Paus Leo XIV Tidak Peduli Perdebatan Trump Soal Iran

Paus Leo XIV Tidak Peduli Perdebatan Trump Soal Iran

Paus Leo XIV Tegaskan Pesan Perdamaian Tanpa Mengarah ke Trump

Paus Leo XIV menegaskan bahwa pesan-pesan perdamaian yang ia sampaikan tidak ditujukan untuk berdebat dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal ini disampaikan saat ia sedang dalam perjalanan dari Kamerun ke Angola sebagai bagian dari kunjungan 11 hari di Afrika.

“Ada narasi tertentu yang tidak sepenuhnya akurat, tetapi hal itu disebabkan oleh situasi politik yang tercipta ketika, pada hari pertama perjalanan, Presiden Amerika Serikat memberikan beberapa komentar tentang saya,” ujar Paus Leo XIV dalam sebuah wawancara di pesawat kepausan.

Ia menjelaskan bahwa khotbahnya tentang perdamaian mencerminkan ajaran Injil, bukan untuk menantang atau merespons komentar Trump. “Sebagian besar tulisan sejak saat itu lebih berupa komentar atas komentar, mencoba menafsirkan apa yang telah dikatakan,” tambahnya.

Sebelumnya, Trump mengkritik Paus Leo XIV melalui media sosial. Ia menuduh Paus bersikap lunak terhadap kejahatan dan menganggap Paus Amerika pertama itu berutang atas terpilihnya dirinya menjadi Paus. Kritik ini muncul setelah perang AS-Israel dengan Iran dimulai sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.

Paus Leo XIV secara konsisten menyerukan perdamaian dan dialog, serta mengecam penggunaan pembenaran agama untuk perang. Ia menyebut ancaman Trump untuk memusnahkan peradaban Iran sebagai pernyataan yang tidak dapat diterima.

Vatikan menekankan bahwa pesan perdamaian Paus tidak hanya terkait konflik Iran, tetapi juga semua perang di dunia. Gereja Ortodoks Rusia, misalnya, membenarkan invasi Moskow ke Ukraina sebagai perang suci.

Pesan Perdamaian yang Terlebih Dahulu Disampaikan

Paus Leo XIV merujuk pada pernyataannya di Bamenda, Kamerun, yang disampaikan awal pekan ini. Kota tersebut adalah pusat konflik separatis yang telah berkecamuk selama hampir sepuluh tahun.

“Ia menulis pernyataannya dua pekan lalu, jauh sebelum kritik terhadap Trump dimulai. Namun kenyataannya, hal itu dipandang seolah-olah saya mencoba berdebat melawan presiden, yang sama sekali bukan kepentingan saya,” katanya.

Ia akan terus menyampaikan pesan-pesan Injil. “Saya datang ke Afrika terutama sebagai seorang pastor, sebagai kepala Gereja Katolik untuk bersama, merayakan bersama, mendorong, dan mendampingi semua umat Katolik di seluruh Afrika,” lanjutnya.

Paus juga menyebut bacaan Kitab Suci yang akan dibahas dalam misa, yang berisi ajaran tentang bagaimana menjadi orang Kristen yang baik, hidup rukun, serta menjalin persaudaraan. Ia menekankan pentingnya mendorong keadilan dan perdamaian di dunia.

Respons Wakil Presiden JD Vance

Wakil Presiden AS JD Vance mengunggah komentar di media sosial. Ia menyampaikan terima kasih kepada Paus Leo XIV atas pernyataannya. “Saya berterima kasih kepada Paus Leo karena telah mengatakan ini. Meskipun narasi media terus-menerus memicu konflik, dan ya, perselisihan nyata telah terjadi dan akan terjadi, kenyataannya seringkali jauh lebih rumit,” ujarnya.

Vance menambahkan bahwa Paus Leo memberitakan Injil, sebagaimana seharusnya, dan itu pasti berarti dia akan menyampaikan pendapatnya tentang isu-isu moral saat ini. “Presiden, dan seluruh pemerintahan, berupaya menerapkan prinsip-prinsip moral tersebut di dunia yang kacau ini,” tambahnya.

Ia berharap Paus Leo akan selalu ada dalam doa mereka, dan juga berharap mereka akan ada dalam doanya.

Keberanian Paus Leo XIV

Ketika ditanya tentang komentar Trump, Paus Leo XIV mengatakan bahwa ia tidak takut pada pemerintahan Trump, maupun berbicara lantang tentang pesan Injil. “Itulah yang saya yakini. Saya dipanggil untuk melakukan apa yang gereja dipanggil untuk lakukan,” kata Paus Leo XIV.

Paus Leo XIV tiba di Angola pada Sabtu sore, pemberhentian ketiga dalam tur empat negaranya. Pesan perdamaian akan sangat relevan bagi negara Afrika bagian selatan yang dilanda perang saudara selama 27 tahun yang berakhir pada tahun 2002 tetapi telah meninggalkan luka yang dalam.

Paus akan bertemu dengan Presiden Angola Joao Lourenco dan menyampaikan pidato pertamanya di hadapan para pejabat pemerintah. Ia berharap dapat membawa kegembiraan dan semangat kepada rakyat Angola yang telah lama menderita.


0 Komentar