/data/photo/2022/11/12/636f6d1a74df4.jpg)
Kematian Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Maluku Tenggara
Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, tewas setelah menjadi korban penikaman di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, Minggu (19/4/2026). Peristiwa ini terjadi setelah korban mendarat dari Jakarta sekitar pukul 1.25 WIT dan berjalan menuju pintu keluar bandara untuk menemui keluarga yang telah menunggu.
Tanpa diduga, korban langsung didatangi seorang laki-laki yang mengenakan jaket merah dan masker. Laki-laki tersebut langsung melakukan penganiayaan terhadap korban dengan senjata tajam. Nus Kei sempat dibawa ke rumah sakit oleh keluarga, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka yang dialami. Korban mengalami empat luka tusuk di bagian dada, leher, dan punggung.
Pihak kepolisian kini tengah mendalami motif dugaan pembunuhan terhadap Nus Kei. Kasus ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai hubungan antara Nus Kei dan kelompok John Kei, yang telah beberapa kali terlibat dalam konflik yang memicu kekerasan.
Sejarah Konflik antara Nus Kei dan Kelompok John Kei
Nus Kei sebelumnya pernah nyaris dibunuh oleh keponakannya sendiri, John Kei, beberapa tahun lalu. Saat itu, rumahnya di Cluster Australia Green Lake City, Cipondoh, Tangerang, diserang oleh segerombolan orang dari kelompok John Kei. Akibat penyerangan tersebut, satu orang tewas setelah dibacok, yaitu Yustus Corwing Rahakbau.
Polisi kemudian meringkus 30 orang pelaku penyerangan dan mereka ditetapkan sebagai tersangka. John Kei juga menjadi tersangka setelah polisi mengantongi bukti bahwa ada perintah dari John Kei untuk membunuh Nus Kei. Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Sudjana, mengatakan bahwa keributan ini dipicu akibat John Kei yang tidak puas dengan hasil pembagian penjualan tanah. Nana juga menyebutkan bahwa John Kei dan Nus Kei saling bersaudara atau satu keluarga.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi, Nus Kei menyebutkan bahwa hubungannya dengan John Kei adalah paman dan keponakan. Namun, kasus-kasus seperti Blowfish menunjukkan bahwa konflik antara keduanya tidak hanya terbatas pada masalah keluarga, tetapi juga bisnis dan pengaruh politik.
Kasus Blowfish: Awal Konflik yang Berdarah
Nama Nus Kei juga muncul dalam kasus Blowfish, di mana kelompok John Kei menjadi korban. Dalam kasus ini, dua anggota kelompok John Kei, M.Soleh dan Yoppie, tewas. Dalam artikel berjudul "DARI BLOWFISH KE AMPERA", Nus Kei disebut sebagai bagian dari kelompok John Kei dalam peristiwa Blowfish pada tahun 2010.
Menurut tulisan tersebut, Nus Kei datang ke Blowfish setelah satu hari sebelumnya terjadi keributan di lokasi itu. Setelah tiba, dia justru menjadi korban pemukulan oleh beberapa orang. Pemukulan tersebut berkembang menjadi keributan yang akhirnya menewaskan dua anggota kelompok John Kei.
Keributan ini dipicu oleh persaingan bisnis antara John Kei dan Thalib Makarim, seorang tokoh dari kelompok lain. Bisnis yang diperebutkan saat itu adalah jasa keamanan dan bisnis memasok keperluan pub serta restoran, seperti minuman keras. Meskipun Nus Kei dan Tito Refra membantah bahwa keributan disebabkan perebutan lahan bisnis, kasus ini tetap menjadi titik awal konflik yang berdarah.
Kehidupan Harian Nus Kei di Tempat Tinggalnya
Nus Kei saat ini tinggal di Cluster Australia Green Lake City, Cipondoh, Tangerang. Menurut Eduar, Ketua RW Cluster Australia, Nus Kei tinggal di sana sekitar dua tahunan. Rumahnya porak-poranda setelah penyerangan oleh kelompok John Kei. Bahkan kendaraannya juga mengalami kerusakan.
Sehari-harinya, Nus Kei dikenal sebagai pria dermawan dan baik hati. Petugas keamanan di klaster, Isman, menyebutkan bahwa Nus Kei sering membantu masyarakat. Selama bulan puasa, dia sering membagikan sembako kepada warga sekitar. Pengendara ojek online, Danil, juga menyampaikan apresiasi atas kedermawanan Nus Kei.
Namun, setelah insiden penyerangan, rumah Nus Kei diberi garis polisi. Tetangganya menyebutkan bahwa Nus Kei beserta keluarga tak terlihat di rumahnya sejak beberapa hari lalu. Rumahnya selalu ramai dikunjungi teman-temannya, bahkan sampai larut malam.
Aksi Brutal Kelompok John Kei
Setelah insiden di Bandara Karel Sadsuitubun, aksi brutal kelompok John Kei terus berlanjut. Pada Minggu (21/6/2020), kelompok ini melakukan penyerangan secara membabi buta di salah satu rumah di Klaster Australia. Mereka menyantroni kediaman Nus Kei. Pasca-keributan tersebut, pintu gerbang komplek perumahan tersebut dijaga ketat oleh petugas.
Setiap orang yang masuk harus melewati tahapan ketat, mulai dari tujuan, menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) hingga pengecekan suhu tubuh. Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana menyebut aksi penganiayaan di Cengkareng dan penyerangan rumah di Tangerang sebagai aksi brutal premanisme.
Dalam penyelidikan, petugas meringkus 30 orang yang terlibat dalam dua aksi itu termasuk John Kei dari markas mereka di Perumahan Tytyan Indah, Bekasi, Minggu malam. Nana menjelaskan bahwa aksi brutal tersebut sudah direncanakan oleh kelompok John Kei yang menyebabkan orang lain kehilangan nyawa di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.
Kelompok John Kei melakukan aksi kekerasan secara bersama-sama dan terang-terangan terhadap orang lain di Cengkareng. Aksi itu terjadi pada pukul 11.30 WIB dan menyebabkan satu orang meninggal dunia, yaitu ER, serta satu orang lainnya mengalami luka bacok di beberapa bagian tubuh.
Pada hari yang sama, aksi kekerasan yang dilakukan kelompok John Kei terjadi lagi pada pukul 12.25 WIB. Sekitar 15 orang dengan menggunakan 4 unit kendaraan roda empat mendatangi rumah klaster Australia, Perumahan Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang. Mereka mencari Nus Kei, namun ia tidak ada di rumah. Yang ada hanya istri dan anak-anaknya, yang kemudian berusaha meninggalkan tempat dan terjadilah pengrusakan rumah tersebut.
0 Komentar