
PEKANBARU – Provinsi Riau masih mengandalkan pasokan pangan dari wilayah lain seperti Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Untuk menjawab tantangan ini, Riezka Rahmatiana, pemilik PT Rukun Raya, memulai langkah nyata dengan mengembangkan lahan tidur menjadi lahan produktif di berbagai wilayah Riau.
Riezka turun langsung ke Riau pada Jumat (15/5/2026) untuk melaksanakan program yang merupakan hasil kerja sama antara PT Rukun Raya dengan masyarakat setempat, didukung oleh fasilitasi pemerintah daerah. Lahan tidur yang dimaksud adalah areal tanah potensial yang selama ini tidak dimanfaatkan dan dibiarkan terlantar.
“Kita akan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif. Hasilnya diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat Riau sekaligus memperkuat ketahanan pangan,” ujar Riezka, Sabtu (16/5/2026).
Sebagai pengusaha asal Bandung yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Wilayah Jawa Barat, Riezka menyatakan bahwa program ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan ekonomi daerah.
Menurut Riezka, sekitar 85 persen kebutuhan pangan Riau masih dipasok dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Padahal, Riau memiliki potensi besar dari sektor perkebunan kelapa sawit.
“Namun belanja pangannya masih banyak ke luar daerah. Ini sangat disayangkan,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat perputaran ekonomi daerah banyak keluar, sementara sektor pertanian lokal belum dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, pihaknya mendorong penguatan pertanian berbasis klaster komoditas di setiap wilayah.
“Nantinya akan ada wilayah khusus buah-buahan, wilayah sayuran, dan wilayah persawahan,” jelasnya.
Konsep tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pertanian, menciptakan spesialisasi antarwilayah, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan di Riau.
Untuk mendukung program tersebut, Riezka menyiapkan empat skema utama yang dirancang agar memberi keuntungan bagi petani lokal. Berikut penjelasannya:
-
Program pertama adalah penyediaan bibit unggul melalui PT Kahuripan Niaga. Bibit yang disiapkan merupakan komoditas dengan permintaan pasar tinggi seperti pisang, cabai, timun, jagung, kacang panjang, dan bawang merah.
“Kami akan menyediakan bibit unggul untuk komoditas yang memiliki permintaan pasar tinggi,” ujarnya. -
Skema kedua yakni penyediaan pupuk murah berbasis organik dengan kualitas yang tetap terjaga.
“Kita siapkan pupuk dengan biaya rendah, tetapi tetap memberikan hasil maksimal,” katanya. -
Program ketiga berupa pendampingan petani oleh tenaga lokal yang telah dibekali pengetahuan pertanian.
“Kami akan membina masyarakat setempat untuk menjadi pendamping petani, sehingga proses budidaya berjalan lebih optimal,” jelasnya. -
Program keempat sekaligus yang dinilai paling penting adalah PT Rukun Raya bertindak sebagai offtaker atau pembeli hasil panen petani.
“Ini yang paling penting, yaitu adanya jaminan pembelian hasil panen. Dengan begitu, petani bisa lebih tenang dalam berusaha,” tegas Riezka.
Lahan yang akan dimanfaatkan dalam program ini berasal dari tanah milik masyarakat yang tidak produktif, termasuk bekas lahan perkebunan sawit yang sudah tidak digunakan lagi.
Saat ini, pihaknya telah menjajaki kerja sama di empat kabupaten di Riau, yakni Kuantan Singingi (Kuansing), Pelalawan, Indragiri Hulu (Inhu), dan Kampar.
Beberapa daerah bahkan diwakili langsung oleh kepala daerah masing-masing, seperti Bupati Kuansing Suhardiman Amby dan Bupati Pelalawan Zukri. Sementara Kabupaten Inhu diwakili Sekretaris Daerah Zulfahmi Adrian dan Kampar melalui Kepala Dinas Pertanian Nur Ilah Ali.
“Kita tentu menyambut baik program ini. Apalagi untuk memperkuat ketahanan pangan yang juga menjadi program Presiden Prabowo Subianto,” ujar Zulfahmi Adrian.
0 Komentar