Tiongkok dan Inggris Tanggapi Permintaan Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Tiongkok dan Inggris Tanggapi Permintaan Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Seruan Trump untuk Pengamanan Selat Hormuz Memicu Respons dari Berbagai Negara

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajak negara-negara besar untuk mengerahkan kapal perang guna menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang saat ini dikuasai oleh Iran. Seruan ini langsung memicu berbagai respons dari sejumlah negara, termasuk Tiongkok dan Inggris.

Trump sebelumnya menyampaikan harapan bahwa negara-negara seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Tiongkok akan mengirimkan kapal perang mereka untuk menjaga jalur pelayaran yang kini terancam akibat meningkatnya ketegangan dengan Iran. Namun hingga saat ini, baik Tiongkok maupun Inggris belum memberikan konfirmasi resmi mengenai rencana pengiriman kapal perang ke kawasan strategis tersebut.

Tiongkok Menyerukan Penghentian Konflik

Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington menolak memberikan kepastian apakah Beijing akan mengirimkan kapal perang ke kawasan Teluk sebagai respons atas seruan Trump. Dalam pernyataannya kepada CNN, pihak Tiongkok menekankan bahwa yang paling penting saat ini adalah menghentikan permusuhan secepat mungkin.

“Tiongkok menyerukan penghentian konflik segera. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi global tetap stabil dan tidak terganggu,” kata juru bicara tersebut.

Pemerintah Tiongkok juga menegaskan bahwa mereka akan terus berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara yang terlibat konflik, guna mendorong deeskalasi dan pemulihan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Sebagai salah satu importir minyak terbesar di dunia, stabilitas kawasan Teluk memiliki arti penting bagi perekonomian Tiongkok.

Tiongkok menekankan bahwa setiap pihak memikul tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi tetap stabil tanpa gangguan. “Sebagai teman tulus dan mitra strategis negara-negara Timur Tengah, China akan terus memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pihak yang berkonflik, untuk memainkan peran konstruktif bagi deeskalasi dan pemulihan perdamaian,” tegas pernyataan tersebut.

Inggris Diskusikan Opsi dengan Sekutu

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa pemerintah di London masih mendiskusikan berbagai opsi dengan sekutu dan mitra internasional untuk memastikan keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Seorang juru bicara kementerian mengatakan bahwa pembahasan mengenai kemungkinan langkah militer masih berlangsung dan belum ada keputusan final terkait pengerahan kapal perang ke Selat Hormuz.

Selat Hormuz: Jalur Energi Paling Vital di Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Ketegangan di wilayah ini meningkat tajam sejak konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Iran bahkan disebut-sebut telah membatasi lalu lintas kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel, langkah yang memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global. Para analis keamanan internasional memperingatkan bahwa jika jalur ini benar-benar ditutup secara penuh, harga minyak dunia bisa melonjak tajam dan berdampak langsung pada perekonomian global.

Di tengah ketidakpastian tersebut, dunia kini menanti apakah koalisi angkatan laut internasional benar-benar akan terbentuk untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan energi dunia.

Tanggapan dari Iran

Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai kebijakan Gedung Putih justru memperburuk situasi di kawasan. “Payung keamanan AS yang selama ini dibanggakan ternyata penuh lubang. Sekarang mereka bahkan meminta negara lain untuk membantu mengamankan Selat Hormuz,” tulisnya di platform X.

Ia juga menyerukan negara-negara di kawasan Teluk untuk menolak kehadiran militer asing, yang menurutnya hanya akan memperkeruh konflik. Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Islamic Revolutionary Guard Corps Aziz Reza Tangsiri mengejek permintaan Trump agar negara lain ikut mengirim pasukan. Menurutnya, Selat Hormuz saat ini masih berada di bawah kendali Iran, meski belum ditutup secara militer. Ia mengatakan hanya kapal AS dan Israel yang dihadang di Selat Hormuz sementara lainnya tidak.

0 Komentar