Pameran tersebut merupakan rangkuman proses artistik yang lahir dari perjalanan, percakapan, dan pengalaman tinggal bersama masyarakat adat di Desa Tambak Ukir, Kecamatan Kendit, Arjasa, hingga Pariopo, Kecamatan Asembagus. Dalam proses tersebut, para seniman mendokumentasikan berbagai cerita yang diwariskan para tetua serta merekam beragam bunyi yang selama ini hadir dalam kehidupan masyarakat namun kian tersisih oleh hiruk-pikuk teknologi modern.
Melalui pendekatan yang menggabungkan seni rupa, bunyi, instalasi, kriya, film dokumenter, hingga pertunjukan musik, para seniman berupaya menerjemahkan kembali pengalaman mereka selama menjalani residensi budaya di Situbondo.
Menurut tim penyelenggara, pengalaman tinggal bersama masyarakat adat membuka kesadaran baru tentang perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat saat ini. Banyak tradisi dan kebudayaan yang perlahan bergeser dari praktik keseharian menjadi sekadar simbol atau pajangan yang ditampilkan pada momen-momen tertentu.
Mereka menilai, di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, masyarakat modern semakin mudah mengenali suara notifikasi dari gawai dibandingkan suara alam di lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Fenomena tersebut menjadi salah satu titik refleksi yang diangkat dalam pameran ini.
“Asapok Ombhâ’ Apajung Langngi’” sendiri memiliki makna yang sarat filosofi. Kata “Ombhâ’” menggambarkan perjalanan, perubahan, sekaligus ketidakpastian yang terus hadir dalam kehidupan manusia. Sementara langit dimaknai sebagai harapan yang luas dan tidak pernah sepenuhnya dapat dimiliki.
Melalui tema tersebut, pameran berusaha menggambarkan posisi manusia yang hidup di antara perubahan dan harapan. Dalam situasi yang terus bergerak dan berubah, manusia diajak untuk belajar bertahan, mendengar, serta menjaga ruang-ruang ingatan yang menjadi bagian dari identitas budaya.
Pengunjung nantinya dapat menikmati berbagai karya yang lahir dari program bertajuk “Ekspedisi Bunyi”, sebuah proses pencatatan dan pengarsipan suara-suara yang ditemukan selama perjalanan para seniman. Tidak hanya menampilkan karya visual, pameran ini juga menghadirkan pengalaman multisensori melalui instalasi bunyi, dokumentasi perjalanan, serta pertunjukan musik yang terinspirasi dari lingkungan dan budaya lokal.
Berbeda dengan pameran seni yang hanya berfokus pada aspek visual, “Asapok Ombhâ’ Apajung Langngi’” berupaya menghadirkan ruang dialog antara masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan. Berbagai karya yang ditampilkan mengajak pengunjung untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan lingkungan, tradisi, serta memori kolektif yang selama ini membentuk kehidupan masyarakat.
Penyelenggara menegaskan bahwa pameran ini bukanlah ajakan untuk kembali ke masa lalu secara romantis. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi agar cerita, bunyi, dan ingatan dapat kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berharap kebudayaan tidak hanya muncul dalam festival atau acara seremonial, tetapi tetap hidup dan diwariskan secara berkelanjutan.
Kehadiran pameran ini juga diharapkan menjadi ruang singgah bagi masyarakat untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang serba cepat. Melalui karya-karya yang ditampilkan, pengunjung diajak mendengar kembali suara-suara yang selama ini luput dari perhatian sekaligus membuka ruang imajinasi baru di tengah dunia yang terus bergerak dan berubah.
Dengan mengangkat kekayaan budaya lokal Situbondo melalui pendekatan seni kontemporer, Nusantara Rhythm Exhibition diharapkan dapat menjadi salah satu wadah yang mempertemukan masyarakat, seniman, dan kebudayaan dalam ruang yang lebih dekat, hidup, dan bermakna. (*)
1 Komentar
Keren banget, Bang Ali 😍💪
BalasHapus