Melindungi Identitas Bangsa Melalui Layar Lebar

gubukinspirasi.id.CO.ID, JAKARTA — Di sebuah ruang kerja di Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Jumat siang, secarik proposal diletakkan di atas meja. Aliansi Wirausaha Kebangsaan Indonesia (AWKI) datang membawa gagasan: mengajak pelajar SMP dan SMA membuat film pendek bertema kebangsaan. Bukan sekadar lomba, tapi upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan lewat medium yang akrab dengan keseharian mereka. Ketua Umum AWKI Robertus Rani Lopiga duduk bersama jajarannya. Mereka diterima tim Puspeka, berbincang hangat tentang masa depan karakter generasi muda. "Secara garis besar, proposal kami diterima dan kami sudah diberikan contact person untuk melakukan pembahasan lebih lanjut," kata Robertus. Rencananya, festival bertajuk "Merawat Kebangsaan" itu akan digelar dalam waktu dekat. Pelajar dari berbagai daerah diundang menuangkan gagasan tentang kebangsaan dalam format film pendek. Ada nilai kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, dan cinta tanah air yang ingin ditanamkan melalui proses kreatif. "Karakter adalah fondasi utama. Kalau generasi muda memiliki karakter yang kuat, mereka akan mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketika terjun menjadi wirausaha," ujar Robertus. Ia percaya, kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor usaha dapat memperkuat ekosistem pembentukan karakter. Generasi muda, kata dia, tak cukup hanya menjadi pencari kerja: mereka harus mampu menciptakan lapangan kerja, dengan tetap menjunjung nilai-nilai kebangsaan. Kepala Puspeka Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami menyambut hangat inisiatif itu. "Penguatan karakter menjadi fondasi penting bagi generasi muda agar mereka mampu menghadapi tantangan masa depan dengan sikap yang kritis, mandiri, dan berintegritas," tuturnya. Kini, bola berada di tangan kementerian. Rusprita akan melaporkan rencana kerja sama itu kepada Sekretaris Jenderal, termasuk permohonan izin penggunaan logo Tut Wuri Handayani. AWKI tinggal menunggu kabar baik untuk segera merealisasikan festival yang diimpikan.

Pelangi di Mars dan Semangat Eksplorasi
Di Jakarta, sore yang sama, sekelompok sineas berkumpul dalam kehangatan intimate screening film "Pelangi di Mars". Sutradara Upie Guava duduk di antara penonton, menyaksikan reaksi mereka saat adegan demi adegan bergulir. Ada sesuatu yang berbeda dari film ini: bukan hanya cerita, tapi juga teknologi di baliknya. "Kami merasa di era ini literasi yang membangkitkan semangat anak-anak untuk benar-benar tumbuh dewasa dan menaklukkan dunia tidak cukup banyak," kata Upie. Ide film fiksi ilmiah ini lahir dari kegelisahan yang sama: film anak Indonesia jarang menampilkan sisi heroik. Upie ingin menghadirkan petualangan yang dekat dengan sains dan eksplorasi ruang angkasa, menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak terhadap ilmu pengetahuan. Produser Dendy Reynando menambahkan, film keluarga di Indonesia masih terbatas. "Kami ingin 'Pelangi di Mars' menjadi salah satu alternatif yang bisa menginspirasi anak-anak sekaligus menjadi acara bagi orang tua dan anak untuk menghabiskan waktu bersama," katanya. Yang menarik, film ini menggunakan teknologi extended reality (XR) dan virtual production: salah satu yang pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) Riefian Fajarsyah, atau Ifan Seventeen, melihat ini sebagai terobosan. "Film ini tidak hanya menghadirkan pesan moral bagi anak-anak, tetapi juga memanfaatkan teknologi mutakhir," ujarnya. "Pelangi di Mars" dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Maret 2026, hadir sebagai tontonan keluarga di bulan Ramadhan.

Jakarta Menuju Kota Sinema
Di Balai Kota, beberapa hari sebelumnya, suasana berbeda terasa. Para pemangku kepentingan industri film: produsen, pengusaha bioskop, dan pejabat pemerintah: duduk bersama membahas masa depan perfilman ibu kota. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno membuka diskusi dengan semangat yang sama. "Harapannya, Pemprov DKI Jakarta dapat merumuskan regulasi yang dapat diterima semua pihak, sekaligus mendorong peningkatan produksi film nasional," katanya. Pemprov DKI tengah merumuskan kebijakan insentif bagi industri perfilman. Landasan hukumnya sudah siap: Perda Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta Pergub Nomor 27 Tahun 2025 yang memberikan pengurangan pajak 50 persen untuk pertunjukan film nasional di bioskop. Kepala Badan Pendapatan Daerah DKI Jakarta Lusiana Herawati berharap kebijakan ini tepat sasaran. "Menjelang lima abad Jakarta, kami berharap kota ini dapat melahirkan lebih banyak karya film berkualitas, menjadi lokasi produksi yang menarik bagi para sineas, serta berkembang sebagai pusat aktivitas industri sinema di Indonesia," ujarnya. Data menunjukkan kontribusi pajak bioskop yang signifikan: Rp81 miliar pada 2023, turun menjadi Rp72 miliar di 2024, lalu melonjak hingga Rp84 miliar di 2025. Angka ini menjadi alasan kuat mengapa sektor film layak mendapat perhatian khusus.

Thailand dan Peluang di Sumut
Sementara di Medan, suasana diplomatik yang hangat mewarnai kantor Gubernur Sumatera Utara. Bobby Nasution menerima perwakilan Kedutaan Besar Kerajaan Thailand. Mereka datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tapi membawa tawaran kerja sama. "Kita melihat peluang kerja sama dua negara ini, khususnya produksi perfilman dan pendidikan khusus perfilman," ucap Bobby. Charge D'Affaires Royal Thai Embassy in Jakarta Hathaichanok Riddhagni Frumau mengungkapkan, Sumatera Utara memiliki potensi besar. Secara geografis, provinsi ini menyimpan banyak lokasi yang cocok untuk produksi film, terutama genre horor yang juga populer di Thailand. "Hal ini juga kami nilai sejalan dengan rencana pengembangan pendidikan tinggi dengan konsentrasi studi perfilman ke depan," katanya. Bobby menambahkan, hubungan diplomatik Indonesia-Thailand yang telah lama terjalin kini membuka peluang lebih luas. Apalagi, Sumut memiliki sumber daya alam dan manusia yang layak menjadi tujuan investasi. "Selama ini banyak warga Thailand yang juga menempuh pendidikan di sejumlah kampus di Sumatera Utara," tuturnya. Dari ruang pertemuan di Kemendikdasmen, layar bioskop Jakarta, hingga meja diplomasi di Medan, ada benang merah yang sama: perfilman Indonesia sedang bergerak. Bukan sekadar hiburan, tapi medium pendidikan, diplomasi, dan ekonomi. Dan di setiap sudut, ada tangan-tangan yang merajut, berharap kelak layar lebar tak hanya menghibur, tapi juga merawat kebangsaan.

0 Komentar