Perjalanan Hidup Margono Djojohadikusumo
Margono Djojohadikusumo adalah tokoh penting dalam sejarah perbankan Indonesia. Ia menjadi pemimpin pertama Bank Negara Indonesia (BNI). Kariernya dimulai dari posisi sebagai pembantu juru tulis. Buku kenangannya, Herinneringen uit 3 tijdperken (Kenang-kenangan tiga zaman), menyimpan kisah hidupnya yang penuh tantangan dan pengorbanan.
Awal Kehidupan
Margono lahir dari keluarga dengan 14 anak. Ia nomor enam di antara mereka, tetapi merupakan anak sulung dari saudara-saudaranya yang masih hidup. Keluarganya termasuk ningrat melarat, yang membuatnya tidak terlalu membanggakan status itu. Pada usia 5 tahun, ia bersama ibu dan adik perempuannya berpindah dari desa Bodas Karangjati ke Banyumas. Ayahnya dipindahkan sebagai ajun jaksa kepala. Mereka menempuh perjalanan dengan tandu karena cuaca buruk dan banjir.
Di Banyumas, Margono mulai masuk sekolah. Sekolah pribumi lima tahun dan ELS (Europese Lagere School) menjadi pilihan. ELS lebih diminati karena memberi akses ke pendidikan lanjutan. Namun, hanya sedikit kursi untuk anak-anak Indonesia. Margono termasuk dalam kelompok "terpilih" ini, meskipun syaratnya sulit: harus mengikuti kursus bahasa Belanda selama enam bulan.
Pengalaman Sekolah
Di sekolah, Margono menghadapi perlakuan tidak adil. Kepala sekolah A.V.W. sering memperlakukan murid Jawa dengan kasar. Misalnya, mereka diperlakukan seperti orang asing dan diwajibkan mencuci tangan dan telinga setiap hari. Kakak-kakaknya akhirnya dipindahkan ke ELS di Banjarnegara, sementara Margono tetap tinggal di Banyumas.
Sekolah juga membawanya pada pengalaman unik. Misalnya, ia ditunjuk sebagai bendahara di sekolah, walaupun ia berasal dari keluarga miskin. Tugas ini memberinya pengalaman mengelola uang orang lain, yang akan berguna di masa depan.
Keluarga yang Unik
Keluarga Margono sangat besar. Saat ayahnya bekerja sebagai ajun jaksa kepala, banyak sanak keluarga tinggal di rumah mereka. Pada usia 17 tahun, saat lulus dari ELS, ia menjadi pegawai negeri sebagai pembantu juru tulis dengan gaji f10 sebulan. Ibu meninggal pada 1912, dan ayahnya beberapa bulan kemudian.
Perjalanan hidup Margono penuh dengan kesulitan ekonomi. Ayahnya sering berutang, dan Margono terbiasa menghadapi situasi ini sejak kecil. Di suatu hari, ia harus meminta bantuan penagih utang untuk mengabarkan bahwa ayahnya tidak ada. Penagih tersebut ternyata kapten golongan Cina yang berperikemanusiaan.
Pendidikan dan Karier
Setelah lulus dari ELS, Margono masuk Osvia di Magelang. Ia harus lulus ujian "klein ambtenaars examen" sebelum bisa masuk. Ujian ini terdiri dari bahasa Belanda dan berhitung, dan ijazahnya penting bagi pekerjaan pemerintah. Setelah lulus, ia menjadi pegawai dinas perkreditan desa.
Pengalaman di Osvia memberinya pelatihan penting. Ia belajar mengurus uang orang lain dan menjabat sebagai bendahara. Pengalaman ini membantunya di masa depan.
Perkawinan dan Mas Kawin
Mas kawin dalam pernikahan Margono dan istrinya memiliki makna khusus. Istri mereka adalah putri seorang dokter Jawa yang meninggal dalam dinas. Mereka mempraktikkan tradisi Jawa Tengah, yaitu gono-gini, yang merupakan persatuan dalam mengurus adik-adik. Ini membuat penghasilan mereka terbagi, tetapi juga memberi dukungan emosional.
Karier di Pemerintahan
Setelah menjadi pegawai dinas perkreditan desa, Margono naik pangkat dan mendapat gaji yang lebih baik. Ia dipindahkan ke Madiun dan di-"reklasir" dalam kelompok "Gewestelijke ambtenaren". Gajinya meningkat drastis, dan ini menjadi "mas kawin" terlambat yang ia bawa pulang.
Zaman Jepang
Selama pendudukan Jepang, Margono bekerja di kantor Hatta. Departemen E.Z. dibuka kembali, dan pegawai Indonesia diminta melapor pada tentara pendudukan. Ia diangkat sebagai pimpinan departemen dan mendapat gaji f500 (uang Jepang). Jawatan koperasi diistirahatkan, tetapi dasar pikiran koperasi sudah kokoh, sehingga perkumpulan koperasi bisa berkembang tanpa bantuan pemerintah.
Lahirnya BNI
Setelah Indonesia merdeka, Margono ingin membentuk bank nasional. Ia menghubungi Hatta dan disetujui. Pada sidang kabinet 19 September 1945, ia diberi surat kuasa untuk mempersiapkan pembentukan Bank Negara Indonesia (BNI), yang ditandatangani Sukarno-Hatta.
Berita Duka
Pada 26 Januari 1946, Margono menerima berita duka. Kedua putranya, Subianto dan Sujono, tewas di Tangerang. Mereka masuk semacam dinas militer, tetapi tidak pernah terpikir oleh Margono bahwa mereka bisa tewas dalam perjuangan. Perjalanan kereta api memakan waktu 12 jam, dan ia tiba di Jakarta pada pagi hari.
Kesimpulan
Perjalanan hidup Margono Djojohadikusumo penuh dengan tantangan, pengorbanan, dan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Dari pembantu juru tulis hingga menjadi pemimpin Bank Negara Indonesia, ia membuktikan bahwa ketekunan dan dedikasi dapat mengubah nasib. Kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin berkontribusi bagi negara.
0 Komentar