
Tradisi Lebaran yang Berubah Akibat Bencana
Tradisi lebaran masyarakat Minangkabau yang identik dengan memasak rendang, kini menjadi kemewahan yang sulit dijangkau bagi penyintas banjir bandang yang tinggal di Huntara Kapalo Koto Padang. Rendang yang biasanya menjadi simbol kegembiraan dan kebersamaan, kini tergeser oleh kebutuhan yang lebih mendesak.
Kebutuhan pokok harian harganya terus merangkak naik, membuat para penyintas menghadapi tantangan ekonomi yang berat. "Tahun ini kami hanya bisa memperbanyak sabar dan ikhlas. Lebaran tahun ini tentu akan terasa sangat berbeda dibandingkan sebelumnya," ujar Ija, salah satu penyintas banjir bandang yang ditemui jurnalis gubukinspirasi.id, Arif Ramanda, Sabtu (14/3/2026).
Keterbatasan dan Trauma Pasca-Banjir Bandang
Penyintas banjir bandang di Kelurahan Lambung Bukik, Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, harus menghadapi lebaran tahun ini dengan segala keterbatasan. Tradisi lebaran masyarakat Minangkabau yang identik dengan memasak rendang, kini menjadi sebuah kemewahan yang sulit dijangkau. "Untuk merendang, tahun ini belum tentu. Kami masih terkendala masalah ekonomi dan masih beradaptasi dengan suasana yang sekarang," kata Ija.
Lebaran tahun ini belum ada jaminan tercium lagi aroma gurih rendang yang biasanya memenuhi dapur. Di balik dinding kayu Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, tradisi merendang terpaksa dikalahkan oleh getirnya realita ekonomi pasca-banjir bandang. Bagi mereka, bertahan hidup kini jauh lebih mendesak daripada merayakan hari kemenangan dengan kemewahan meja makan.
Banjir bandang atau dikenal dengan istilah galodo, menghantam pemukiman yang biasa ditempati Ija dan warga lainnya sejak akhir November 2025 silam. Di Kota Padang, banjir bandang yang menghantam sejumlah kelurahan di Kecamatan Pauh cukup parah. Daerah yang dihantam banjir berada di sekitar aliran sungai yang berjarak hanya sekitar 2,5 kilometer dari kampus Universitas Andalas.
Perubahan dalam Persiapan Lebaran
Rendang, yang biasanya menjadi simbol kegembiraan dan kebersamaan, kini tergeser oleh kebutuhan yang lebih mendesak, seperti biaya pendidikan anak dan kebutuhan pokok harian yang harganya terus merangkak naik. Ija mengaku bahwa transisi dari kehidupan normal di rumah sendiri menuju kehidupan di bilik Huntara bukanlah perkara mudah. Adaptasi lingkungan dan psikologis masih menjadi tantangan harian bagi para pengungsi.
"Tahun ini kami hanya bisa memperbanyak sabar dan ikhlas. Lebaran tahun ini tentu akan terasa sangat berbeda dibandingkan sebelumnya," tambahnya. Gemuruh air bah yang menyapu Kelurahan Lambung Bukik pada akhir tahun lalu memang telah surut. Namun, bagi para penyintas yang kini menghuni Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, sisa-sisa trauma dan beban ekonomi masih mengendap kuat, terutama saat menyongsong hari raya yang kian dekat.
Persiapan Lebaran yang Berbeda
Bagi Murni, salah satu warga terdampak, persiapan Lebaran tahun ini terasa sangat kontras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya bulan Ramadhan disibukkan dengan urusan dapur dan toples kue, kali ini fokusnya bergeser jauh melampaui sekat-sekat dinding Huntara. "Persiapan raya kali ini sedikit berbeda. Kami tidak lagi fokus ke urusan kue-kue, tapi lebih memikirkan bagaimana ekonomi ke depan," ujar Murni saat ditemui di Huntara Kapalo Koto, Sabtu (14/3/2026).
Tatapan mata Murni menyiratkan kecemasan yang beralasan. Banjir bandang yang menerjang beberapa bulan silam tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga memutus urat nadi perekonomian keluarganya secara total. Sawah yang selama ini menjadi gantungan hidup kini terkubur material lumpur dan bebatuan. Rumah yang menjadi tempat berteduh pun telah raib disapu air, menyisakan lahan yang tak lagi bisa dihuni dalam waktu dekat.
"Semua sawah maupun rumah disapu banjir, tidak bisa dipakai lagi. Segalanya harus dimulai dari nol, sementara modal yang tersisa nyaris tidak ada," tutur Murni dengan nada getir. Kondisi ini diperparah dengan mulai menipisnya bantuan dari berbagai pihak. Murni menyadari bahwa uluran tangan para dermawan dan pemerintah tidak akan berlangsung selamanya, dan ketergantungan pada bantuan bukanlah solusi jangka panjang.
Solidaritas dan Harapan untuk Masa Depan
Meski demikian, semangat untuk bertahan hidup tetap menyala di antara dinding-dinding kayu Huntara. Solidaritas kekuatan tersendiri. Warga mulai mencoba mencari celah usaha baru, meski dengan keterbatasan alat dan ruang gerak yang ada. Solidaritas antarwarga di Huntara Kapalo Koto juga menjadi kekuatan tersendiri. Di tengah kesulitan, mereka saling menguatkan, berbagi beban cerita, dan mencoba merajut kembali harapan yang sempat hanyut terbawa arus banjir bandang.
Kini, warga hanya berharap adanya kebijakan pemerintah yang lebih konkret terkait pemulihan lahan pertanian mereka atau penyediaan lapangan kerja baru. Bagi mereka, bantuan logistik mungkin mengenyangkan untuk sehari, namun kepastian ekonomi adalah jalan untuk menyambung hidup selamanya.
Lebaran di Kapalo Koto tahun ini mungkin akan sunyi dari aroma rendang dan tawa renyah di ruang tamu. Namun, di sana ada keteguhan hati yang luar biasa dari orang-orang yang memilih untuk bangkit di tengah puing-puing bencana.
0 Komentar