Kapal Perang Canggih Belanda Berlabuh di Surabaya, Kuatkan Maritim dan Ekonomi

Kedatangan Kapal Perang Belanda di Surabaya Menguatkan Hubungan Bilateral

Di Jalan Tanjung Perak Timur Terminal Jamrud Pelabuhan Tanjung Perak, suasana hangat terasa saat kapal perang asing kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, Indonesia kedatangan tamu istimewa dari negeri kincir angin, yaitu HNLMS De Ruyter, kapal komando pertahanan udara milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Kapal tersebut bersandar di Kota Pahlawan dalam rangka kunjungan persahabatan sekaligus memperkuat hubungan kerja sama maritim dengan Indonesia. Tribun Jatim Network menjadi salah satu pihak yang mendapatkan kesempatan untuk ikut menaiki kapal perang buatan negara Belanda itu. Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda diplomatik biasa, tetapi juga simbol eratnya hubungan bilateral Indonesia dan Belanda, khususnya dengan Surabaya sebagai salah satu kota pelabuhan strategis di Indonesia.

Kapten HNLMS De Ruyter Menjelaskan Tujuan Kunjungan

Kapten HNLMS De Ruyter, Rodger de Wit, menjelaskan bahwa keberadaan kapal perang Belanda di kawasan Asia Pasifik berkaitan erat dengan pentingnya menjaga stabilitas keamanan laut internasional dan kebebasan navigasi. Ia menyinggung tentang United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menjadi dasar aturan internasional mengenai tata kelola laut dunia.

“UNCLOS pada dasarnya mengatur bagaimana kami beroperasi di seluruh dunia, terutama di laut terbuka. Di dalamnya terdapat aturan mengenai wilayah perairan, kebebasan navigasi, dan prinsip-prinsip dasar di lautan,” kata Rodger de Wit saat ditemui pada Kamis (14/5/2026).

Menurut dia, Indonesia memiliki posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik karena merupakan negara kepulauan besar yang berada di jalur pelayaran internasional penting. Karena itu, Belanda memandang Indonesia sebagai mitra utama yang perlu terus diperkuat hubungan kerjasamanya.

“Kami datang untuk memperkuat hubungan antarnegara di kawasan ini. Indonesia adalah salah satu mitra penting. Kami juga ingin mempromosikan kebebasan navigasi yang saya pahami menjadi salah satu prinsip dasar bagi Indonesia,” ujarnya.

Keunggulan HNLMS De Ruyter

Dalam kesempatan itu, Rodger de Wit juga memaparkan kemampuan utama HNLMS De Ruyter. Kapal tersebut merupakan kapal komando pertahanan udara milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang dibangun pada 2003. HNLMS De Ruyter merupakan satu dari empat kapal sejenis yang dimiliki Belanda. Fungsi utamanya adalah memberikan perlindungan udara bagi gugus tugas angkatan laut dari berbagai ancaman, termasuk serangan udara dan rudal.

“Pada dasarnya kami adalah kapal pertahanan udara. Kami dapat melakukan berbagai jenis pertahanan udara, termasuk perlindungan terhadap gugus tugas kapal perang lainnya,” jelasnya.

Keunggulan lain kapal ini terletak pada sistem radar SMART-L berukuran besar yang terpasang di bagian atas kapal. Radar tersebut disebut mampu mendeteksi ancaman rudal balistik dari jarak sangat jauh.

“Hal yang spesial dari kapal ini adalah radar SMART-L. Kami juga memiliki kemampuan ballistic missile defense sehingga bisa mendeteksi rudal balistik dari jarak yang sangat jauh,” ungkap de Wit.

Selain itu, HNLMS De Ruyter juga berfungsi sebagai kapal komando internasional yang mampu menampung staf gabungan multinasional untuk memimpin operasi laut bersama.

Harapan Kerja Sama Berkelanjutan

Selama berada di Surabaya, HNLMS De Ruyter dijadwalkan menjalani sejumlah agenda, termasuk latihan bersama TNI Angkatan Laut sebelum kembali berlayar pada Sabtu mendatang. Sebanyak 220 awak kapal juga diberi kesempatan untuk menikmati suasana Kota Surabaya, mengenal budaya lokal, hingga mencicipi kuliner khas Indonesia.

Rodger de Wit mengatakan hubungan budaya antara masyarakat Indonesia dan Belanda juga menjadi salah satu alasan penting dalam kunjungan tersebut.

“Kami berharap awak kapal bisa menjelajahi Surabaya, belajar tentang tradisi dan budaya lokal, termasuk menikmati kuliner di sini,” ujarnya.

Simbol Kuat Hubungan Indonesia-Belanda

Sementara itu Honorary Consulate Belanda cabang Surabaya, Lily Jessica Tjokrosetio, mengatakan kedatangan HNLMS De Ruyter menjadi simbol kuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda yang telah terjalin sejak lama. Menurut dia, kunjungan kapal perang Belanda ke Indonesia sebenarnya telah berlangsung secara berkala. Dua tahun lalu, kapal perang Belanda juga sempat berkunjung ke Indonesia dan bersandar di Jakarta.

“Kedatangan kapal ini memberi simbolisasi yang sangat kuat untuk hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda, spesifiknya untuk Surabaya,” kata Lily Jessica Tjokrosetio.

Ia menjelaskan, Angkatan Laut Belanda berupaya menjadikan kunjungan seperti ini sebagai agenda rutin setiap dua tahun sekali. Dalam satu perjalanan operasi, kapal perang Belanda biasanya melakukan tur selama sekitar lima setengah bulan ke berbagai negara.

Indonesia hampir selalu masuk dalam daftar kunjungan karena hubungan kedua negara dinilai sangat dekat, baik dari sisi sejarah, diplomasi, maupun kerja sama maritim.

“Biasanya mereka tur hampir setengah tahun, sekitar lima setengah bulan, dan Indonesia selalu masuk dalam rute karena hubungan Belanda dan Indonesia memang sangat dekat,” ujarnya.

Lily menambahkan, Surabaya dipilih sebagai lokasi sandar karena memiliki posisi penting sebagai kota terbesar kedua di Indonesia sekaligus pelabuhan terbesar kedua setelah Jakarta.

Menurut dia, pemilihan Surabaya juga memberi pengalaman berbeda bagi para awak kapal Belanda dibandingkan jika hanya berkunjung ke Jakarta.

“Surabaya dipilih karena merupakan kota terbesar kedua dan juga memiliki pelabuhan terbesar kedua di Indonesia. Jadi tim yang berada di sini bisa merasakan pengalaman yang berbeda dibandingkan di Jakarta,” katanya.

Dorong Kerja Sama Ekonomi dan Industri

Selain hubungan diplomatik dan pertahanan, kunjungan kapal perang Belanda juga menjadi momentum memperkuat kerja sama ekonomi antara kedua negara, khususnya di Jawa Timur. Kepala Netherlands Business Support Office (NBSO) untuk Indonesia, Mario, mengatakan pihaknya memiliki tugas membantu perusahaan-perusahaan Belanda yang ingin berbisnis dan berinvestasi di Surabaya serta wilayah Indonesia bagian timur.

Menurut dia, Surabaya memiliki posisi strategis sebagai ibu kota Jawa Timur sekaligus pintu gerbang ekonomi menuju kawasan timur Indonesia.

“Saya lebih membantu perusahaan Belanda berbisnis di Surabaya. Jawa Timur ini kan gateway untuk Indonesia bagian timur,” ujar Mario.

Ia menjelaskan, ada sejumlah sektor yang menjadi fokus kerja sama antara Belanda dan Indonesia, salah satunya sektor maritim. Surabaya yang dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat industri galangan kapal dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan bisnis dan teknologi maritim.

“Kalau di sektor maritim, Surabaya terkenal dengan shipyard dan industri kapal. Ada beberapa kerja sama dengan perusahaan-perusahaan di bidang tersebut,” katanya.

Mario menyebut beberapa perusahaan Belanda juga terlibat dalam penyediaan teknologi dan komponen untuk kapal, termasuk kapal selam.

“Ada perusahaan Belanda yang produknya digunakan di instalasi kapal, termasuk di kapal bawah air atau submarine,” ujarnya.

Tak hanya sektor maritim, Belanda juga aktif menjajaki peluang kerja sama di berbagai bidang lain seperti pertanian, pengelolaan limbah, kesehatan, hingga teknologi air.

Menurut Mario, Belanda memiliki banyak teknologi yang berpotensi diterapkan di Indonesia, sementara pihak NBSO bertugas menjembatani kebutuhan bisnis kedua negara.

“Kami membantu mencarikan distributor atau agen supaya hubungan bilateral dan perdagangan antara dua negara bisa meningkat,” katanya.

Investasi Belanda Dinilai Terus Bertumbuh

Mario menilai kerja sama ekonomi Indonesia dan Belanda terus berkembang dari tahun ke tahun. Meski tidak menyebut angka pasti, ia mengatakan terdapat sejumlah perusahaan Belanda yang terus melakukan ekspansi investasi di Indonesia.

“Ada beberapa investasi baru dan perusahaan Belanda yang memperluas bisnisnya di sini,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu sektor yang paling banyak diisi perusahaan Belanda adalah sektor agroindustri dan peternakan, termasuk industri pakan ternak.

Selain itu, terdapat pula perusahaan Belanda yang telah lama beroperasi di Indonesia, bahkan mencapai puluhan tahun.

“Ada perusahaan Belanda yang sudah lebih dari 90 tahun di Indonesia dan memproduksi minuman maupun produk lainnya,” katanya.

Di sektor produk susu atau dairy product, Mario juga menyebut beberapa perusahaan Belanda masih aktif memperbesar kapasitas produksinya di Indonesia.

“Mereka melakukan ekspansi supaya produksinya lebih besar dan bisa memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat,” ujarnya.

0 Komentar