbulkan perselisihan antar kelompok umat Islam.

Masing-masing pihak memiliki cara sendiri untuk menentukan jadwal yang mereka anggap tepat, dan mereka bersikap teguh dengan pendiriannya. Belum lagi pandangan luar umat Islam yang negatif terhadap fenomena perbedaan ini.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Jika orang Eropa yang sebagian besar non-muslim telah mampu membuktikan diri untuk bersatu dengan wujud pasar bersama dan parlemen bersama Uni Eropa, padahal mereka terdiri dari berbagai bangsa dan golongan yang berbeda, maka mengapa kita tidak sanggup mewujudkan hal serupa? Bukankah unsur kesamaan antar umat Islam jauh lebih banyak dari pada unsur perbedaannya?

Bukankah landasan umat Islam itu sama? Bukankah perbedaan yang ada hanyalah sebatas masalah cabang (furu') yang tidak prinsip, namun dianggap prinsip bagi sebagian kelompok? Semua pertanyaan ini tidak mungkin terjawab dengan benar, apabila kesadaran dan kedewasaan antar umat tidak ada.

Selama masih ada ego kelompok, fanatisme mazhab, kepentingan politik, dan kedangkalan berpikir, maka persatuan dan kesatuan umat akan tetap menjadi mimpi belaka.

Oleh karena itu, kehadiran bulan Ramadhan seharusnya menjadi momen penting umat Islam untuk mengatur dan merapatkan kembali barisannya. Perbedaan harus segera dicari solusinya, dan setiap kelompok harus mampu bersikap dewasa untuk melepas pendapatnya demi keutuhan dan kemaslahatan umat secara umum. Makna semacam inilah yang Rasulullah inginkan.

Sebagaimana dalam sabdanya,

"Puasa adalah hari di mana kalian berpuasa, Al-Fithr adalah hari di mana kalian berbuka, sedang al-Adha adalah hari di mana kalian menyembelih kurban." (HR. at-Tirmidzi, dan dia menilai, "Hadis ini gharib hasan.").

Dalam hadis ini, Rasulullah menegaskan pentingnya persatuan dan kebersamaan. Itu terlihat salah satunya dalam kebersamaan pelaksanaan ibadah seperti puasa dan hari raya.

Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk mampu melahirkan persatuan dan kesatuan di antara umat. Wallahul muwaffiq.


0 Komentar