Leon Trotsky Dibunuh dengan Pisau Es di Rumah Bentengnya di Meksiko


Leon Trotsky adalah seorang pemimpin revolusi, tangan kanan dari Vladimir Lenin, serta pendiri Tentara Merah. Namun, ia akhirnya disingkirkan oleh kamerad komunisnya sendiri, Joseph Stalin, yang kemudian memerintahkan pembunuhan terhadapnya pada tahun 1940.

Sejarah Leon Trotsky

Leon Trotsky pernah berkata: “Dari 12 rasul hanya Yudas yang dianggap pengkhianat. Namun, jika Yudas berhasil mendapatkan kekuasaan, maka sebelas rekannya dan rasul-rasul lain yang kurang penting akan dihukum sebagai pengkhianat.” Komentar ini ditujukan kepada Stalin, yang dengan penuh kesombongan menyuruh membunuh orang-orang komunis tanpa proses yang adil pada masa itu.

Tidak terduga bahwa Trotsky, seorang pemimpin revolusi, pembangun tentara merah, tangan kanan Lenin, ahli pidato ulung, penulis yang cemerlang, jenderal yang terkenal, dan pemimpin rakyat yang tidak suka intrik, bisa disisihkan begitu saja oleh rekan-rekannya sendiri, yaitu Joseph Stalin.

Nama Palsu dan Awal Kehidupan

Nama Trotsky bukanlah nama aslinya. Ia dilahirkan dengan nama Lev Davidovich Bronstein di Ukraina pada tahun 1879. Ayahnya masih buta huruf dan memiliki sebuah peternakan besar. Anaknya dikirim ke sekolah Yahudi untuk belajar bahasa Yahudi dan Rusia. Di rumah mereka berbicara dalam bahasa Ukraina. Kemudian dia dikirim ke Odessa untuk meneruskan pelajarannya di sekolah St. Paulus, di mana ia belajar bahasa Prancis, Jerman, Italia, Yunani, dan Latin.

Sementara itu, dia dididik sebagai seorang liberal dan anti-marxis. Hingga suatu ketika sebagai mahasiswa, ia mulai mempelajari Marx dan menjadi seorang komunis sejati. Karena itu, pada tahun 1899 dia ditangkap dan dikirim ke Siberia. Dia berhasil lolos dengan menggunakan nama Trotsky, seorang sipir. Nama itu selalu menemani hidupnya hingga akhir hayatnya.

Perjalanan dan Pengaruh

Trotsky suka menjelajah dan di Paris ia belajar serta mengenal istri keduanya, Natalia Sedova. Ia juga menjadi kawan akrab Lenin. Ada yang bilang bahwa Trotsky berada di bawah pengaruh Lenin, tapi justru Lenin-lah yang banyak mengambil ide-ide dan pemikiran Trotsky seperti tentang “revolusi abadi”, yaitu revolusi yang tak akan selesai selama seluruh dunia belum menjadi komunis.

Peperangan dan Konflik

Pada tahun 1905, Trotsky dianggap sebagai pemimpin revolusi komunis yang akhirnya meruntuhkan pemerintahan Tsar Rusia. Pada tahun 1911, ia pertama kali mempelajari soal-soal militer saat bekerja sebagai koresponden sebuah harian dan diberi tugas membuat reportase tentang peperangan di Balkan.

Trotsky kebetulan berada di Wina saat Perang Dunia I mulai berkobar. Ia kemudian pergi ke Paris, tempat ia menjadi pengunjung setia Perpustakaan Nasional untuk mempelajari buku-buku tentang peperangan.

Pada tahun 1918, ia dikeluarkan dari Prancis. Bersama dengan istri dan kedua anak laki-lakinya, Leon dan Sergej, ia naik kapal menuju New York. Namun Maret tahun berikutnya, ia kembali ke Petersburg naik kapal Norwegia di mana ia disambut meriah oleh para buruh.

Revolusi dan Kekuasaan

Pada saat itu, Lenin sudah sebulan di tempat tersebut. Revolusi “rakyat” akan segera ditumpas oleh kaum Bolsyewik, katanya. Dalam revolusi itu, Trotsky mendapat kesempatan untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari dalam buku-buku itu.

Ide revolusi kuno seperti menyerbu bastille, peperangan barikade, dan menimbulkan hanya ada titik-titik telepon. Tentara yang dididiknya penuh disiplin dan patuh. Dalam satu malam saja mereka berhasil merobohkan rezim lama untuk diganti dengan yang baru, tanpa korban manusia maupun perampokan.

Kemudian disusul dengan persetujuan perdamaian yang memalukan dengan Jerman dan sekutu-sekutunya karena tentara Rusia dikalahkan. Namun setelah keruntuhan dari tahun 1918 terjadi front-front baru: melawan Cekoslowakia, Polandia, dan tentara “putih”.

Pembunuhan dan Akhir Hayat

Setelah Lenin meninggal dunia pada 21 Januari 1924, Sekretaris I partai, Stalin, berhasil merebut kekuasaan secara licin. Pada saat pemakaman Lenin, Stalin sudah berhasil menjauhkan Trotsky: dia dengan sengaja memberi tanggal salah. Dengan demikian Trotsky tidak sempat hadir. Sejak itu urutan dalam upacara-upacara besar di Kremlin memegang peranan penting.

Namun baru pada tahun 1937 Stalin berhasil mengucilkan Trotsky dari partai dengan suatu resolusi. Dia diasingkan ke Alma di Tibet. Setahun kemudian dia diusir dari Rusia.

Dalam tahun-tahun kemudian sanak keluarga Trotsky dibunuh satu per satu. Melalui Norwegia, Trotsky akhirnya berhasil masuk Meksiko yang bersedia menerimanya. Atas saran pemerintah negara itu juga, rumah Trotsky di Coyoacan, Mexico city, diubah menjadi benteng. Dinding luar dibuat dari beton dengan satu pintu masuk saja sedangkan di dalamnya ada dinding lagi yang mengitari taman sebenarnya.

Penembak dan Pembunuhan

Nama calon pembunuh yang sebenarnya adalah Ramon del Rio Mercader. Ibunya orang Spanyol anggota NKVD (polisi rahasia Rusia). Dia dilahirkan pada 1914 di Barcelona. Karena Ramon lulusan dari sekolah perhotelan Prancis, dia mengetahui caranya untuk bertindak di kalangan elite dan hotel-hotel terkemuka. Namun dia tidak bertindak menurut kemauannya sendiri.

Dia adalah pion dalam tangan Leonard Eitington, seorang pemimpin NKVD ulung dan kepala dari “operasi Trotsky”. Eitington terkenal dengan nama dr. Rabinowitsch, wakil palang merah Rusia di New York. Dia berlagak sebagai seorang diplomat sopan, yang beragama Yahudi, yang senantiasa bercakap-cakap tentang “misi perikemanusiaan”.

Pada tahun 1938 Ramon ditarik dalam operasi Trotsky. Dia dikirim oleh NKDV ke Paris di mana dia harus bertindak sebagai anak seorang diplomat Belgia yang kaya raya. Tentang uang, tak usah pikir. Namanya diganti menjadi Jacques Mornard. Kecuali pekerjaan mata-mata, dia mendapat tugas mendekati seorang perempuan Amerika yang pasti tidak cantik, dan beberapa tahun lebih tua. Namanya Sylvia Ageloff, penganut setia Trotsky.

Akhir Kehidupan

Pada 20 Agustus, Trotsky memulai hari dengan cerah. Cuacanya bagus, badannya segar. Malahan pagi itu dia mengatakan kepada istrinya: “Tadi malam mereka tidak membunuh aku lagi. Aku tidak pernah merasa demikian segar seperti hari ini.”

Lagi pula pagi itu, dia mendapat kabar dari Universitas Harvard, catatan-catatan arsipnya sudah tiba dengan selamat di USA tanpa diketahui oleh dinas rahasia. Semua dokumennya telah diberikan kepada universitas tersebut dengan syarat tak boleh dibuka sebelum tahun 1980.

Sore hari pukul 5 setelah dia bekerja selama beberapa jam dalam kamar kerjanya, dia keluar untuk memberi makan ayam dan kelincinya, pekerjaan yang sangat digemarinya. Dari jendela Natalia Sedova melihat Jacson berdiri di sebelah suaminya.

Kematian

Di jalan-jalan terdengar suatu balada seorang penyair tak dikenal yang tiba-tiba menjadi populer. Trotsky mati — dibunuh antara pagi dan senja. Mereka yang mencintainya, menangis dalangnya ketawa. Pembunuh menyelinap sebagai sahabat, membawa senjatanya. Ia membunuh tuan rumahnya yang tak pernah menyakiti hatinya. Sekarang seluruh Meksiko berkabung dan seluruh Coyoacan menangis…

0 Komentar