Peran Semangat Bandung dalam Membela Kepentingan Indonesia di PBB
Pada 19 November 1969, delegasi Indonesia menghadapi situasi yang sangat rumit dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat itu, isu Irian Barat (kini dikenal sebagai Papua) sedang dibahas dalam konteks perjanjian antara Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda terkait West New Guinea (West Irian). Hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang dilaksanakan pada pertengahan 1969 menunjukkan bahwa rakyat Irian Barat menyatakan keinginan untuk tetap bergabung dengan Indonesia. Baik pemerintah Indonesia maupun Belanda berharap hasil Pepera tersebut dapat dicatat dan diketahui oleh PBB.
Awalnya, delegasi Indonesia mengira bahwa harapan mereka akan segera disetujui. Namun, muncul tantangan dari negara-negara Afrika. Wakil Ghana, Duta Besar Akwei, bersama sejumlah 30 negara Afrika Tengah, mengusulkan agar perdebatan ditunda hingga waktu tak tertentu. Mereka juga meminta agar rakyat Irian Barat diberi waktu sampai akhir tahun 1975 untuk menyatakan pendapatnya. Usulan ini bertujuan untuk memastikan bahwa keputusan tentang status Irian Barat benar-benar demokratis.
Usulan Ghana didasarkan pada tuduhan bahwa Pepera dilakukan secara paksa dengan melibatkan TNI, sehingga proses tersebut dinilai tidak jujur. Mereka bahkan menuduh Indonesia menjalankan "kolonialisme baru" di Irian Barat. Hal ini memberi angin segar bagi gerakan yang ingin Irian Barat merdeka atau terpisah dari Indonesia. Perdebatan sengit pun terjadi dalam sidang tersebut.
Namun, berkat Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, solusi mulai muncul. Ketua Delegasi Aljazair, Yazid, menghampiri tempat duduk delegasi Indonesia dan menyampaikan niatnya untuk berbicara. Roeslan Abdulgani, salah satu delegasi Indonesia, mengenang bagaimana Yazid berhasil melemahkan dukungan negara-negara pengikut Ghana melalui pidatonya selama 40 menit.
Yazid menjelaskan sejarah perjuangan Indonesia dalam membebaskan tanah airnya, termasuk Irian Barat. Ia juga menyebutkan pentingnya KAA dan Semangat Bandung dalam membela gerakan kemerdekaan nasional. Bahkan, ia menyinggung bahwa saat KAA belum sepenuhnya merdeka, tokoh-tokoh Ghana diundang ke Bandung. Di sana, Indonesia memainkan peran penting dalam mendukung gerakan-gerakan kemerdekaan di berbagai belahan dunia.
Pidato Yazid memiliki dampak besar dalam mengurangi dukungan negara-negara pengikut Ghana. Saat pemungutan suara berlangsung, para penyokong Ghana dan penentang Indonesia mundur teratur. Akhirnya, hasil Pepera diterima dengan 84 suara pro, kontra nihil, dan 30 suara abstain.
Semangat Bandung tetap menjadi kekuatan utama dalam diplomasi Indonesia. Momentum lain yang menunjukkan relevansi Semangat Bandung adalah menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok VI di Havana pada September 1979. Saat itu, diperlukan pemurnian kembali gerakan non-blok karena adanya upaya untuk menyimpangkannya. Semangat Bandung kembali digali dan dipelajari, sehingga sukses KTT Non-Blok di Havana bisa tercapai.
0 Komentar