Penangkap Ikan di Kali Ciliwung Menghadapi Bahaya Serius

Penangkap Ikan di Kali Ciliwung Menghadapi Bahaya Serius

Kehidupan Nelayan di Kali Ciliwung yang Mengandalkan Ikan Sapu-Sapu

Di wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur, khususnya di sepanjang aliran Kali Ciliwung, warga menemukan sumber penghidupan dari ikan sapu-sapu. Meskipun ikan ini dikenal sebagai spesies invasif yang merusak ekosistem perairan, para nelayan di sini justru mengubahnya menjadi peluang ekonomi.

Setiap hari, nelayan seperti Tedy Supriyadi (43) turun ke aliran sungai untuk menangkap ikan sapu-sapu. Mereka menggunakan alat seperti jaring dan ban bekas sebagai pelampung. Proses penangkapan bisa berlangsung hingga delapan jam, bahkan sampai pagi. Dari hasil tangkapan tersebut, rata-rata mereka mampu menangkap hingga 100 kilogram ikan sapu-sapu setiap harinya.

Namun, proses pemotongan ikan sapu-sapu tidak mudah. Daging ikan ini sangat sedikit, sehingga dari 100 kilogram ikan hanya diperoleh sekitar 30 kilogram daging. Daging ini kemudian dijual kepada pengepul dengan harga berkisar antara Rp15 hingga Rp20 ribu per kilogram. Meski demikian, Tedy mengaku bahwa penghasilan ini tidak terlepas dari risiko.

Salah satu risiko yang sering dialami adalah bahaya hanyut. Tedy mengingat pernah ada temannya yang hanyut dari Kramat Jati hingga ditemukan tiga hari kemudian di Kali Angke, Jakarta Barat, dalam kondisi meninggal. Bahaya ini semakin nyata saat debit air kiriman dari Depok dan Bogor meningkat. Namun, karena kebutuhan keluarga, Tedy tetap harus turun ke sungai meski tinggi muka air sedang naik.

Untuk meminimalisir risiko, Tedy dan rekan-rekannya memantau kondisi air di Katulampa (Bogor) dan Pos Pantau Depok. Jika air mulai naik, mereka langsung turun ke Kali Ciliwung agar bisa menangkap ikan sebelum air mencapai Jakarta.

Selain hanyut, nelayan juga menghadapi ancaman ular yang sering muncul di sepanjang aliran sungai. Risiko lainnya adalah cedera akibat tersangkut jaring. Meski begitu, para nelayan tetap menjalani pekerjaan ini demi memenuhi kebutuhan hidup.

Di Kelurahan Cililitan saja, terdapat sekitar 20 penangkap ikan sapu-sapu. Setiap penangkap memiliki pengepul sendiri, dan daging ikan sapu-sapu yang dibeli oleh pengepul digunakan sebagai bahan baku pembuatan olahan seperti siomay, otak-otak, maupun pakan ternak bebek dan lele.

Tedy mengungkapkan bahwa ia sudah bertahun-tahun menangkap ikan sapu-sapu. Dari masa anak-anak hingga sekarang, ia terus melakukannya. Bahkan, kadang ia memasak daging ikan sapu-sapu sendiri untuk dimakan.

Ia berharap Pemkot Jakarta Timur dapat memberikan insentif kepada warga penangkap sapu-sapu. Rencana ini sebelumnya disampaikan oleh Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, dalam operasi penangkapan ikan sapu-sapu serentak di 10 kecamatan untuk mengembalikan ekosistem perairan lokal.

Menurut Tedy, jika insentif benar-benar diberikan, nelayan tidak perlu lagi memotong ikan sapu-sapu. Mereka cukup menyerahkan ikan mentah kepada petugas untuk dikubur. Hal ini akan meringankan beban kerja mereka, karena proses pemotongan sangat melelahkan.

Menurutnya, para penangkap sapu-sapu secara tidak langsung membantu Pemprov DKI Jakarta dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Populasi ikan ini sudah sangat banyak dan butuh waktu lama untuk ditangani. Oleh karena itu, peran warga sangat penting.

Pemkot Jakarta Timur sendiri rencananya akan membahas skema pemberian insentif bagi warga penangkap ikan sapu-sapu dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bazis Jakarta Timur. Tedy mengatakan bahwa ikan sapu-sapu bisa disebut sebagai hama, dan dengan cara ini, warga secara tidak langsung membantu membasmi spesies invasif tersebut.


0 Komentar