Persiapan Menghadapi Musim Kemarau 2026 di Jawa Tengah
Musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung lebih panjang pada tahun 2026 mulai menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Untuk menghadapi kondisi ini, pihak pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis guna memastikan ketersediaan air yang cukup bagi masyarakat dan sektor pertanian.
Salah satu upaya utama adalah alokasi air bersih sebesar 123 juta liter yang dikendalikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng. Selain itu, Dinas Pertanian dan Peternakan (Dishanpan) Jateng juga aktif dalam memperbaiki saluran irigasi serta mendistribusikan bibit padi tahan kekeringan. Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Tengah menjaga ketersediaan air dengan memaksimalkan penggunaan embung yang jumlahnya mencapai 1.137 titik.
Wilayah Terdampak Kekeringan
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan, terdapat tujuh daerah yang diprediksi akan mengalami kekeringan panjang. Wilayah-wilayah tersebut antara lain:
- Grobogan
- Blora
- Rembang
- Sragen
- Klaten
- Wonogiri
- Pemalang
Ketua BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, menyampaikan bahwa informasi dari BMKG menunjukkan bahwa dampak El Nino pada tahun 2026 akan memperparah kondisi kemarau di Jateng. Ancaman ini dikhawatirkan tidak jauh berbeda dengan puncak kemarau ekstrem pada tahun 2019 dan 2023.
Ketersediaan Air di Berbagai Wilayah
Sebagai bagian dari persiapan, BPBD Jateng telah memetakan ketersediaan air di seluruh provinsi. Data menunjukkan bahwa wilayah Klaten memiliki ketersediaan air terbesar, yaitu sekitar 57,6 juta liter. Diikuti oleh Boyolali (13,4 juta liter), Kabupaten Semarang (12,9 juta liter), Blora (5,1 juta liter), Purworejo (5,06 juta liter), Wonosobo (5 juta liter), Purbalingga (4,4 juta liter), Wonogiri (3,7 juta liter), Banjarnegara (3,6 juta liter), dan Grobogan (3,1 juta liter).
Di sisi lain, beberapa wilayah melaporkan ketersediaan air yang sangat rendah. Contohnya, Batang hanya memiliki 331 ribu liter, Kota Salatiga 250 ribu liter, Demak 150 ribu liter, dan Kabupaten Pekalongan 80 ribu liter. Ada juga beberapa daerah yang tidak melaporkan ketersediaan air karena merasa tidak pernah terdampak, seperti Kota Solo dan Kota Magelang.
Penganggaran dan Dana Bantuan
Menurut Bergas, anggaran untuk bantuan air bersih di Jateng tidak dialokasikan secara khusus oleh pemerintah provinsi. Hal ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya, di mana anggaran tersebut jarang digunakan oleh daerah-daerah. Namun, jika dibutuhkan, pihak BPBD akan mengandalkan dana dari Bank Jateng, PMI, dan organisasi lainnya.
Sementara itu, Kabupaten Pemalang tercatat sebagai wilayah yang paling sedikit dalam penganggaran dana bantuan air bersih. Daerah ini lebih mengandalkan bantuan CSR perusahaan. Meskipun demikian, semua 35 kabupaten dan kota di Jateng telah menganggarkan dana untuk penanggulangan kemarau.
Upaya untuk Sektor Pertanian
Selain memastikan ketersediaan air bersih, pemerintah juga fokus pada sektor pertanian. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, Defrancisco Dasilva Tavares, mengungkapkan bahwa potensi kawasan pertanian yang terancam kekeringan meliputi Blora, Rembang, Jepara, dan Wonogiri. Untuk mengatasi hal ini, pihak Distanbun melakukan peningkatan kualitas irigasi dan mendorong petani menggunakan varietas Inpari 32 yang tahan terhadap kekeringan.
Peran Embung dalam Penyediaan Air

Kepala Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menjelaskan bahwa embung akan menjadi andalan dalam penyediaan air selama musim kemarau. Saat ini, terdapat 1.137 embung yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Pada tahun 2025, delapan embung baru ditambahkan, termasuk Embung Salam, Embung Selur, Embung Rondo Kuning, Embung Geblok, Embung Karangjati, Embung Kemurang Wetan, Embung Tegalwulung, dan Embung Plosorejo.
Meskipun embung menjadi prioritas, pembangunan embung tidak dilakukan pada tahun 2026. Henggar menjelaskan bahwa saat ini tidak ada alokasi anggaran untuk pembangunan embung. Namun, seluruh embung yang ada akan dimaksimalkan guna memenuhi kebutuhan air selama musim kemarau.
0 Komentar