
Pengalaman Menyedihkan Nelayan Karimun yang Terdampar di Perairan Malaysia
Tengku Iskandi, seorang nelayan asal Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), masih mengingat dengan jelas bagaimana ia bertahan hidup selama 4 hari di tengah laut hingga akhirnya tiba di perairan Batu Pahat, Johor, Malaysia. Pria berusia 35 tahun ini sudah melaut sejak SMP dan memiliki pengalaman luas dalam menjalani kehidupan di laut.
Iskandi tidak sendirian dalam pengalaman tersebut. Ada Haidir, awak kapal lainnya, yang juga terbawa arus hingga perairan Malaysia karena kapal yang mereka gunakan mengalami kerusakan mesin. Saat itu, mereka sedang melaut untuk menjaring ikan pada Kamis (7/5/2026) sekira pukul 17.00 WIB. Mereka tiba di tempat biasa menjaring ikan sekira pukul 11.00 WIB.
Awalnya, semua tampak normal. Namun, Iskandi mulai curiga ketika mesin kapal membutuhkan waktu lama untuk menyala. Setelah beberapa kali mencoba menyalakan dan memperbaiki mesin, mereka akhirnya memutuskan untuk menurunkan jangkar. Sayangnya, jangkar mereka tidak sampai dasar laut. Akibatnya, mereka terbawa arus hingga ke perairan Malaysia.
Situasi semakin sulit karena di antara mereka tidak membawa ponsel. Selain itu, kondisi angin kencang dan hujan deras sempat mereka alami di perairan yang sering dilintasi kapal tanker. Mereka berusaha meminta pertolongan setiap kali melihat kapal yang melintas, tetapi sayangnya tidak ada yang memberi bantuan.
Perbekalan yang mereka bawa hanya cukup untuk melaut hari itu saja. Setelah berlabuh di pagi hari, mereka melihat air yang tersisa hanya cukup untuk satu kali masak nasi. Sesudah itu, air habis sepenuhnya. Mereka mencoba melambai dan meminta tolong kepada orang-orang, tetapi tidak ada yang merespons.
Waktu terus berlalu hingga memasuki hari keempat. Mereka sama sekali tidak memiliki makanan atau minuman. Upaya meminta pertolongan terus dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Iskandi bahkan sempat mengonsumsi air laut karena tak tahan lagi dengan haus. Namun, hal itu justru membuat tenggorokannya semakin kering dan membuatnya tidak bisa minum air laut lagi.
Akhirnya, harapan datang. Satu unit kapal nelayan Malaysia menolong mereka. Saat itu, posisi mereka sudah berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Iskandi memberanikan diri untuk meminta air kepada orang di dalam kapal tersebut. Orang-orang di kapal nelayan Malaysia sangat iba setelah mengetahui kondisi mereka. Mereka kemudian memberi air minum dan roti.
Di situ, Iskandi memberi nomor Abangnya. Ia meminta tolong agar informasi bahwa mereka masih selamat disampaikan. Mereka juga meminta agar Abangnya menjemput mereka di lokasi tersebut.
Pada Minggu, 10 Mei 2025 sekira pukul 5 sore waktu setempat, orang yang menolong Iskandi dan Haidir menghubungi Abang Tengku Iskandi. Hingga dini hari, Abang Tengku Iskandi menjemput mereka berdua. Perasaan cemas selama empat hari itu berakhir setelah Tengku Iskandi melihat langsung Sang kakak hingga tiba di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.
Setelah dijemput, posisi mereka sudah setengah jalan. Mereka melakukan perjalanan selama empat jam, tetapi cuaca tidak baik. Kondisi Iskandi masih lemah, sehingga ia disuruh pulang lebih awal. Sementara Abangnya menjaga pompong yang rusak sambil menunggu jemputan berikutnya.
Hingga pukul 3 dini hari, Iskandi diantar oleh Babinsa setempat sampai ke Kabupaten Karimun. Ia tidak langsung dibawa ke rumah, melainkan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis. Iskandi mengaku kondisinya saat itu benar-benar lemah. Ia bahkan tidak mampu berdiri lagi.
Namun, tekadnya yang kuat untuk terus bertahan hidup dan pulang memberinya kekuatan.
0 Komentar