Kehadiran Jemaah Haji Mandiri di Makkah

Di tengah ribuan jemaah yang sedang menjalani ibadah haji, ada satu kelompok yang memilih jalur mandiri tanpa bergabung dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Salah satunya adalah Moh Kamil, seorang pemuda asal Sumenep, Jawa Timur. Di usianya yang belum genap 30 tahun, ia juga menjadi ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SUB 77.
Keputusan untuk berhaji secara mandiri bukanlah keputusan mudah. Sebelum berangkat, Kamil memperkuat pemahaman manasik dengan belajar kembali kepada guru-gurunya di pesantren. Meski tidak mondok penuh, ia rutin mengikuti pengajian dan madrasah diniyah di kampung halamannya. Bekal tersebut kini digunakannya untuk membantu jemaah lain memahami alur ibadah haji.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah perbedaan kemampuan jemaah dalam menerima informasi, terutama para lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi. Untuk mengatasi hal ini, Kamil dan timnya membuat video-video sederhana yang dibuat menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura. Isinya praktis, mulai dari cara menggunakan lift hotel, menyiapkan koper, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, hingga penggunaan fasilitas selama berada di Arab Saudi.
Cara sederhana itu terbukti membantu para jemaah lansia lebih cepat memahami situasi. Kamil mengatakan sebagian jemaah masih kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat maupun melakukan panggilan video. Oleh karena itu, mereka mencari cara yang paling mudah dipahami.
Di rombongan yang sama, Suwaris Bahir juga merasa mantap memilih jalur haji mandiri sejak awal. Pria yang bekerja di sektor perikanan itu mengaku tidak pernah benar-benar khawatir menjalani ibadah haji tanpa KBIHU. Menurutnya, manasik yang diberikan pemerintah sudah cukup detail untuk menjadi bekal ibadah.
Ia mengikuti manasik berkali-kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Dari situ, ia merasa jemaah awam seperti dirinya benar-benar diarahkan secara bertahap. Selain itu, petugas kloter juga dinilai aktif mendampingi jemaah selama berada di Tanah Suci.
“Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” katanya. Ia mengaku lebih nyaman menjalani ibadah secara mandiri karena tidak terlalu terikat aturan tambahan. Selain lebih fleksibel, jalur mandiri juga dianggap lebih ringan dari sisi biaya.
Cerita Lain dari Jemaah Mandiri
Cerita lain datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad, dosen asal Sumenep yang berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Porsi haji keluarga yang awalnya bukan untuk dirinya dilimpahkan setelah sang ayah wafat. Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang menderita stroke, Nurhayati tetap mempersiapkan diri secara perlahan.
Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa dan taman kota untuk melatih stamina sebelum berangkat ke Tanah Suci. “Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tertawa kecil. Selain menjaga kondisi fisik, ia juga aktif belajar melalui media sosial dan grup jemaah.
Menurutnya, informasi digital sangat membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru di Arab Saudi. Namun yang paling berkesan baginya justru suasana kebersamaan antarjemaah. Pada malam hari, ia kerap membantu anggota rombongan lain mengisi identitas atau membaca dokumen perjalanan. “Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.
Pendekatan Khusus untuk Jemaah Mandiri
Kekompakan jemaah mandiri Kloter SUB 77, menurut Ketua Kloter SUB 77 Asnawi, memang dibangun sejak jauh hari. Ia menyadari mendampingi jemaah tanpa KBIHU membutuhkan pendekatan yang berbeda, apalagi lebih dari separuh anggota kloter merupakan lansia.
“Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” katanya. Karena itu, sebelum keberangkatan, petugas kloter terlebih dahulu membangun kekompakan internal. Setelah itu, para ketua regu dan ketua rombongan dikumpulkan untuk menyamakan pemahaman.
Asnawi menanamkan satu gagasan sederhana, yakni setiap ketua rombongan adalah “kiai” bagi kelompoknya masing-masing. “Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diperkuat melalui kunjungan rutin ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan. Petugas datang langsung memberikan penjelasan tambahan, membantu simulasi manasik, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan para jemaah.
Hasilnya mulai terlihat setibanya mereka di Makkah. Para jemaah dinilai lebih tertib dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
0 Komentar