Main enggrang hingga ular tangga raksasa, anak-anak Cirebon ngabuburit tanpa gadget

Kegiatan Dolanan Tradisional di Kabupaten Cirebon

Di tengah kebiasaan masyarakat yang sering menghabiskan waktu ngabuburit dengan bermain gawai, puluhan anak-anak di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, justru memilih untuk bermain dolanan tradisional. Mereka mengisi waktu menunggu berbuka puasa dengan berbagai permainan klasik seperti enggrang, lompat tali, bakiak hingga ular tangga raksasa.

Kegiatan ini berlangsung di halaman Latar Wingking, Kelurahan Pasalakan, Kecamatan Sumber. Di bawah rerimbunan pepohonan, anak-anak tampak antusias bermain sambil menunggu waktu berbuka. Tempat ini menjadi pusat komunitas seniman Cirebon yang aktif menyediakan berbagai perlengkapan permainan tradisional.

Berbagai Permainan Tradisional yang Disediakan

Permainan-permainan yang tersedia sangat beragam dan mudah diakses oleh anak-anak. Mulai dari lompat tali yang terbuat dari rangkaian karet gelang, bakiak panjang yang dimainkan bersama, enggrang, hingga ular tangga berukuran besar yang dimainkan langsung oleh anak-anak sebagai bidaknya. Setiap sore selama Ramadan, lokasi ini selalu ramai dikunjungi anak-anak yang ingin bermain.

Meski sedang menjalankan ibadah puasa, keceriaan anak-anak tetap terlihat. Mereka tertawa dan saling menyemangati ketika memainkan berbagai permainan tersebut. Salah satu peserta dolanan, Irsya (5), mengaku senang bisa mengisi waktu ngabuburit dengan bermain bersama teman-temannya dibandingkan bermain gadget.

“Alhamdulillah puasa, tapi sambil main juga buat ngabuburit. Main di sini banyak teman-teman, enggak mau main gadget. Asyik mainnya,” ujar Irsya saat diwawancarai, Jumat (13/3/2026).

Hal senada juga disampaikan Hindun (6), peserta dolanan lainnya. Ia mengaku menikmati suasana bermain bersama teman-temannya.

“Lagi main-main ngabuburit, main ular tangga sama lompat tali. Kalau enggrang belum bisa. Enak main di sini, lebih asyik,” ucap Hindun.

Tujuan dan Konsep Kegiatan

Kegiatan dolanan tradisional ini digagas oleh komunitas seniman di Latar Wingking yang ingin mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak sekaligus menjaga nilai-nilai budaya. Pengurus Latar Wingking, Ipul Sabda Pesona, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar permainan, tetapi juga menjadi sarana olahraga sekaligus edukasi budaya.

"Kita menggunakan konsep mengenalkan dolanan tradisional atau permainan-permainan tradisional, semi olahraga tradisional,” jelas Ipul.

Menurutnya, berbagai permainan yang disediakan terbuka bagi masyarakat sekitar agar anak-anak bisa kembali mengenal permainan tradisional yang kini mulai jarang dimainkan.

“Jadi ada permainan, ada olahraga tradisional yang kita buka untuk masyarakat sekitar,” katanya.

Ipul menambahkan, kegiatan tersebut juga sering dikolaborasikan dengan berbagai komunitas lain yang memiliki semangat yang sama dalam menjaga tradisi. "Ditambah kita juga menghubungkan kegiatan ini dengan komunitas-komunitas lain yang ingin bergerak bersama, tapi kita tidak meninggalkan pola tradisi dan dolanan kebudayaan,” ujarnya.

Aktivitas Tambahan di Lokasi

Selain permainan tradisional, di tempat ini juga kerap digelar berbagai kegiatan keagamaan untuk anak-anak. Bahkan komunitas tersebut rutin mengumpulkan anak yatim untuk diberikan santunan dari para donatur.

Pantauan di lokasi, anak-anak tampak antusias mengikuti setiap permainan. Mulai dari melangkah di atas matras ular tangga raksasa dengan dadu besar, melompat tali karet yang semakin tinggi, hingga mencoba berjalan kompak menggunakan bakiak panjang. Gelak tawa pun sering terdengar ketika mereka hampir terjatuh saat bermain bakiak atau gagal melompati tali karet.

Suasana sederhana di tengah pepohonan bambu itu menjadi bukti bahwa kebersamaan dan permainan tradisional masih mampu menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak, bahkan tanpa gadget di tangan mereka.

0 Komentar