Kemenhaj Optimalkan Pelayanan Jemaah Haji dengan Strategi Inklusif dan Ramah Lansia
Sebanyak 77 persen atau 407 kloter jemaah haji asal Indonesia telah tiba di Tanah Suci dengan selamat. Di tengah ancaman cuaca ekstrem menjelang puncak wukuf di Armuzna, pemerintah menegaskan komitmen untuk memastikan layanan yang ramah bagi lansia, disabilitas, dan perempuan. Penyediaan layanan yang lebih inklusif juga dilakukan agar kelompok rentan yang berangkat tanpa pendamping tetap merasa nyaman seperti berada bersama keluarga sendiri.
Sekretaris Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Teguh Dwi Nugroho, bersama Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, membeberkan strategi perlindungan fisik dan pelayanan jemaah setibanya di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Rabu (13/05/2026).
Langkah Preventif untuk Menghadapi Cuaca Ekstrem

Langkah pertama yang ditegaskan oleh Kemenhaj adalah larangan mutlak untuk melakukan wisata ziarah atau city tour sebelum fase puncak haji selesai. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap cuaca Makkah yang saat ini sangat panas, mencapai kisaran 38 hingga 42 derajat Celsius. Teguh Dwi Nugroho meminta pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) untuk bersikap kooperatif.
"Kepada para jemaah haji, kami berpesan untuk menjaga kesehatan. Hindari melakukan aktivitas-aktivitas fisik yang menguras energi dan tenaga, karena bagaimanapun puncak haji masih beberapa hari lagi. Inti dari ibadah haji adalah Armuzna," tegas Teguh. Ia membenarkan bahwa city tour baru boleh dilakukan setelah seluruh rangkaian Armuzna tuntas.
Pelayanan Haji yang Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan

Dari total ratusan ribu jemaah yang telah mendarat, proporsi jemaah lansia dan disabilitas terus meningkat dari tahun ke tahun. Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, mengungkapkan bahwa demografi jemaah menuntut perubahan fundamental dalam cara petugas melayani.
"Secara statistik, lebih dari 54 persen jemaah haji kita adalah perempuan. Oleh karena itu, tahun ini Kemenhaj mengusung tema besar 'Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan'," urai Puji. Untuk merealisasikannya, Kemenhaj membentuk bidang khusus Pelayanan Lansia dan Disabilitas. Penyesuaian juga dilakukan pada komposisi petugas.
"Kita menugaskan petugas haji perempuan sebanyak-banyaknya. Jemaah perempuan pasti lebih nyaman jika dilayani oleh sesama perempuan. Itulah bagian dari keseriusan dan ikhtiar kita untuk memberikan pelayanan terbaik dan meningkatkan kemabruran jemaah haji Indonesia," tambahnya.
Petugas Sebagai Keluarga Pengganti

Banyaknya jemaah lansia dan disabilitas yang berangkat tanpa didampingi mahram (keluarga) sempat menimbulkan kekhawatiran. Namun, petugas difokuskan untuk menjadi "keluarga pengganti" yang mengawal jemaah dari turun pesawat, mendorong kursi roda, hingga masuk ke kamar hotel. Teguh menyebut, banyak jemaah yang merasa aman berkat ketangkasan petugas haji di lapangan.
Kinerja ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI, Deka Kurniawan, yang turut memantau di Jeddah. KND telah dilibatkan aktif sejak masa pelatihan petugas di asrama haji.
"Bagi kami sebagai lembaga negara, melihat praktik baik ini adalah sebuah hal yang sangat patut diapresiasi. Ini kelanjutan yang keren dari tahun-tahun sebelumnya," ungkap Deka. Ia menyoroti dedikasi para petugas dan jajaran Kemenhaj yang melihat tugas ini melebihi tuntutan profesional.
"Beliau-beliau menjadikan tugas ini bukan cuma sekadar tanggung jawab jabatan, tetapi ada aspek teologisnya. Meyakini bahwa dengan melayani penyandang disabilitas, lansia, dan perempuan, justru di situlah letak keberkahannya," puji Deka.
Skema Pergerakan Menuju Armuzna yang Matang

Dengan kolaborasi lintas sektor yang solid, jemaah haji gelombang kedua yang mendarat di Jeddah langsung diarahkan ke pemondokan di Makkah untuk umrah wajib. Bersamaan dengan itu, Kemenhaj terus meracik strategi presisi untuk skenario pergerakan ke Arafah.
"Kami akan segera menggelar rapat untuk memastikan secara detail pergerakan jemaah dari hotel ke Arafah, lanjut ke Muzdalifah, dan Mina dengan hitungan-hitungan yang lebih rigid (ketat)," pungkas Teguh, memastikan bahwa perlindungan fisik dan inklusivitas pelayanan akan terus dijaga hingga jemaah kembali ke Tanah Air.
0 Komentar