Madura Paling Dicari: 6 ASN Terdata Terima Bansos, Panic Buying Picu Kelangkaan LPG 3 kg Sampang

Berita Terpopuler Madura pada Jumat, 17 April 2026

Berikut adalah rangkuman berita terpopuler di wilayah Madura yang menjadi perhatian masyarakat pada hari ini. Berita ini mencakup berbagai isu penting, mulai dari dugaan pelanggaran hingga sejarah budaya yang menarik.


Temuan BPK: 6 ASN Pemkab Bangkalan Terdata sebagai Penerima Bansos PKH

Sebuah tabel yang berisi daftar 6 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Bangkalan dan 1 ASN Pemkab OKI, Sumatra Selatan, beralamatkan Desa Pandan Lanjang, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Madura, terindikasi sebagai penerima manfaat Bantuan Sosial (Bansos) Program Keluarga Harapan (PKH), beredar luas di sejumlah grup WhatsApp mulai Kamis (16/4/2026) pagi.

Temuan tersebut berasal dari Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) Tahun 2024 yang ditandatangani Direktur Perlindungan Sosial Non Kebencanaan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kemensos RI, Faisal tertanggal 2 April 2026.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Bangkalan, Mohammad Aminullah, mengonfirmasi adanya temuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan pendamping PKH serta pihak-pihak terkait seperti ketua PKH pihak desa dan BKPSDM.

Dari 6 ASN yang terdata, antara lain: - Guru Ahli Pratama asal Kelurahan Pejagan, Bangkalan, dengan nilai temuan BPK sebesar Rp 3 juta. - Seorang Bidan Terampil beralamatkan Desa Langkap, Kecamatan Burneh dengan nilai temuan Rp 1,9 juta. - Perawat Terampil Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang dengan nilai temuan Rp 750 ribu. - Guru Ahli Pratama Desa Langpanggang, Kecamatan Modung dengan nilai temuan Rp 3 juta. - Guru Ahli Pratama Desa/Kecamatan Galis dengan nilai temuan Rp 1,3 juta. - Penyuluh KB BKKBN Desa Telaga Biru dengan nilai temuan Rp 1,9 juta.

Bansos PKH dicairkan empat kali dalam setahun, dengan penyaluran dilakukan per triwulan atau tiga bulan sekali untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Sasaran KPM meliputi keluarga miskin dan rentan yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).


Panic Buying Picu Kelangkaan LPG 3 Kg di Sampang, Harga Tembus Rp 25 Ribu

Kelangkaan LPG 3 kilogram dalam beberapa hari terakhir di Kabupaten Sampang, Madura, membuat harga melonjak jauh di atas ketentuan. Di tingkat pengecer, harga gas melon bahkan tembus hingga Rp 25.000 per tabung, padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) berada di kisaran Rp 18.000.

Lonjakan harga ini memicu keluhan warga, terutama kalangan rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada LPG bersubsidi tersebut.

Analis Kebijakan Muda Bagian Perekonomian dan SDA Setkab Sampang, Abdi Barri, menyebut kelangkaan yang terjadi bukan disebabkan minimnya stok, melainkan perilaku panic buying di tengah masyarakat. Isu yang beredar terkait keterbatasan pasokan LPG membuat warga membeli dalam jumlah lebih banyak dari biasanya untuk disimpan.

Secara distribusi, kata dia, stok LPG untuk wilayah Sampang masih dalam kondisi aman.


Labang Mesem Keraton Sumenep, Jejak Arca Tersenyum di Balik Nama Gerbang Bersejarah

Labang Mesem dikenal sebagai pintu gerbang utama di kawasan Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Dalam bahasa Indonesia, "Labang Mesem" berarti “Pintu Tersenyum.” Namun, makna penamaan tersebut kerap disalahartikan sebagai simbol filosofis, padahal tidak sepenuhnya demikian.

Sejumlah penafsiran yang berkembang di masyarakat selama ini cenderung mengaitkan Labang Mesem dengan nilai-nilai simbolik tertentu. Namun, pengamat sejarah Sumenep, RP Mohammad Mangkuadiningrat, menilai interpretasi tersebut tidak memiliki dasar historis yang kuat. Menurutnya, penamaan Labang Mesem lebih bersifat deskriptif daripada filosofis.

Penamaan Labang Mesem diyakini berkaitan dengan keberadaan sebuah arca di lingkungan keraton pada masa lampau. Arca tersebut berada di sebelah timur pendopo dan posisinya sejajar dengan gerbang utama. Sosok pada arca digambarkan tengah tersenyum, sehingga terlihat jelas oleh siapapun yang memasuki kawasan keraton dari pintu tersebut.

Keberadaan arca itu menjadi penanda visual yang kuat, seolah menyambut setiap pengunjung dengan ekspresi ramah. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi penyebutan “Labang Mesem” atau pintu tersenyum.

Namun, seiring berjalannya waktu, arca tersebut tidak lagi ditemukan di lokasi semula. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apakah arca tersebut dipindahkan atau hilang. Informasi mengenai arca ini diperkuat oleh keterangan dari keluarga keraton, termasuk R Aj Ratnadi, yang menyebut bahwa keberadaan arca tersebut pernah menjadi bagian dari lingkungan keraton.

Sebagai salah satu elemen penting di kompleks keraton, Labang Mesem telah ditetapkan sebagai bagian dari situs cagar budaya di Kabupaten Sumenep.

0 Komentar